Saturday, May 5, 2018

Wanita Hebat Sang Pemilik Dua Selendang


Oleh : Maylia Murni, S.Pd 

(Pegiat Remaja Smart Club Cirebon, Anggota Komunitas Revowriter)


“Semoga Allah Mengganti Selendangmu dengan Selendang di Surga.” 

(Muhammad Rasulullah saw)

Dialah Asma’ binti Abu Bakar ra. Wanita mulia yang tangguh nan istimewa. Bukan hanya karena statusnya sebagai putri dari manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul. Namun, tersebab riwayat hidupnya yang melegenda. Masih terus dikenang. Terasa indah di hati dan telinga ketika mendengarnya.


Asma’ lahir di kota Makkah sekitar 27 tahun sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Ayahnya adalah shahabat Rasul yang mulia. Dia adalah orang yang menempati urutan pertama dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dialah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.


Dibesarkan dalam lingkungan keluarga pejuang Islam, membuat Asma’ menjadi sosok mujahidah yang berani, kokoh, kuat, mandiri, cerdas dan dermawan. Dia termasuk dalam daftar orang-orang yang pertama masuk Islam. Jika dibuat nomor urut daftar orang-orang yang masuk Islam, maka Asma’ berada pada urutan ke-18 baik dari laki-laki maupun perempuan.


Dialah Asma’, wanita yang menikah dengan seorang dari sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga. Zubair bin ‘Awwan namanya. Pengawal setia Rasulullah saw. Zubair adalah seorang laki-laki yang tidak memiliki harta benda, tidak pula kekuasaan atau sesuatu lainnya kecuali kudanya. Namun, statusnya sebagai mukmin melebihi segala-galanya. Dengan tangannya, Asma’ merawat kuda itu sendiri. Memberikan makan dan minuman. Dengan tangannya ia tumbuk biji kurma, mengambil air, dan memanen kurma.


Asma’ adalah wanita tangguh yang senantiasa menjaga perasaan suaminya. Ketika itu, ia pulang menempuh jarak 3,4 km dari kebun kurma milik suaminya. Dia membawa berkilo-kilo kurma di atas kepalanya. Ditengah jalan, ia bertemu dengan Rasulullah saw. dan para shahabatnya. Rasulullah saw. menawari agar Asma’ ikut menaiki unta rombongan beliau. Namun, Asma’ menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu. 


Saat tiba di rumah, ia berkata kepada suaminya, “Tadi aku bertemu Rasulullah saw. ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang shahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.” Zubair menanggapinya, “Demi Allah, keadaanmu yang membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada naik unta bersama beliau.” Inilah yang menjadikannya Istri yang Sholihah.


Dialah Asma’ yang rela mengorbankan dan mengabdikan dirinya untuk membela agama Allah.  Ketika Rasulullah saw dan Abu Bakar ra bersiap-siap hijrah di malam hari ke Madinah. Dengan penuh kecintaan terhadap Islam dan RasulNya, ia menyiapkan perbekalan untuk Rasulullah dan Abu Bakar. Kemudian Asma’ menyobek selendangnya menjadi dua helai untuk mengikat wadah makanan. Itulah yang membuatnya dijuluki “Dzaatun Nithaaqaini” (wanita yang memiliki dua selendang). Zubair bin Bakkar bertutur tentang peristiwa ini, “Rasulullah saw. berkata kepada Asma’, “Semoga Allah mengganti selendangmu dengan dua selendang di surga.”


Asma’ yang kala itu sedang hamil tua, rela menerjang gelap dan sunyinya malam. Ia membawa makanan untuk orang-orang tercintanya yaitu sang ayah Abu Bakar dan Rasulullah saw. Ia rela menempuh jalan yang terjal dan jauh. Rela mendaki gunung yang cukup tinggi untuk mencapai gua Tsur. Asma’ dengan beraninya melewati semua bahaya tersebut, padahal mata-mata Quraisy terus mengintainya.


Dialah Asma’ seorang muslimah pejuang tangguh. Ia sempat ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair. Ia menunjukkan keberaniannya membela agama Allah. Asma’ juga wanita yang cerdas. Ia meriwayatkan 58 hadits dari Nabi saw. Selain itu, ia memiliki kemampuan yang menonjol dalam berbahasa yang fasih, cepat memahami sesuatu, dan pandai berpuisi. Dialah Asma’ orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan kaum muhajirin dalam usia 100 tahun, tanpa kehilangan satupun gigi dan ingatannya.


Inilah sejatinya wanita hebat nan mulia. Wanita yang rela mengorbankan seluruh jiwa raga, harta bahkan nyawanya untuk membela Islam. Sang pejuang tangguh sekaligus istri dan anak yang sholihah, bahkan darinyalah lahir anak-anak yang hebat dan pejuang Islam.


Inilah sejatinya peranan wanita. Peradaban Islam terbukti telah melahirkan wanita-wanita hebat nan mulia layaknya Asma’ binti Abu Bakar. Maka salah besar jika menganggap Islam mengekang aktivitas perempuan seperti yang dituduhkan oleh kaum feminis. Wanita hebat bukanlah wanita yang menganggap konde lebih indah daripada cadar. Bukan juga yang lebih gemar mendengarkan suara kidung daripada merdunya adzan. Tapi, wanita hebat adalah wanita yang mampu mengabdikan dan mengorbankan hidupnya untuk kemuliaan Islam. Wallahu A’lam bish-Showab.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!