Tuesday, May 8, 2018

Tak Merindu Surga


Oleh : Mila Hanifa, SPd*

(Pemerhati Pendidikan dan Generasi)

Sebut saja namanya Fira.  Seorang gadis berusia 20 tahunan. Bertemu tidak sengaja di salah satu pusat keramaian.  Entah mengapa kok jadi klik ngomong dengannya. Fira pun tanpa sungkan bercerita dia pernah mencoba dua kali bunuh diri.  Pada kali lain kami bertemu, tanpa ragu menceritakan dia kepingin murtad. Astaghfirullah!  Satu hal yang membuat bingung, kok bisa ya orang segitu santainya  cerita pernah depresi sampai mau bunuh diri,  plus murtad pula. Entah dia bohong atau jujur. Namun yang pasti, sohib baru ku ini sangat membutuhkan  “bantuan”  agar bisa survive dan menjaga iman yang entah tinggal berapa persen tersisa. 

Merenungkan kasus Fira, dan mungkin juga banyak menimpa generasi muda kini , membuatku tak habis pikir. Mengapa mereka bisa selemah itu? Sebegitu tidak pentingkah hidup ini? Betapa tidak pentingkah dienul Islam ini baginya? Tak merindu surga kah dia? Apa surga neraka, yaumul hisab alias akhirat tak pernah terpikir kedahsyatannya? Serta seabreg pertanyaan berebut melintas di kepala.

Dari hasil ngobrol lebih mendalam,  Fira menceritakan kondisi keluarganya yang brokenhome. Dia merasa tidak mendapat perhatian seutuhnya dari ayah dan  bunda. Seolah ingin membuka mata kedua ortunya,  bahwa dia “ada” di dekat mereka. Tapi mereka berdua tak perduli. Mungkin dengan bunuh diri atau menganut agama yang berbeda dengan mereka , akan muncul penyesalan telah mengabaikan kehadiran Fira di dunia. Ah, betapa sederhana cara pikirnya. Tak sempat mungkin dia menimbang dampak yang merugikan di dunia dan akhirat. Belum sempat digali,  apakah pernah mencicipi narkoba dan gaul bebas pula.  Ah semoga tidak. Tak kebayang ruwetnya hidup gadis muda ini.

Usia Pasti Bertambah , Berpikir Dewasa Belum Tentu

Usia boleh 20 tahun, tapi kemampuan berpikir tentang baik dan buruk sepertinya masih kalah sama anak 7 tahun yang sudah mumayyiz. Piye bisa muncul fenomena seperti ini?  Keadaan ini,  hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang menimpa anak muda kekinian. Belum fix tujuan hidup. Bahkan mungkin selama ini dia hidup - tak lebih - hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan naluri semata . Tanpa pernah mengkaitkan dengan tujuan yang lebih tinggi, akhirat.

Mungkin kita sering mendengar kalimat ini, “ Tua itu pasti, dewasa belum tentu”. Ada benarnya kan? Melihat banyak manusia –bahkan yang sudah uzur-  bertambah umur tapi tak dewasa menyikapi persoalan hidup. Kasihan, prihatin. Tapi mau diapain.  Inilah kenyataan kerusakan dan kelemahan berpikir yang harus dialami umat ini. Umat yang sebelumnya menjadi “khairu ummah” tapi kemudian mundur dari ketinggian taraf berfikirnya. Para pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus , ternyata tidak sedikit yang menjadi pembebek gaya hidup asing yang jauh dari tuntunan agama. Bagaimana tidak, kasus bunuh diri yang awalnya hanya marak di negri-negri non muslim. Ternyata di negeri  mayoritas muslim pun akhirnya terjadi. Tak jauh beda. 

Padahal dewasa sejatinya dalam pengertian Islam adalah orang yang sudah dikenai taklif  (beban) hukum, disebut mukallaf.  Pada fase ini setiap perbuatan yang dikerjakan, bakal Allah minta pertanggung jawaban.  Jelas beda sama anak kecil atau sebelum baligh, mereka belum diberi taklif.  Jadi pentaklifan (pembebanan)  hukum ada karena manusia telah mencapai akil baligh.  Bagaimana dengan Fira? Seorang yang sudah mukallaf, tapi belum paham apa saja beban hukum atas dirinya.. Badan segede Jayen tapi pikirannya masih kayak Nobita (emang Jayen sama Nobita pinteran mana? Bingung kan...He he).

