Wednesday, June 20, 2018

Berwisata Syariah


Oleh: Trisnawati (Revowriter Aceh)

Suasana lebaran masih hangat terasa. Liburan panjang pun menambah nikmatnya menjalani suasana bercengkrama bersama keluarga.  Ada yang memilih untuk mudik karena moment yang baik buat berkumpul bersama keluarga yang jauh. Ada juga yang memilih iburan ketempat-tempat objek wisata yang membuat mata tabjuk dengan berbagai keindahan maha karya Sang Pencipta Alam Semesta.

Tidak ada salahnya merefreshkan diri dari pekerjaan rutin dan kesibukan rutinitas bekerja dan mengurus rumah tangga dengan melakukan perjalanan wisata. Karena memang hukum asalnya mubah atau diperbolehkan. Namun walau pun mubah tetap memperhatikan tempat tujuan, bukanlah tempat yang terdapat kemaksiatan dan dekadensi moral secara terang-terangan. Bahkan berliburan atau berwisata yang hukum asalnya mubah bisa berubah menjadi haram ketika niat berpergian dalam rangka bermaksiat kepada Allah atau seperti iistri yang pergi tanpa izin suaminya. Namun status liburan juga bisa menjadi sunah jika dalam rangka mengambil ibroh (pelajaran) dengan merenungkan segala keindahan ciptaan Allah (Qs. Al-Ankabut: 20), atau melakukan wisata syariah. 

Wisata syariah tentunya perjalanan wisata yang semua prosesnya sejalan dengan nilai-nilai syariah islam. Mulai dari niatnya yang semata untuk ibadah dengan mengagumi  ciptaan Allah, selama dalam perjalanannya dalam melaksanakan ibadah dengan lancar,  makan dan minum yang halalan thayyibah, hingga kepulangannya pun dapat menambah rasa syukur kepada Allah. Jika urutkan rangking dalam wisata syariah maka yang paling tinggi nilai syariahnya tentu wisata Ibadah haji dan umroh, kemudian dalam rangka menuntut ilmu, silahturrahmi dan yang terakhir wisata yang hanya sekedar bersenang-senang.

Berwisata syariah dalam rangka menuntut ilmu maka sejarah islam telah mencatat bahwa ulama-ulama islam tempo dulu yang sering melakukan perjalanan jauh dan melelahkan guna menimba ilmu dari satu tempat ketempat lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah salah satu ulama yang melakukan perjalanan panjang untuk menuntut ilmu mulai dari Iraq, Makkah, Madinah, Baghdad, hingga sampai ke Mesir. Begitu juga pada Abad 14, islam memiliki pengembara unggul ynag terkenal yaitu ibnu bathutah, asal Negeri Maroko (Tangier) yang sukses berkeliling dunia, bahkan hingga daratan sumatera. Semua yang beliau lihat dan saksikan beliau tuangkan dalam sebuah dairy yang sangat fenomenal, Rihlah Ibnu Bathutah (perjalanan Ibnu Bathuthah). Tak ketinggalan pengembara muslim terkenal asal Negeri China, laksamana Cheng Ho.

Sebuah perjalanan akan memberikan manfaat jika kita pandai-pandai dalam memanfaatkan perjalanan itu sendiri, karena lautan ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan. Seperti isi pesan imam syafi'i tentang berpergian (safar).

"Dan bepergianlah, dalam bepergian itu ada lima faedah (yang bisa didapat) Hilangnya kesusahan, mendapatkan penghidupan, serta (mendapatkan) ilmu, adab, serta teman-teman yang mulia.

Bahkan dalam proses perjalanan wisata pada dasarnya merupakan sarana bagi kita untuk mempelajari ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) yang terbentang luas dihadapan kita. Bukankah dengan tanda-tanda alam Sang Pengatur Alam mengajari hambaNya. Bagaimana waktu yang terus berputar, dari terbitnya matahari sampai terbenamnya. Ada siang dan juga malam. Bagaimana terbentuknya awan yang begitu indah dilangit tanpa jatuh kebumi, serta hujan yang bisa turun dari langit. sungguh semuanya hanya akan mengantarkan kepada semakin bertambahnya keimanan kita bagi orang-orang yang mau berfikir. Belum lagi maha karya yang ada pada faura dan dan fauna dengan berbagai jenis dan ragamnya. Bahkan dari diri kita sudah mampu menggugah akal kita bahwa tak ada yang mampu menciptakan ini semua kecuali Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

Maka jadikanlah berpergian kita menjadi wisata syariah yang niat dan tujuannya karena Allah dengan tidak meninggalkan syariahnya selama dalam perjalanan. Dan ingatlah bahwa berwisata bersifat temporal (sementara) karena kita harus kembali pulang untuk melakukan kegiatan rutin kita kembali.

Oleh karena itu Nabi saw mengatakan, "Bahwa safar itu bagian dari adzab adalah bagian dari siksa (penderitaan)". (HR. Abu Huraira RA)

Rasulullah saw pernah bersabda, "Safar itu adalah bagian dari siksa. karena safar inilah yang membuat seseorang itu akan sulit makan, akan sulit minum dan akan sulit untuk tidur. Makannya berkurang, minumnya juga jadi susah dan tidurnya pun semakin berkurang. Maka dari itu nabi saw mengatakan, Jika seseorang telah memenuhi hajatnya, keperluannya saat safar maka segeralah dia pulang kembali kepada keluarganya, dia bertemu dengan istri dan anak-anaknya. (HR. Bukhari dan Muslim).


*Sumber: Buku Panduan Praktis Wisata Syariah Karya Tohir Bawazir








Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!