Thursday, June 7, 2018

* BUKAN Ngalor-ngidul (60) 



Radikal

.

Oleh Asri Supatmiati

(Jurnalis)

.

.

Tujuh kampus elit terpapar ide radikal, kata Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Semuanya kampus ternama. UI, ITB, IPB, Undip, ITS, Unair, dan Unibraw. Di antara PTN-PTN itu, bahkan kini sedang menuju status The World Class University. Kok bisa?

.

.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): radikal bisa diartikan (1) secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). (2) Amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). (3) Maju dalam berpikir atau bertindak. Jadi, radikalisme dimaknai (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem dalam aliran politik.

.

.

Merujuk pada opini yang dipropagandakan, tampaknya radikal/radikalisme lebih dimaknai politik, yakni sikap ekstrim yang menuntut perubahan secara drastis. Artinya, kalau ada warga kampus yang nyaring menuntut perubahan, lalu digebyah uyah (digeneralisir, red) sebagai radikal. 

.

.

Almamater saya termasuk salah satunya. Apakah karena kemampuannya mengubah pola pikir mahasiswa secara mendasar? Bukankah itu baik? Pertanda keberhasilan proses pendidikan. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari awam menjadi paham. Dari pemula menjadi pakar. Dari stagnan menuju perubahan. Bukankah kampus terkenal sebagai agen perubahan (agent of change)? Salahnya di mana?

.

.

Tampaknya, kesalahannya satu: karena perubahannya ke arah Islam (kalau berubahnya ke arah liberal, aman). Pasalnya, narasi yang dipropagandakan adalah: Islam itu yang moderat. Toleran. Ngikut arus saja. Jangan ekstrim. Jadi, kalau ada warga kampus yang antipacaran, itu sudah termasuk melawan arus. Antiriba, itu terlampau ekstrim. Antikorupsi, antijual aset negara, antipornografi, antineoliberalisme, itu ekstrim. Bergamis, berjenggot, berkoar-koar soal ajaran Islam di medsos, itu radikal. 

.

.

Ini paradoks. Sebab, mekarnya keislaman di kampus-kampus, justru telah melahirkan mahasiswa-mahasiswa agent of change. Pelaku perubahan di masyarakat. Bukan sembarang berubah, tapi dari buruk ke baik. Mahasiswa yang tak hanya mengejar ijazah, tapi lebih memilih ijab sah #eh. Maksudnya, membersihkan diri dari debu-debu maksiat. Contohnya, mending nikah daripada pacaran. Mahasiswa yang tak hanya memikirkan diri sendiri, juga peduli umat.

.

.

Boleh diuji, warga kampus yang tersentuh Islam, dijamin lebih kritis terhadap kondisi sosial-politik bangsa. Memiliki jiwa bergelora, tidak melempem atas persoalan-persoalan keumatan. Dibanding mahasiswa yang oritensinya belajar dan mengejar ijazah saja, misalnya. Boleh dicari, aktivis kerohanian lebih suka duduk di diskusi keumatan, dibanding bertepuk tangan di talk show lawakan.  

.

.

Jadi, label radikal bagi PTN ini memang membidik aktivis Islam. Baik mahasiswa, dosen maupun stafnya. Ini akan menimbulkan keresahan. Antarcivitas akan saling curiga. Saling su'udhon, siapa yang radikal di antara mereka. Kegiatan rohis diawasi. Aktivis Islam dicurigai. Ini teror namanya. Kampus jadi kehilangan hak akademinya sebagai institusi pendidikan yang cenderung “bebas” mengekspresikan keilmuan, termasuk keagamaan para civitas akademinya. 

.

.

Padahal, yang lebih bahaya adalah paham liberal. Tapi, mengapa tak ada labelisasi untuk kampus-kampus yang terinveksi paham liberal? Padahal liberalnya makin radikal (baca: ekstrim). Paham yang menyesatkan. Tak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Juga, bertentangan dengan agama (Islam). 

.

.

Ajaran liberal inilah yang membahayakan aqidah, mengancam eksistensi manusia, memicu perpecahan dan membahayakan NKRI. Ada mahasiswa menggorok pacarnya, apakah dari aktivis kerohanian Islam? Bukan. Karena, pacaran itu ajaran ideologi liberal, bukan Islam. Ada mahasiswi bervideo mesum dan viral, apakah karena belajar Islam? Bukan. Kepornoan ini yang mengajarkan ideologi liberal, bukan di kajian Islam. 

.

.

Demikian pula, di kampus-kampus belakangan ini kerap diadakan diskusi-diskusi tentang “kaum you know who.” Bukankah ini ajaran radikal yang menyesatkan mahasiswa? Lebih berguna mana bagi bangsa, aktivis rohis atau aktivis gaul bebas? Justru warga kampus yang liberal inilah yang seharusnya menjadi sorotan. Gara-gara paham liberal, output kampus meleset jauh dari tujuan pendidikan. Seperti lahirnya generasi amoral, asusila, dll. Boro-boro jadi agent of change. Ini persoalan akut warga kampus yang jauh lebih penting dicarikan solusinya, dibanding sibuk menempelkan 'stiker' radikal. 

.

.

Ah, jadi ingat masa nubuwah. Dulu Rasul SAW dilabeli 'gila. Dinarasikan sebagai tukang sihir. Dituduh biang pemecah belah. Menceraikan istri dari suaminya. Memisahkan anak dari ibunya. Cap itu disematkan oleh mereka yang tidak suka Islam. Sekarang capnya diganti 'radikal'. Cap itu menjadi legitimasi untuk merealisasikan proyek deradikalisasi, yang sejatinya deislamisasi dan ujungnya  deagamisasi (padahal yang dibutuhkan adalah deliberalisasi).

.

.

Lama-lama kampus nggak boleh ngomong agama. Nggak boleh ngomong Islam. Apalagi ngomong Islam yang mengakar. Padahal Islam mengakar itu sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Mana ada Islam hanya masalah syahadat, salat, puasa, zakat dan haji. Apalagi dinyinyiri hanya mengurus poligami. 

.

.

Islam juga mengajarkan antizina (ini sistem pergaulan), antiriba (ini sistem ekonomi), rajam (ini sistem hukum), dst. Komplit. Inilah keagungan Islam. Bukan moderat, bukan radikal. Islam prinsipil yang mengakar. Kalau Islam ini diusung warga kampus, wajar saja. Sebab, kampus memang tempat belajar. Bahkan idealnya, tempat membersihkan diri dari racun-racun liberal.(*)



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!