Mengapa belum terbentuk pola pikir yang “pas” seiring bertambahnya  usia ? Banyak faktor yang bisa ditunjuk. Pertama, karena pengaruh lingkungan terdekat (keluarga). Keluarga yang minim pola asuh yang benar, sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir dan sikap pada anak.  Bentukan Fira , sedikit banyak menggambarkan rapuhnya keluarga mereka. Diduga kuat, terjadi pengabaian pendidikan yang dibutuhkan baginya.  Padahal itu menjadi salah satu hak mendasar anak. Selain tentu saja wajib memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya, seperti memberi makan, pakaian, tempat tinggal , juga kasih sayang dll.

Disadari atau tidak , masih banyak ortu yang belum punya kecakapan dalam mentarbiyah buah hati mereka. Tarbiyah (mendidik) bertujuan membentuk kepribadian Islami sejak dini. Anak memang dikasih makan setiap hari. Tapi mereka lupa memberi “asupan” bergizi untuk pemikiran dan sikapnya. Ortu senang fisik anaknya gemuk. Lucu dan menggemaskan. Tapi mereka tidak sedih betapa “langsing” pemikirannya. Betapa tidak mandiri, tidak punya tanggung jawab. Lebih jauh lagi,  tidak mampu memikirkan dan menimbang dampak dari apa yang dia pilih dan lakukan. Bahkan bisa jadi anak tak mengenal Rabb-nya. Astaghfirullah. 

Padahal Nabi bersabda : “ Setiap bayi dilahirkan di atas fithrah, lalu ibu bapaknya lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman, pemahaman tentang mana yang terpuji dan tercela, juga solusi yang benar dalam menyikapi persoalan – persoalan hidup . Termasuk mengimani hari pertanggung jawaban di hadapan Al Khalik adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan sekedar informasi belaka.  Atau sekedar diwariskan. Dia harus ditanamkan sejak dini dan trus dipupuk agar menjadi sebentuk pemahaman yang menghujam kuat di pemikiran anak. Sehingga mampu mempengaruhi tingkah lakunya ke depan saat ia sudah dewasa.

Ketika Islam menjadi satu-satunya standar pemikiran dan perbuatannya, apakah mungkin ia terpikir untuk murtad? Atau bunuh diri  yang jelas-jelas bukan solusi atas persoalan hidupnya selama ini. Setiap muslim sejatinya  tidak ada yang emoh ke Surga, tapi aneh bukan kalau apa yang dilakukannya di dunia justru menjauhkan dirinya dari tempat terindah tersebut.  Bisa jadi , Fira mewakili kemusliman yang diwariskan orangtua. Tanpa sedikit pun upaya menjangkau dan membuktikan kebenaran dien yang sudah lama mereka –sekeluarga-  anut. 

Sampai di sini, ortu harus banyak introsfeksi dan berbenah . Mencari ilmu agar bisa mengemban tugas mendidik generasi. Apalagi para ibu, Islam memberi dia tugas mulia sebagai madrasatun ‘uula  (sekolah yang pertama) bagi buah hatinya. Tapi memang banyak faktor yang “memalingkan” orangtua dari tugas utamanya. Kehidupan yang semakin sulit , tuntutan prestise dan  life style kekinian turut mempengaruhi pilihan amal para orangtua.

Kedua, bisa juga pengaruh lingkungan sekitar (sekolah dan masyarakat). Selain keluarga maka ketika anak di sekolah atau bergaul di lingkungan tempat tinggal , dia akan mendapatkan fakta atau informasi yang akan mempengaruhi cara pikir dan sikapnya. Apalagi kalau ternyata tarbiyah aulad di keluarga tidak memperkuat pondasi pembentukan kepribadian anak, maka pengaruh lingkungan bisa jadi lebih kuat mencengkeram . 

Banyak fakta kerusakan moral dan penyalahgunaan narkoba, bukanlah masalah yang datang dari keluarga. Tapi karena pertemanan dan media yang tak tersaring muatannya. Ibarat anak ayam kehilangan induk , eh dia juga malah tersesat di hutan belantara yang banyak binatang buasnya. Malang nian nasib anak yang tak tersentuh pendidikan Islam sejak dini. Bagitu rapuh, mudah terbawa arus kerusakan yang dijajakan masif.

