Tuesday, June 5, 2018

Dakwah itu Cinta


Oleh : Fitriani S.Pd


Dakwah? Temans pernah dengar kata yang terdiri dari 6 huruf ini?


Kalaupun iya, pasti langsung membayangkan seorang ustadz atau ustadzah yang berdiri didepan podium, trus nyampein tentang agama. Iya kan? Atau biasa dilakukan sama mereka yang dari spesialis keagamaan, eh kaya dokter saja pake kata spesialis-spesialis segala.


Terus terus kalau ada pertanyaan "kamu mau nda jadi seorang pengemban dakwah? What?? Ogah bangets deh. Saya masih muda. Yang suka ceramah pan mereka-mereka yang sudah tua. Terlebih saya bukan dijurusan spesialis agama kaya mereka-mereka. Iam english department temans atau saya dari kesehatan, bukan tarbiyah atau PAI (Pendidikan Agama Islam).. jauh jauh deh”


Wish wish wish. Ada ya temans jawaban kek diatas kita jumpai, bahkan sering malah.


Pertanyaannya kemudian adalah, apakah dakwah hanya bisa diemban oleh mereka yang berstatus ustadz dan ustadzah? Apakah kewajiban dakwah hanya dipikul oleh mereka yang dari jurusan keagamaan saja?


Okay, coba kita simak Sabda Nabi Saw: Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata,


“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)


Temans dari hadis diatas kita bisa simpulkan bahwa upaya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran alias dakwah bukan cuman kewajiban individu tertentu saja, tetapi kewajiban setiap muslim, laki-laki atau perempuan, alim atau awam sesuai dengan kemampuan dan ilmunya.


Indikasinya bisa dilihat dalam hadits riwayat Muslim di atas tadi memakai frase “man” yang artinya “barang siapa”, atau “siapa saja”, tidak ada genre menunjuk khusus pada gender (laki-perempuan, usia, muda-tua), profesi, dst.


Udah mudeng kan temans kalau mengajak kebaikans alias beramar ma'ruf nahi mungkar itu adalah kewajiban bagi setiap muslim secara keseluruhan, not just for spesialis keagamaan saja.


Karena eh karena, kita diperintahkan untuk care sama sama sesama. Karena dakwah adalah cinta. Cinta terhadap saudara seakidah. Yang namanya cinta pan kudu dilindungin. Apalagi dampak buruknya tidak hanya untuk mereka yang ingkar tapi merata kepada semuanya, hanya karena kemungkaran atau kemaksiatan yang dilakukan oleh-oleh individu-individu tersebut.


Coba simak firman Allah dalam QS Al-Anfal : 25, Allah swt berfirman: ”Dan peliharalah diri kalian dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”


Ayat diatas menegaskan kalo kemunkaran yang merajalela bukan hanya akan berakibat buruk kepada para pelakunya saja, tetapi juga keseluruhan masyarakat. Ketika nggak ada usaha untuk melakukan pengubahan kemunkaran dalam sebuah masyarakat, maka Allah nggak akan meng-adzab secara khusus para pelaku kemunkaran dalam masyarakat tersebut, tetapi Allah akan menurunkan adzab-Nya secara merata.


Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga pernah memberikan sebuah ilustrasi tentang pentingnya dakwah alias mengubah kemunkaran yang kita lihat dalam sebuah masyarakat. Beliau mengumpamakan sebuah masyarakat sebagai sebuah kapal beserta para penumpangnya.


Suatu ketika, beberapa orang yang berada di geladak dasar kapal hendak melubangi kapal untuk bisa mengambil air laut tanpa harus susah-susah naik ke geladak atas. Jika seisi kapal membiarkan tindakan ini, pasti kapal tersebut akan karam. Bukan hanya beberapa orang yang melubangi kapal saja yang akan tenggelam, tetapi semuanya akan ikut tenggelam. Tetapi jika rencana melubangi kapal itu dicegah, akan selamatlah seluruh penumpangnya. Demikianlah kira-kira pemisalan bagi kemunkaran dalam sebuah masyarakat (lihat hadits An-Nu’man bin Basyir yang dikenal dengan Hadits As-Safinah ’Hadits Kapal’ riwayat Al-Bukhari).


