Friday, May 18, 2018

Tak Ada Menu Berbuka, Selain Darah dan Air Mata


Oleh : Ana Nazahah


Salah salah hikmah dari berpuasa adalah bisa merasakan penderitaan yang fakir miskin rasa. Sehingga kita bisa sedikit lebih menghargai nikmat rizki yang Allah beri.


Tentunya derita lapar dan dahaga mereka tak sebanding dengan lapar dan dahaga yang kita rasa. Lebih kurang 14 jam di Indonesia hingga 19 jam atau 20 jam di belahan dunia lainnya.


Tak begitu lama, karena semua segera terganti saat masa berbuka, secangkir Es Kopyor dan seabrek menu masakan di atas meja, tertata. Mengantri untuk mengisi lambung kita.


Berbeda dengan fakir miskin, mereka kadang harus menahan rasa lapar berhari-hari lamanya. Kadang makan, kadang tidak. Kadang sehari hanya makan sekali waktu saja. Tak tentu. Tak pasti. Yang jelas tak ada dari mereka  inginkan hidup begitu.


Ini tentang si Miskin, yang mungkin hidup di sekitar kita. Menghirup udara yang sama dengan kita. Berjalan di jalan yang sama dengan kita. Hanya saja, beratnya kebijakan sekulerisme bersikap lebih kejam kepada mereka.


Lalu bagaimana dengan saudara kita di Gaza Palestina, di Gouta Suriah, Di Kashmir India, Rohingya, Afrika dan Somalia? Apa kabar mereka? Bagaimana puasa mereka? Apa menu sahur dan berbuka mereka? Pernahkah kita bertanya?.


Jika saja kita mau sedikit lebih peduli pada sesama. Lebih peka pada persoalan yang menimpa umat. Di sekeliling kita atau di belahan bumi lainnya. Ada saudara kita yang menderita tiada tara. Dalam kelaparan yang sangat. Dalam kesempitan hidup yang menghimpit. 


Tak ada yang memihak mereka. Mengirim sebongkah do'a untuk mereka kadang kita lupa. Apalagi mengirim bala tentara untuk membebaskan mereka dari derita. Tak ada yang peduli nasib mereka, sejak mereka kehilangan Junnah (perisai)nya. Negara digdaya yang pernah membawa mereka, merasakan puncak peradaban gemilang, yang dihormati dunia.


Sungguh sangat berbeda dengan kondisi kita. Allah berikan nikmat mengecap rizki-Nya. Namun dengan tidak tau malunya, kita kadang lupa bersyukur kepada-Nya. Malah mengeluh rizki ini sedikit dan tamak ingin memiliki lebih, dan berakhirlah kita dengan terus mengejar dunia. Lupa hakikat hidup hanya untuk beribadah, mengagungkan-Nya.


Ada apa dengan kita? Lihatlah saudara kita yang sedang mendapat ujian besar berupa dihancurkan rumah dan dibunuh sanak saudara. Tak ada sekolah, yang ada anak-anak kehilangan orang tua, hidup terlunta-lunta.  Tak ada pasar, yang ada hanya puing-puing reruntuhan bangunan bercampur tulang-tulang syuhada. Tak ada menu berbuka, yang tersisa hanya darah dan air mata.


Mereka tak menyerah, keimanan telah berpasung di dalam dada. Lihatnya wajah sumringah mereka, syahid dengan ukiran senyum di wajahnya. Sungguh rasa syukur mereka kepada Allah tak berkurang sedikitpun oleh beratnya ujian. Sungguh keimanan tak dipanen sebelum melewati ujian. 


Semoga Ramadan kali ini kita bisa memupuk iman, belajar bersyukur dari saudara kita yang diberikan hidup sempit, dari rizki yang sedikit. Mantabkan hati berjalan di jalan-Nya. Tak goyah meski dalam susah atau senang. Ingatlah! Nikmat hidup kita hari bisa jadi juga ujian.


#CatatanRamadanday 3


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!