Saturday, June 9, 2018

Aktivis Mahasiswi Jember Gelar Diskusi: Merindukan Ramadhan Bersama Sang Pelindung Umat


Reporter: Ulfiatul Khomariah

 

Jember- Komunitas Back to Muslim Identity cabang Jember kembali menggelar acara diskusi Kelas Politik Aktivis (KPA) yang bertajuk “Merindukan Ramadhan Bersama Sang Pelindung Umat” pada hari Kamis, 07 Juni 2018 di D’Best Chicken, Jln. Karimata Jember.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Kehadirannya bahkan ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia. Namun Ramadhan kali ini begitu sangat spesial, karena disambut oleh bom teror yang mengguncangkan Indonesia. Bahkan kondisi ini menimbulkan kegentingan di tengah-tengah umat. Maka dari itu kami aktivis muslimah yang peduli terhadap umat ingin mendiskusikan dan mencari solusi bersama masalah yang terjadi di negeri kita saat ini, kata pengurus Back to Muslim Identity Community (BMIC), Miftah Karimah Syahidah, Jember (Kamis, 07/06).

Sebenarnya Ramadhan tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, umat Islam terus mengalami intimidasi dan pembantaian. Anak-anak Suriah dan Palestina menjalani shaum Ramadhan tanpa makanan yang cukup, bahkan seringkali mereka tak makan sahur dan tak bisa berbuka puasa dengan makanan yang layak. 

Bukan hanya di negara bagian muslim lainnya, bahkan di Indonesia saat ini juga tengah dirundung keresahan karena Ramadhan disambut dengan teror Bom yang terjadi Surabaya, Riau, dll. Sungguh Ramadhan yang memilukan hati karena umat telah kehilangan perlindung dan penjaganya.

Ketiadaan pelindung dan penjaganya menyebabkan  rasa aman kaum Muslim seluruh dunia tercerabut. Berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa umat Islam telah dan sedang terjadi. Negara-negara kafir melakukan ‘pesta penjajahan’ dengan menjadikan semua negeri Muslim menjadi target operasi. Darah-darah tertumpah. Kekayaan alamnya dijarah. Tanah umat pun menyusut mulai dari ujung-ujungnya, bahkan dari jantungnya. 

Yahudi telah merampas tanah penuh berkah, Palestina, Tanah Isra’ dan Mikraj, bumi kiblat pertama. Di sana, mereka mendirikan sebuah negara. Mereka pun menebarkan kerusakan dan merusak tanah tersebut. Para penjajah menghalau dan mengusir penduduknya dari rumah-rumah mereka, menodai kehormatan mereka, membunuh dan menumpahkan darah mereka.

Persekongkolan para penjajah tidak berhenti sampai di sini, mereka terus menghadang para pengembah dakwah yang menyerukan Islam Kaffah dan penegakan kembali khilafah. Lihat saja di negeri kita Indonesia, penjegalan dilakukan terhadap aktivitas dakwah melalui persekusi ulama dan intelektual atas dukungannya terhadap Islam kaffah. 

Ditambah lagi peristiwa teror bom yang mengarahkan pada kriminalisasi Islam dan upaya menyuburkan Islamophobia di tengah negeri mayoritas Muslim. Belum lagi segunung permasalahan umat yang tak pernah selesai seperti harga kebutuhan hidup yang tidak terjangkau, kemiskinan, kriminalitas, kekerasan seksual dan sebagainya melengkapi nestapa umat Islam.

Keberadaan khilafah sebagai pelindung umat, sangat dirindukan saat ini tatkala umat benar-benar terbelenggu dalam nestapa yang tak berkesudahan. Apalagi di bulan Ramadhan mubarak ini, umat Islam tak bisa khusyu’ menjalankan ibadah terbaiknya untuk meraih kemuliaan karena berbagai ujian dan penindasan.  

Seharusnya, di bulan Ramadhan ini, umat begitu gembira menyambutnya dan mengisinya dengan berbagai amal shalih. Sebagaimana hadits tentang keutamaan Ramadhan: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni (HR. Bukhari Muslim).

Maka tak ada solusi lain selain mengembalikan kembali kehidupan Islam dibawah naungan Khilafah. Karena hanya Khilafah lah yang mampu menjadi perisai bagi umat dan menjadi pelindung umat dari segala intimidasi dan teror dari negara penjajah. Begitulah pemaparan materi yang disampaikan oleh Miftah.

“Bagaimana kita bisa meneggakkan khilafah, sedangkan di Indonesia merupakan negara yang berideologikan Pancasila. Kenapa kita tidak menerapkan Pancasila saja? Bukankah Pancasila juga merupakan bagian dari Islam?” Tanya Ritna, salah satu peserta diskusi.

Dengan santai Miftah menjawab, “Pancasila yang merupakan bagian dari Islam saja jika diterapkan bisa memberikan maslahat bagi umat, apalagi jika menerapkan Islam secara kaffah (keseluruhan) maka sudah dipastikan kemaslahatan yang sangat luar biasa akan kita dapatkan. 

Diskusi kemudian diakhiri dengan foto bersama dan buka bersama, demikian reportase dari Ulfiatul Khomariah.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!