Olehnya itu, kita harusnya selain hidup sebagai seorang muslim, kita juga hidup sebagai bagian dari masyarakat. 



Bernafaskan “KITA” Beraromakan “Kebermanfaatan”


Yap judul diatas kudu melekat pada diri kita temans. Why? Karena, Rasulullah Saw sudah mengingatkan:


“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Thabarani, Daruqutni)


“Barangsiapa bangun di waktu subuh (pagi), tidak memikirkan masalah kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan kaum muslimin” (HR. Ahmad)


Maksud dari bernafaskan ‘KITA’ adalah saatnya kita tidak hanya berpikir nafsi-nafsi, saatnya meninggalkan sikap dan sifat cuek. Selain sifat itu merugikan, ternyata (seperti disinggung hadits di atas) sifat itu dilarang. Stop berpikir “dia bukan urusan gue, terserah loe mau apa?”, sebab pemikiran kayak gitu cuman melahirkan manusia-manusia individualis, ciri dari masyarakat kapitalis kita sekarang ini. Dan sadar atau nggak, masyarakat individualis, bertentangan secara diametrikal dengan karakter kaum muslimin. 


Sementara itu, maksud dari yang beraroma ‘kebermanfaatan’ adalah keberadaan kita di tengah masyarakat, jangan malah bikin ulah bin masalah, tapi justru keberadaan kita harus memberi energi positif. Karena hari gini bikin masalah? Ah, udah lewat tuh.


Saatnya kita berpikir temans untuk menggandeng tangan saudara kita yang lain untuk berbuat al-khair (kebaikan). Karena Allah sendiri telah perintahkan itu.


“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al Maidah 2)


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar” (QS. Ali Imron 104).


Dari dua rumus sederhana di atas (Kita dan Kebermanfaatan), kemudian terformulasi dalam aktivitas yang disebut dengan dakwah.


Ya, dakwah selain sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang muslim, dakwah juga merupakan kebutuhan kita semua, nggak bisa dibayangin kalo hidup tanpa dakwah amar ma’ruf nahyi munkar, maka kehidupan ini akan cepat mengalami kerusakan. 


Dakwah jualah sebagai bukti kepedulian kita terhadap sesama, karena di dalam dakwah ada aktivitas saling menasehati dalam kebaikan. Maka jika menginginkan kebaikan di masa datang, maka dakwah adalah jalan yang harus kita agendakan. 


Tentu disini temans bukan dakwah yang sembarang dakwah yakss. Bukan dakwah yang cuman bermodalkan semangat. Tapi dakwah yang meneropong dakwah Rasulullah Saw ketika beliau membangkitkan masyarakat saat itu. 


Beliau berdakwah secara fikriyah alias berdakwah secara pemikiran, menyerang pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seraya menyodorkan pemikiran-pemikiran Islam.

 

Mulai dari akidah, muamalah, syariah, akhlak, hingga daulah (negara). Dakwah tersebut dilakukan tanpa kekerasan, meskipun untuk mendakwahkannya butuh kegigihan, kesabaran. 


Saudara-saudara kita yang lain sudah ada yang berani memulai untuk memilih berkomitmen memperjuangkan Islam dan syariahnya, maka kita hanya tinggal menyusulkan diri di barisan berikutnya. Sebab, pilihan hidup bersama kapitalisme-sekularisme, seperti saat sekarang ini, tak kunjung menyudahi masalah kita dan masalah-masalah lainnya. Pilihan yang terbaik jika menginginkan masa depan yang lebih baik adalah hanya dengan Islam.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!