Saturday, May 26, 2018

Teori Tickle and Down Effect


Oleh : Indriani, SE, Ak

(Ibu Rumah Tangga, Penulis, Alumni KSEI (Kelompok Study Ekonomi Islam), Founder Konsultasi Remaja Islam)


Masih membahas terkait ekonomi. Di mana kali ini akan dibahas salah satu teori di dalam ekonomi Kapitalisme, yaitu Teori Tickle and Down Effect. Teori yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menjamin efek rembesan ke bawah. Maksudnya adalah bahwa dalam teori ini, ketika ekonomi tumbuh maka secara otomatis akan mengalirkan pendapatan ke bawah. Dan ini menjamin berkurangnya kemiskinan di kalangan bawah.


Pendek kata, rumus mereka untuk menyelesaikan masalah ekonomi yaitu dengan pertumbuhan ekonomi. Seolah-olah ketika ekonomi tumbuh dan pertumbuhan tersebut berjalan secara konstan, maka semua masalah ekonomi bisa diselesaikan. Kenyataannya tidak demikian. Bahkan, dengan asumsi pertumbuhan 1 persen bisa menyerap 200.000 tenaga kerja, dan identik dengan terselesaikannya kemiskinan 200.000 orang, ternyata juga tetap tidak bisa mengurangi angka kemiskinan. Sehingga teori ini jelas-jelas tidak terbukti dan nyata-nyata utopis. Karena pada faktanya menyelesaikan kemiskinan dengan bertumpu pada pertumbuhan ekonomi itu terbukti gagal.


"Kesalahan paling fatal dari teori atau konsep di atas terletak pada kesalahan cara pandang terhadap masalah kemiskinan, yang dilihat bukan sebagai masalah individu. Artinya, masalah kemiskinan ini tidak dilihat sebagai masalah orang perorang, tetapi dilihat sebagai masalah orang secara kolektif atau akumulatif. Dengan kata, yang dianggap miskin itu bukan individu per individu, tetapi negaranya. Karena itu, yang digenjot adalah produksi dan pendapatan negara. Dengan asumsi, kalau produksi nasional meningkat, pendapatan nasional meningkat, secara otomatis pendapatan per kepala (income per capita) juga meningkat. Padahal, belum tentu meningkatnya jumlah produksi dan pendapatan nasional itu akan mengalir ke bawah, sampai ke tingkat individu per individu. Akibatnya, meski jumlah produksi dan pendapatan nasional terus bertambah secara signifikan, tetapi angka kemiskinan pun tidak pernah berkurang". (Muqoddimah Sistem Ekonomi Islam)


Oleh karena itu, teori Tickle and Down adalah sebuah teori yang utopis. Karena masalah pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan sampai pada level paling bawah, pada kenyataannya tidak pernah terjadi. Dan pertumbuhan ekonomi tersebut hanya menguntungkan mereka yang berada di level atas. Sedangkan mereka yang berada di level bawah tidak kebagian apapun kecuali dampak negatif dari produksi yang semakin tinggi, tanpa diimbangi distribusi yang tepat. Inilah ekonomi Kapitalisme yang sejatinya hanya penuh dengan tambal sulam untuk menutupi kebobrokan demi kebobrokan sistem yang hakikatnya hanya menyejahterakan kaum yang bermodal.


Berbeda dengan ekonomi Islam yang memandang pemenuhan kebutuhan harus sampai pada level individu per individu. Sehingga apabila ada masyarakat yang miskin, maka negara akan segera bertindak dengan cepat untuk menangani masalah tersebut. Bahkan, pada era Khalifah Umar bin Khattab, beliau sendiri yang melakukan sidak ke tengah-tengah masyarakatnya pada malam hari. Dan saat ditemukan ada rakyatnya yang kelaparan, beliau tidak segan-segan mengangkat sendiri bahan pokok untuk diserahkan ke rakyat yang membutuhkan tersebut. Sungguh luar biasa bukan?


Dan tentu, sosok pemimpin terbaik serta sistem ekonomi yang ideal ini tidak akan diketemukan pada sistem Kapitalisme, yang sejatinya adalah buatan manusia. Kedua hal tersebut hanya akan didapatkan saat Sistem Islam diterapkan di tengah-tengah manusia. Karena dalam sistem Islam, aturan yang diterapkan semuanya bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits, yang merupakan pedoman hidup manusia yang hakiki yang bersumber dari Allah SWT. Wallahu'alam bi shawab.


Sumber rujukan : Buku Muqoddimah Sistem Ekonomi Islam


Oleh : Indriani, SE, Ak

(Ibu Rumah Tangga, Penulis, Alumni KSEI (Kelompok Study Ekonomi Islam), Founder Konsultasi Remaja Islam)



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!