Monday, June 11, 2018

Adab Mudik Dalam Islam


Oleh: Raden Ayu Ekalina Amd.Tex (IRT, Anggota komunitas Revowriter)


Tradisi mudik jelang lebaran menjadi suatu kebiasan dalam masyarakat kita yang mayoritas muslim. Terutama mereka yang merantau karena harus bekerja di daerah lain atau bahkan di negeri orang. Ada yang pulkam ada yang pulkot.

Yang pulkam (pulang kampung) berangkat dari kota besar menuju kampung atau desa, yang pulkot (pulang kota) dari desa menuju kota.


Kenikmatan mudik menjadi salah satu agenda yang juga dinanti nanti ketika lebaran tiba, senangnya bertemu keluarga besar atau kawan lama semacam pelepas rindu. Belum tentu setiap saat bisa mudik, keterbatasan biaya dan rutinitas sehari hari juga menjadi kendala terlaksananya. Namun ketika lebaran, momentnya dianggap sangat sesuai, hanya setahun sekali. Bagi sebagian orang tidak ada alasan untuk tidak mudik karena ada yang sudah menabung jauh jauh hari, ada yang mendapat THR karena bekerja di sebuah instansi, dan sebagainya. Satu lagi yang juga menunjang, ada libur panjang.


Bila Anda mudik, berarti Anda melakukan perjalanan jauh (safar).

Ketika dalam perjalanan inginnya pasti lancar dan selamat sampai tiba ditempat tujuan. Selain persiapan fisik dan materi, tentu bathin pun harus dipersiapkan guna menghadapi situasi tertentu yang terjadi selama dalam perjalanan/safar tersebut.


Islam agama yang sempurna, semua ada aturan dan adabnya. Tak terkecuali adab ketika mudik. 


Jika kita menerapkan adab mudik/safar, selain akan mendapat perlindungan dari Allah SWT, juga akan mendatangkan pahala karena dilakukan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.


Adapun hal hal yang harus di perhatikan sebelum memulai perjalanan dan selama dalam perjalanan, diantaranya :


1. Membaca doa.


Ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a:


بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ


“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah”

(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)


Atau bisa pula dengan do’a:


اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ


“Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya” 

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain)


Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW,  

"wahai Rasulullah SAW, saya akan memulai perjalanan (musafir), 

Jadi berikanlah nasihat kepada saya".


Nabi Muhammad SAW mengatakan,

”Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan bertakbir setiap kali melewati (melalui) tempat yang tinggi."


 Selepas lelaki itu pergi, Nabi s.a.w berdoa; 

“Ya Allah, dekatkanlah jarak perjalanannya dan mudahkan perjalanannya.” 

(HR. Imam Tirmidzi).


2. Selalu berzikir


Dalam perjalanan dianjurkan untuk senantiasa berzikir, yaitu bertakbir jika melalui tempat tinggi dan bertasbih ketika menuruni tempat tinggi. 


Dari Jabir r.a. dia berkata: “Apabila kami naik kami bertakbir, dan apabila turun kami bertasbih”. 

(H.R. Imam Bukhari).


3. Kerjakan sholat 2 rakaat


Dirikanlah shalat sunah dua rakaat sebelum keluar rumah. 

Rasulullah sAW mencontohkan, dengan mengerjakan shalat dua rakaat sebelum melakukan perjalanan jauh. 


Sebagaimana dalam sabda Rasulullah :

“Tidaklah seseorang meninggalkan sesuatu bagi keluarganya yang lebih baik dari 2 rakaat yang dilakukan di sisi mereka ketika berniat untuk bermusafir”. (H.R. Imam Thabrani).


4. Berpergian tidak seorang diri.

Dianjurkan jika berpergian dengan membawa teman atau keluarga. Dalam hal ini teman yang dimaksud adalah yang mahram.


“Jika manusia mengetahui bahaya bermusafir sendirian sebagaimana aku ketahui, tentu mereka enggan bermusafir sendirian.”

(H.R. Imam Bukhari).


5. Minta izin, ucapkan selamat tinggal kepada keluarga dan menyelesaikan muamalah. Ajal tak ada yang tahu, maka segala urusan harus diselesaikan dahulu, seperti melunasi hutang atau janji.


“Apabila seseorang dari kamu akan bermusafir , hendaklah meminta izin kepada saudara-saudaranya, sebab sesungguhnya Allah SWT menjadikan kebaikan pada doa mereka.”

 (Diambil dari kitab al-Azkar Imam Nawawi).


6. Hindari bepergian di hari Jumat

Rasulullah saw menganjurkan untuk tidak melakukan bepergian di hari Jumat, tetapi lebih baik melakukan bepergian di hari Kamis, kecuali suatu hal yang mengharuskan bepergian di hari Jumat.


“Rasulullah SAW berangkat ke Perang Tabuk pada Khamis. Rasulullah menyukai memulai perjalanannya pada Khamis.” (H.R. Imam Bukhari)


7. Lebih utama memulai perjalanan di malam hari.

Disarankan memulai perjalanan pada malam hari, karena lebih tenang dan pendek waktunya. Pada malam hari pun sedikit waktu sholat fardhu, sehingga lebih leluasa untuk beristirahat ketika lelah.


“Berjalanlah pada waktu malam karena bumi dijadikan lebih pendek pada waktu malam.” (HR Imam Abu Daud).


8. Membelikan ‘buah tangan’

Membelikan kenang-kenangan untuk dibawa pulang sebagai ‘buah tangan’ atau oleh oleh untuk sanak famili, sebagai bentuk berbagi kebahagiaan kita kepada keluarga, itu adalah sunah dari Rasulullah SAW.


9. Sujud syukur tiba di tempat tujuan.

Saat Anda telah sampai di tempat tujuan dianjurkan untuk sujud syukur. Hal ini sebagai wujud tanda syukur kepada Allah SWT. Tanpa perlindungan dari-Nya tidak mungkin kita dengan selamat.


Dengan memperhatikan adab bermudik, kita bisa mempersiapkan diri lebih baik,  agar perjalanan mudik tetap bernilai pahala. 

Selamat mudik yaaaa..fi amanillah.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!