Thursday, May 3, 2018

Teror Miras Membidik Generasi

Oleh : Rika Mudrikah Lestari


Minuman keras (Miras), barang haram yang hangat diberitakan di media Indonesia menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Peredarannya yang semakin meluas telah membidik banyak nyawa. Hampir seratusan korban meninggal akibat mengonsumsi miras oplosan. Selama 10 tahun lamanya, SS memproduksi miras oplosan di sebuah Rumah mewah di Cicalengka Bandung. Terdapat bunker rahasia di bawah sebuah gazebo dekat kolam renang di rumah SS sebagai tempat peracikan dan penyimpanan ribuan botol miras oplosan siap edar. SS yang berniat kabur ke daerah Sumatra Utara akhirnya tertangkap oleh tim gabungan Polda Jambi Sumatra Selatan dan Jawa Barat di daerah Musi Banyu Asin Sumatra Selatan pada Rabu dini hari, setelah beberapa hari menjadi buron. Polri menetapkan kejadian ini sebagai kejadian "luar biasa", sebab meningkatnya perhatian masyarakat akan peredaran miras oplosan yang semakin meluas juga korban jiwa yang kian bertambah. Tak main-main, Wakapolri, Komisaris Jendral Syarifudin layangkan ancaman penggantian Kapolda maupun Kapolres yang dinilai tak serius dalam menangani kasus ini. 

Minuman keras yang menjadi simbol "gaul" bagi generasi salah kaprah, kini menjadi teror menjanjikan bagi keselamatan generasi penerus bangsa. Betapa tidak, peradaban generasi muda semakin rusak dengan adanya pelegalan miras dari pemerintah. Tak mampu membeli miras kelas kakap, miras oplosan pun menjadi alternatif untuk tetap eksis. Kurang tegasnya aparat pemerintahan, seakan memberi ruang bebas bagi SS sang big Bos peracik miras oplosan. Kelengahan inilah yang dimanfaatkan para produsen miras oplosan untuk memproduksi dan menyebarkan serta mengembangkan usaha dengan leluasa, hingga mitra-mitranya tersebar luas di berbagai daerah. Semakin beredar, semakin banyaklah korban yang rela menukar nyawa dengan kenikmatan murahan. Mirisnya, pemerintah seakan tak peduli dengan apa yang terjadi terhadap generasi kita. Sebab pemasukan pajak yang besar dari SS atas usahanya itu telah menutupi mata kebenaran. Usaha produksi minuman seharga nyawa ini telah melenggang tenang selama beberapa tahun, sebelum akhirnya terhenti setelah meningkatnya perhatian masyarakat akibat banyaknya korban meninggal juga rusaknya generasi bangsa. 

Minimnya pengetahuan akan bahaya miras, ekonomi, pergaulan bebas dan ilmu agama menjadi beberapa faktor bobroknya generasi penerus bangsa. Adanya istilah "legal" membuat masyarakat berpandangan halal dan wajar terhadap aktivitas mengonsumsi miras. Tak heran, akhirnya banyak generasi yang terperdaya dengan hasutan setan. Kini, Indonesia telah tercoreng nama baiknya akibat Miras. Penyuaraan para pemuda kian terlayang, menuntut ketegasan dan perketatan keamanan daerah sebab tak inginkan generasi muda tercoreng dan rusak peradabannya.

Harusnya, pemerintah segera berikan tindakan dan sanksi yang berat bagi para pelaku, baik produsen maupun pengedar. Sehingga tidak tercipta lagi bibit-bibit baru yang akan melakukan tindakan serupa. Pencabutan pelegalan miras pun, akan menjadi langkah tepat agar tak ada lagi ruang bagi para produsen miras. Keharaman miras ini sudah jelas dampak buruknya bagi pengonsumsi itu sendiri maupun bagi masyarakat. Kesehatan fisik juga mental, kecanduan, keamanan dan ketertiban masyarakat terganggu merupakan beberapa dampak buruk diakibatkan miras. Sedangkan Islam, mengharamkan miras ini dengan sangat tegas. Tak ada toleransi bagi produsen maupun konsumen, karena aturannya datang langsung dari Allah Sang pencipta semesta. Dosa besar, laknat Allah, tak bisa masuk surga dan merasakan pedihnya siksa neraka adalah adzab bagi mereka yang berkecimplung dalam dunia miras. 

Dari Abu Darda, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ﻻَ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣُﺪْﻣِﻦُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ .

“Pecandu khamr tidak akan masuk Surga.” [shahih HR. Ibnu Majah]

Juga dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻟُﻌِﻨَﺖِ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺸْﺮَﺓِ ﺃَﻭْﺟُﻪٍ ﺑِﻌَﻴْﻨِﻬَﺎ ﻭَﻋَﺎﺻِﺮِﻫَﺎ ﻭَﻣُﻌْﺘَﺼِﺮِﻫَﺎ، ﻭَﺑَﺎﺋِﻌِﻬَﺎ ﻭَﻣُﺒْﺘَﺎﻋِﻬَﺎ، ﻭَﺣَﺎﻣِﻠِﻬَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﺤْﻤُﻮﻟَﺔِ ﺇِﻟَﻴْﻪِ، ﻭَﺁﻛِﻞِ ﺛَﻤَﻨِﻬَﺎ، ﻭَﺷَﺎﺭِﺑِﻬَﺎ ﻭَﺳَﺎﻗِﻴﻬَﺎ .

‘Khamr dilaknat pada sepuluh hal; (1) pada zatnya, (2) pemerasnya, (3) orang yang memerasnya untuk diminum sendiri, (4) penjualnya, (5) pembelinya, (6) pembawanya, (7) orang yang meminta orang lain untuk membawanya, (8) orang yang memakan hasil penjualannya, (9) peminumnya, dan (10) orang yang menuangkannya.’” [shahih HR. Abu Daud dan Ibnu Majah]. 


Namun, nyatanya ancaman semacam ini yang sejak lama ada tak kunjung digubris oleh pemerintah. Karena ini adalah Negara yang bukan hanya penganut Islam saja didalamnya, hingga aturan islam dianggap tak layak diterapkan. Maka pemerintah tak bisa dengan mudah mencabut pelegalan miras. Lihatlah, betapa Islam mengatur segala peradaban menuju kegemilangan generasi tanpa tapi. Lalu generasi seperti apa sesungguhnya yang diharapkan negeri ini?



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!