Ketiga, ditambah sistem politik yang diterapkan di negeri-negeri muslim, sama sekali tidak perduli dengan itu semua. Hukum yang diterapkan jauh dari Syariah Islam, kecuali pengaturan pada ranah individu dan ibadah.  Sedangkan pendidikan, ekonomi, sosial dan sebagainya menjiplak Barat. Dampak langsungnya adalah segala kerusakan yang dilahirkan dari sistem di luar Islam , akhirnya diidap oleh negeri-negeri muslim. Kerusakan moral, defresi, tingkat kriminalitas yang tinggi, termasuk juga lost generation mewarnai kondisi umat hari ini .

Harus Bagaimana?? Masih adakah harapan menuju lebih baik ?

Tentu saja. Karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Fira dan generasi muda yang lain masih bisa direhabilitasi. Dengan apa? Islam. Hanya dien yang berasal dari Sang Pencipta ini, yang mampu memperbaiki pola pikir dan pola sikap manusia.  Karena dia berasal dari Allah yang tahu persis kondisi hambanya. 

Pembinaan intensif (sesuai Islam) akan secara bertahap membenahi proses keimanan seseorang. Membenahi pola pikirnya. Memperjelas tujuan hidupnya. Membangun kepemimpinan berpikir supaya mampu menetapkan solusi terbaik bagi hidupnya. Hidup di zaman now yang begitu ruwet masalahnya. Fira bisa terselamatkan, jika dia terus istiqomah mengkaji dan mengamalkan ilmunya. Kembali merindukan Surga yang dijanjikan seluas langit dan bumi bagi hambaNya yang bertakwa. Seberat apapun dosa yang dipikul,  Allah begitu murah maghfirah nya.

Tapi masih banyak di luar sana, generasi muda muslim yang sumpek dan sulit hidupnya. Mereka mencari bahagia di sudut-sudut kota dengan hura-hura atau membuang masa muda dengan percuma. Bahkan terlibat tindak kriminal karena sudah tidak tau cari duit halal seperti apa. Maka tidak mungkin memaksanya mengkaji Islam kecuali hidayah ini sampai di hati terbuka. Dibutuhkan dakwah yang masif dan mencerahkan, tentu saja dengan kemasan menarik. Maka perlu ada para kreator dan inovator di medan dakwah yang luas , agar “tembok” penghalang sampainya hidayah kepada segenap umat bisa dihancurkan. Agar mereka kembali mau tunduk kepada aqidah dan syariat yang mulia, Islam.

Masyarakat muslim sangat penting untuk selalu diingatkan dengan semua sarana yang memungkinkan, media sosial misalnya. Untuk ikut andil memperbaiki generasi muda. Jangan menambah persoalan yang ada dengan menebar kebencian kepada usaha-usaha tulus membina generasi. Dituduh kajian radikal lah. Teroris lah. Apakah kita rela, kehilangan potensi pemuda yang begitu besar? Justru malah membiarkan  mereka “menyembah” peradaban Asing. Menjadi bidak-bidak yang membesarkan bisnis kemaksiatan. Sedangkan pemuda yang istiqomah di jalan Islam dikucilkan gegara islamophobia. Sungguh menyesakkan dada.

Padahal hanya dengan kerja bersama , masalah generasi ini bisa dituntaskan segera. Sekaligus mampu merombak sistem yang sudah berurat berakar merusak sendi-sendi kehidupan umat. Hingga hampir saja kita kehilangan segalanya. Shubhanallah. Hanya kepada Allah , Rabbul Izzati kita berharap pertolongan. Sambil mengoptimalkan ikhtiyar manusia untuk menyeru umat kembali kepada Islam .  Semoga segera berubah dari kehidupan yang rusak  karena “tsunami” peradaban asing dengan keberkahan dalam naungan Sistem yang diridhoiNya mampu mengembalikan posisi umat Islam sebagai khairu ummah. 

“Kamu adalah umat yang terbaik  (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS. Ali Imron: 110).

[MH/Des]




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!