Sunday, May 13, 2018

Terorisme dan Struktur berfikir Ummat


Oleh : @Ipulsanggala

(Penghuni Bumi Allah)


Minggu Pagi 13 mei diwaktu yang hampir bersamaan kita disuguhkan dengan ledakan bom di tiga gereja pada lokasi yang berbeda di Surabaya, Hari yang menjadi aktivitas peribadahan ummat Kristen menjadi terganggu dengan aksi yang tidak bertanggung jawab dan tentu tidak manusiawi tersebut.


tagar tidak takut pada terorisme pun beriringan muncul dalam jejaring sosial media sebagai upaya/bentuk perlawanan terhadap perbuatan keji pelaku bom, kutukan demi kutukan juga hadir memenuhi beranda-beranda facebook, Analisa-analisa liar juga nampak dengan signifikan dalam memandang perosoalan dan kasus ini, mulai dari aktivitas jihadis ekstrem, takfiri akut, proyek kepentingan, hingga pengaitan pada kasus mengamuknya tahanan napi teroris di mako brimob.


Istilah terorisme memang perlu mendapat perhatian dan kesepakatan bersama, ia tak boleh dikaitkan dengan Agama Apapun, karena normatif semua agama mengutuk kekerasan yang mencoba mencabik kedamaian, ia juga tak boleh menjadi Alat untuk memuluskan nafsu politik yang membabi-buta dengan generalisasi gerakan dakwah islam, karena bukan Agama yang menginspirasi seseorang untuk berbuat brutal, melainkan kebodohan yang terperangkap dalam diksi berfikir antonim


satu hal yang perlu disadari dalam menyikapi persoalan ini adalah keadilan informasi, harus tegak melintasi struktur berfikir kita, kalau dulu penyerang ulama di masjid tak disebut teroris, pembakar masjid juga tak disebut teroris. lalu tentu saja ummat mempertanyakan dengan liar  mengapa Keadilan Informasi juga dipermainkan?


Akhirnya ada startegi untuk mencitrakan bahwa islam dan gerakan dakwah harus diberangus, islamphobia pun menjadi efek dari rentetan persoalan yang terangkum dalam struktur-struktur berfikir ummat.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!