Wednesday, May 2, 2018

Urgensitas Solusi Tegas atas Miras

Oleh : Maya A


MIRAS OPLOSAN. Barang sepele yang sayangnya susah sekali diberantas di era sekarang ini. Banyaknya korban yang berjatuhan seakan tidak berhasil mengusik nurani penguasa untuk segera diatasi. Dilansir dari JPNN.com (13/4), 91 nyawa sudah dinyatakan melayang. Ibarat gunung es, jumlah tersebut adalah sebagian kecil yang baru terungkap di kota besar seperti Jakarta dan Jawa Barat. Lalu apa kabar kota kota kecil lainnya? Mengapa peredarannya masih bebas padahal dampak nya sudah jelas membahayakan? Mengapa pula sampai terjadi double standard atas barang haram tersebut? Di satu sisi para pengoplos ditindak dan disanksi, sedangkan industri skala besar dibiarkan beroperasi dengan embel-embel adanya pengendalian.

Ah, sebenarnya tidak begitu mengherankan. Sudah kesekian kali problem negeri tak kunjung menemui titik penyelesaian yang final. Solusi yang ada tak jarang menjadikan keuntungan finansial sebagai crussial point diketuknya palu atas perundang-undangan tertentu. Terkait hal ini, maka RUU minuman beralkohol adalah contohnya. Hingga kini, tarik ulur antara Pemerintah dan DPR masih saja terjadi terkait pelarangan total ataukah pengendalian secara ketat. Meski demikian, pada prinsipnya dua kubu tersebut sebenarnya tidak ingin mengganggu atau menutup industri yang sudah berlabel resmi. Ketua Pansus RUU minuman beralkohol, Arwani Thomafi mengatakan bahwa belum ditemukan formulasi yang tepat agar kegiatan industri dan kehidupan beragama khususnya umat Islam sama sama tidak terganggu. (Akurat.co 8/12/17).

Dari situ jelas, salah satu tujuan dipertahankannya kegiatan produksi adalah demi menjaga  sumber pemasukan negara melalui tarikan pajak. Tahun lalu saja sebelum dilakukan penarikan saham untuk PT Delta, DKI Jakarta memperoleh deviden sebesar 37 milyar.

Tidak bisa dipungkiri, bisnis minuman beralkohol memanglah menggiurkan. Jangankan perusahaan besar, pengoplosnya saja bisa meraup untung 2,3 juta perhari. Tidak heran jika banyak pihak yang berkepentingan khawatir jika UU ini akhirnya di-goal kan. Ujungnya, kebutuhan farmasi, ritual adat-agama, dan wisata dijadikan dalih. Bahkan ada pula yang mengatasnamakan hak, sehingga menjadikan negara harus bersikap fair dalam pemenuhan nya.

Memang beginilah jadinya manusia ketika sudah terseret jauh arus kapitalisme. Buaian pundi pundi membuat mereka lupa akan makna hidup yang hakiki. Bagai katak dalam tempurung, ukuran kebahagiaan hidup hanya berkubang pada aspek materi. 

Sekup negara pun tak jauh berbeda. Pemilihan sistem dimana posisi agama dijauhkan dari tata aturan berkehidupan menjadikan mayoritas kebijakan yang diambil cenderung liberal. Bebas sebebas-bebasnya.

Sungguh, persoalan miras tidak bisa disepelekan begitu saja. Serupa dengan narkotika dan zat adiktif lainnya, miras juga tak kalah mematikan. Sehingga, keseriusan dalam penanganan oleh pemangku kekuasaan benar benar dibutuhkan disini. Bukan sekedar pengawasan produksi dan pengaturan distribusi, tapi sampai pada tataran pemutus mata rantai eksistensi miras. Sehingga dalam hal ini, manfaat ekonomi wajib diabaikan. Pendapatan daerah/nasional tidak boleh bersumber dari barang barang haram.

Lebih dari itu, sanksi yang tegas dan menjerakan merupakan suatu keharusan mengingat fungsinya sebagai pelindung sekaligus pengatur urusan rakyat. Dalam tata aturan Islam sendiri, cambuk 80-100 kali adalah sanksi yang diberikan kepada peminum. Sedangkan produsen dan distributor, tentu akan ada sanksi yang lebih berat yang nantinya diputuskan oleh kepala negara.

Upaya preventif lain yang bisa diupayakan adalah edukasi medis sekaligus agamis. Nilai nilai keimanan harus gencar ditanamkan pada individu demi meraih keseragaman pemikiran bahwasanya miras haram. Seberapapun jumlah dan kadarnya.

Tidakkah 91 korban lebih dari cukup untuk dijadikan pelajaran? Atau masihkah butuh tumbal lagi untuk meyakini hanya Islam lah satu satunya solusi tuntas yang menuntaskan?

_&_

 / Gresik



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!