Sunday, May 20, 2018

Terorisme Itu Pemikiran, Bukan Penampilan


Oleh: Epi Aryani (anggota komunitas revowriter karawang) 


Sedih rasanya melihat video viral tentang muslimah bercadar yang diturunkan paksa dari bus oleh para penunpang karena dianggap teroris. Digiring bagai pesakitan menuju pos pengamanan.


Ada lagi, video seorang santri yang hendak pulang kampung. Lengkap dengan sarung dan pecinya. Ditodong-todong dengan senjata laras panjang oleh beberapa orang aparat untuk segera membongkar isi kardus dan tas ransel yang dibawanya, yang ternyata hanya berisi pakaian.


Juga aksi-aksi lain yang dilakukan masyarakat atau aparat yang beritanya bertebaran di dunia maya. Tak terkecuali ummi pipik, istri dari mendiang Uje atau Ustad Jefry Albukhori, pun mengalami perlakuan tidak menyenangkan, hanya karena menggunakan cadar ketika berada di area publik.


Seseorang dicurigai secara berlebihan hanya karena pakaiannya, busana khas muslim/muslimah.


 Pasca tragedi bom Surabaya


Meningkatnya ketakutan kepada islam (islamophobia), semakin besar setelah terjadinya tragedi bom Surabaya. Opini menggelinding bagai bola liar, menjadi pemahaman umum ditengah masyarakat bahwa antara terorisme dan Islam bagai saudara kembar yang tak bisa dipisahkan.


Terlebih aksi teror beberapa kali dikabarkan dilakukan oleh seseorang berbusana taqwa. Hanya di Indonesia, berkali-kali pelaku teror kedapatan bercelana cingkrang, berjidat hitam atau menggunakan cadar. Dengan membawa identitas lengkap sebagai barang bukti.


Padahal terorisme sendiri adalah sebuah faham yang mengajak untuk menteror. Menciptakan ketakutan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam.


 Terorisme Dan Islam


Islam adalah rahmatan lil alamin. Agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk seluruh manusia. Yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan manusia (baik muslim maupun non muslim) dan manusia dengan dirinya sendiri. Sehingga tercapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.


Islam mengatur tentang Jihad sebagai metode dakwah bagi negara. Perang untuk menghancurkan penghalang fisik bagi tersebarnya Islam keseluruh dunia. Ada batasan dalam berjihad seperti yang telah Rasululloh SAW sampaikan:


"Jangan membunuh anak kecil, wanita, orang tua, orang sakit, pendeta, jangan menebang pohon yang berbuah, jangan merusak bangunan (termasuk tempat ibadah), jangan menyembelih unta atau sapi kecuali untuk dimakan, jangan menenggelamkan sarang tawon dan membakarnya"


Dan ketika sudah tertaklukan suatu wilayah, maka akan diterapkan syariat Islam baik muslim maupun non muslim dalam hal muamalah dan dibiarkan dalam beribadah sesuai agamanya. Dipenuhi hak setiap warga negara tanpa membedakan agamanya. Seperti hak atas kesejahteraan, kesehatan, keamanan, pendidikan dan keamanan.


Jelas konsep Jihad berbeda dengan aksi teror. Maka bom bunuh diri di tempat peribadatan adalah bentuk teror dan termasuk dosa besar karena memakan korban jiwa.


"Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam. Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, serta mengutukinya dan menyediakan azab yang besar baginya" (TQS. Annisa: 93).


Terorisme itu jahat, bukan ajaran Islam. Lebih jahat lagi dalang dibalik aksi teror yang menjadikan kaum muslim menjadi korban teror, persekusi dan pencitra burukan. Bahkan adu domba. Baik sesama maupun antar umat beragama


Wallahu a'lam bish shawab.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!