Tuesday, May 8, 2018

Zina Coba-Coba


Oleh : (Nafi'atur Rohmah, S.Pd.I - Pemerhati Remaja)


Hari Pendidikan 2 Mei 2018 kembali dinodai dengan perbuatan anak-anak usia sekolah yang membuat hati teriris.  Geram, miris dan membelalakkan mata kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan netizen atas viralnya video heboh sepasang anak SD yang sedang bergumul layaknya perbuatan orang dewasa di atas ranjang. Masih lengkap dengan seragam putih merah perbuatan tersebut disaksikan oleh teman-temannya yang asyik bersorak-sorai gembira bertepuk tangan. Belum lagi perbuatan ini terjadi di lingkungan sekolah dengan disaksikan oleh teman-teman sebayanya sampai ada yang merekam hingga beredar viral di masyarakat. Pak Guru Bu Guru ada dimana? Warga sekitar kok diam saja?

Hingga beberapa tahun terakhir tak sedikit foto dan video bagaimana anak-anak berseragam putih merah saling adu foto mesra dengan "pacar". Ada yang memanggil dengan sebutan "mami-papi, ayah-bunda, mas-adek" dan macam-macam lainnya. 

Seolah aktivitas pacaran sudah lumrah hingga anak ingusan sudah berjanji setia selamanya hingga ajal memisahkan, padahal mainan masih gundu dan lompat tali sudah sok-sokan berjanji sehidup semati. Ya Rabbi..

Gaul Bebas Tanpa Batas

Kasus pergaulan bebas di kalangan pelajar sudah sedemikian parah. Kalau dulu tahun 90'an muncul istilah ayam kampus, sebagai gambaran perilaku mahasiswi yang "menjual diri". Tapi generasi Z zaman now, pergaulan bebas sudah marak dari SMA bahkan hingga ke anak SD. Dan buah dari kebebasan tersebut adalah adanya kasus hamil pelajar usia belasan. Hingga hampir tiap hari kita disuguhi beruta kasus pembuangan bayi oleh pelajar hasil hubungan luar nikah.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mencatat, data 178 bayi dibuang selama 2017, yakni, Desember 2017 ada 25 kasus. November 2017 ada 17 kasus. Oktober 2017 ada 16 kejadian, September 2017 ada 15 kejadian, Agustus 2017 ada 19 kejadian, Juli 2017 ada 13 kejadian, Juni 2017 ada 8 kejadian, Mei 2017 ada 12 kejadian, April 2017 ada 5 kejadian, Maret 2017 ada 12 kejadian, Februari 2017  ada 11 kejadian, dan Januari 2017 ada 25 kejadian (Netralnews.com, 1 Januari 2018).

Pertanyaannya sudah sedemikian parahkah kerusakan remaja zaman now? Seolah-olah mencoba-coba perbuatan zina menjadi hal yang biasa? Sudah sedemikian kacaunya akhlak remaja hingga anak SD belum genap belasan tapi sudah faham beradegan panas dan tak pantas di depan banyak orang? Sampai sejauh mana peran pendidikan dalam mencegah pergaulan bebas, hingga zina sudah lumrah untuk coba-coba?


Buah Pendidikan Sekuler

Kalau boleh dikatakan, inilah wajah kelam pendidikan di negara kita. Aturan dan perundang-undangan boleh saja berganti, tapi bukan jaminan anak-anak paham budi pekerti. Kurikulum bisa dibongkar pasang, setiap ganti menteri ganti kebijakan tapi tak kunjung mencetak murid-murid teladan nan idaman. Guru disibukkan dengan workshop dan seminar, konon agar anak pinter tapi mirisnya gagal menjadikan murid yang berkarakter.

Pendidikan ala sekuler kapitalis menjauhkan agama dalam diri siswa. Sehingga wajar pelajar menjadi manusia yang kering jiwanya, keras mentalnya dan mudah putus asa ketika ada persoalan yang berat mengujinya. Kita mendapati mentalitas pelajar jauh dari Islami akibat dari semakin kurangnya porsi pendidikan agama dalam pembelajaran, hingga cuma 2 jam setiap pekannya, atau sekitar 5% saja dari keseluruhan pelajaran di kelas. Itupun kalau harinya tidak libur, atau gurunya rajin. Pembelajarannya pun hanya teoritis, kurang praktek dan kurang pengawasan. Hingga akhirnya pelajaran agama menjadi pelajaran sisipan yang hanya dihafal saat ulangan.

Lemahnya peran keluarga

Keluarga menjadi benteng terakhir dalam penjagaan akhlak anak-anak. Tapi imbas dari kehidupan yang materialistik menjadikan keluarga rapuh. Orangtua berpacu dengan waktu mengejar rupiah demi memenuhi kebutuhan keluarganya, hingga habis waktunya tersibuk kan dengan mengejar materi. Akibatnya banyak yang lalai terhadap pengawasan anak. Dari tontonannya, pergaulannya, hingga keteladan menjadi barang langka.

