Monday, May 7, 2018

Tumbal Miras Oplosan


Oleh: Aisy Mujahidah Ummu Azzam (Revo Writer Makassar)


Korban yang tewas akibat minuman (Miras) oplos terus bertambah. Bukan hanya di Jawa Barat dan jakarta tapi juga di Surabaya dan ini adalah kasus terbaru akibat minuman haram tersebut.


Surabaya - Minuman keras (miras) oplosan telah merenggut banyak nyawa di Surabaya. Jumlah tersebut bisa jadi akan bertambah karena masih ada korban yang dirawat di rumah sakit.

Setiap hari korban terus bertambah bak tumbal yang terus mengincar mangsanya. Walaupun negara telah memberikan sanksi selama ini bagi pengedar miras tapi saksi tersebut tidak memberikan efek jera.

10 nyawa telah hilang akibat mengonsumsi miras oplosan, Selasa (24/4/2018). (detikcom)

"Selama ini sanksi yang kita berikan tidak memberikan efek jera pada mereka," katanya kepada Tempo, di Polrestabes Surabaya.

Kepala Polrestabes Surabaya Kombes Pol Setija Junianta mengatakan, dirinya akan menerapkan pasal 204 ayat 2 KUHP untuk menindak penjual minuman keras (Miras) dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara.

Kasus jatuh korban akibat miras setiap tahunnya terus berulang karena negara yang menganut sistem Demokrasi tidak tegas dalam menangani kasus ini. Bahkan pemerintahpun memberi izin kepada pabrik-pabrik untuk beroperasi.

Penegasan ini disampaikan Setija setelah pihaknya mendapat laporan bahwa banyak pelaku penjual minuman keras yang menyebabkan kematian hanya dihukum ringan.(TEMPO)

•Kenapa terus brulang? •Berapa tumbal lagi yang harus jatuh?

Legalnya pabrik dan pengedaran miras menunjukkan negara yang menganut sistem kapitalis lebih mengutamakan kepentingan bisnis ketimbang dampak yang di timbulkan dari mengkonsumsi barang haram tersebut. Seperti kematian, kerusakan jiwa, pelecehan seksual bahkan pemerkosaan.

Minuman beralkohol hanya dapat diperdagangkan oleh pelaku usaha yang telah memiliki izin memperdagangkan minuman beralkohol sesuai dengan penggolongannya dalam Pasal 3 ayat (1) Perpres 74/2013 dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan (Pasal 4 ayat (4) Perpres 74/2013).

Pandangan Islam Islam jelas-jelas memperhatikan keselamatan tiap jiwa manusia. Apalagi miras yang jelas-jelas keharamannya. Sabda Rasulullah SAW:

Dan adapun sanksi peminum khamar yang mana sanksi tersebut termasuk dalam perkara hudud ( sanksinya telah di tetapkan oleh syara') adalah di jatuhi had. Diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda:

“Semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram.” (HR. Muslim).

Dampak buruk dari miras ini sudah di gambarkan jauh-jauh hari oleh Rasulullah SAW. Seperti sabda Rasulullah SAW:

“khamar itu adalah induk keburukan. Siapa saja yang meminumnya, Allah tidak akan menerima shalatnya 40 hari. Jika ia mati dan khamar itu ada di dalam perutnya maka ia akan mati dengan kematian jahiliah.” (HR. ath-Thabrani, ad-Daraquthni, al-Qadhaiy).

"Barangsiapa meminum khamar, maka jilidlah!

Maka oleh karena itu kita sebagai Muslim yang meyakini keharaman miras mari bersama berjuang menegakkan kembali hukum Islam. Karena hanya Islam yang mampu menyelesaikan masalah tersebut sampai ke akar-akarnya di bawah kepemimpinan seorang khalifah dalam sistem Islam kaffah.

Bahkan Rasulullah sendiripun pernah mencambuk orang yang mengkonsumsi khamar (Miras).

Anas ra. menuturkan: “ Nabi Muhammad SAW pernah mencambuk orang yang minum khamr dengan pelepah kurma dan terompa sebanyak 40 kali.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan abu Dawud).

Jadi tumbal yang terus berjatuhan yang di akibatkan oleh miras tidak akan pernah selesai sepanjang negara masih tegak di atas asas sekulerisme.

Wallah a'lam bi ash-hawab

Hanya hukum sanksi dalam negara Islamlah yang mampu memberikan efek jera bagi pelaku dosa dan kejahata, dan sanksi yang telah di tetapkan dalam Islam juga berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir ( penembus) atas setiap dosa dan kejahatan yang telah di lakukan.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!