Pandangan Islam 

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang sempurna. Dibekali akal, kebutuhan hidup (hajat Udhowiyah) dan naluri-naluri (gharizah). Kebutuhan hidup contohnya  rasa lapar, haus, lelah, mengantuk dsb. Kebutuhan ini rangsangan berasal dari dalam tubuh, jadi harus segera dipenuhi agar tidak menimbulkan kerusakan/sakit.  

Berbeda dengan naluri. Dalam diri manusia ada 3 macam naluri yakni naluri mempertahankan diri/ eksistensi (gharizah baqa'), naluri bertuhan dan mencari zat  untuk disucikan(gharizah tadayun) dan naluri untuk mencintai dan kecenderungan kepada lawan jenis (gharizah nau'). Ketiga naluri ini rangsangannya berasal dari luar tubuh. Dan keberadaannya tidak harus segera dipenuhi seperti halnya kabutuhan hidup tadi. 

 Kaitannya dengan pergaulan bebas remaja, merupakan salah kontrol dari sisi naluri kecenderungan seksual tadi. Ketika saat ini banyak rangsangan syahwat dari media sosial, televisi dan lingkungan, bisa dipastikan remaja "newbe" yang memang sedang masa-masanya mencari jati diri terpancing untuk memenuhi rangsangan tadi. Maraknya film porno, sinetron percintaan yang tidak mendidik, game online yang gambar erotis dan aksi kekerasan serta gaya hidup di lingkungan nya mendorong anak-anak ini untuk mencoba-coba melakukan hubungan seks. Hingga akhirnya terjadilah zina Coba-Coba.

Lantas bagaimana upaya kita untuk menghindarkan generasi milenia agar tidak coba-coba zina? Islam punya jawabannya.

Potret buram pendidikan saat ini bisa dicerahkan jika saja pemahaman dan pemikiran remaja disetting agar sesuai dengan aturan Allah swt, Zat Maha Pencipta. Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai unsur. Keluarga, sekolah, masyarakat dan negara. 

1. Keluarga sebagai tempat pertama dan utama dalam menanamkan pendidikan dan pembinaan pada anak-anaknya. Di sanalah tempat meletakkan dasar-dasar agama agar anak faham jati dirinya sebagai hamba Allah swt yang bertujuan hidup demi ibadah kepada-Nya, mempunyai akhlak karimah, dan punya rasa kasih sayang. Sebagaimana firman Allah swt dalam Surat At Tahrim ayat 6: 

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6) 

2. Masyarakat bertanggungjawab sebagai kontrol sosial terhadap pergaulan remaja. Karena dalam masyarakat lah remaja berinteraksi dengan sesamanya. Karena remaja termasuk bagian dari masyarakat juga, maka jika masyarakat memiliki standar baik buruk yang sama maka akan mudah mengarahkan remaja agar senantiasa berjalan dalam arah kebaikan. Jika gelagat remaja yang nongkrong tidak jelas maka masyarakat punya kewajiban untuk mengarahkan mereka melakukan hal-hal yang positif untuk masyarakat nya.

3. Negara. Sebagai pelaksana pendidikan bertanggungjawab mengarahkan dasar pendidikan pada asas akidah Islam yang menjadi arah dan tujuan pendidikan. Mulai dari penentuan kurikulum berbasis islam, penentuan standar nilai ilmu pengetahuan, serta guru/pendidik yang berperan membimbing murid-muridnya.

Serta menjamin pemenuhan sarana dan prasarana belajar mengajar, hingga memberikan pendidikan gratis yang berkualitas. Tidak hanya mengejar nilai akademis semata namun juga mencetak output yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah islam dan ilmu kehidupan. 

Negara juga berkewajiban menyediakan tenaga pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu, namun juga pembina generasi dengan kepribadian islam yang handal. Tentu diimbangi dengan pemenuhan segala kebutuhan pendidik dari kesejahteraan nya hingga pada fasilitas pembelajaran nya.

Nah, peran negara yang luar biasa ini tidak mungkin terwujud dengna sistem sekuler kapitalistik seperti saat ini. Hanya dalam kehidupan Islam lah, negara bisa maksimal menjamin berkualitas nya pendidikan rakyatnya. Hanya dalam naungan Daulah Khilafah lah potret buram pendidikan akan terganti dengan potret yang indah dan cerah. Dan niscaya pergaulan rusak remaja akan hilang terganti akhlak remaja yang cemerlang.

Wallahu a'lam bishowab.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!