Wednesday, May 2, 2018

Sulitnya Ber"Buruh" di Negeri Sendiri

             

              Oleh : Ummu Aqeela ( Pemerhati Medsos )



Hari Buruh diperingati setiap tahunnya dan  akan ada aksi peringatan yang dilakukan untuk menyuarakan tuntutan-tuntutan serta keinginan untuk mewujudkan kesejahteraan mereka.

Di Jakarta sendiri Aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day akan digelar pada Selasa 1 Mei 2018 dan diperkirakan akan diikuti 25 ribu hingga 30 ribu massa dari berbagai serikat buruh. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono. Dan untuk itu, pihaknya akan mengerahkan sedikitnya 20 ribu personel Polda Metro Jaya dan jajaran polres dan polsek untuk mengamankan aksi peringatan May Day Jakarta. ( Tirto.id 30/04/2018 )



Menilisik Problem Ketenagakerjaan dan Buruh di Indonesia sampai saat ini masih terdapat berbagai masalah, mulai dari sempitnya peluang kerja, tingginya angka pengangguran, upah murah dan jaminan sosial yang seadanya. Dan juga perlakuan yang merugikan bagi para pekerja seperti penganiayaan, tindak asusila, penghinaan, intimidasi sampai pelecehan seksual. Belum lagi persaingan yang harus dihadapi dengan gelombang masuknya Tenaga Kerja Asing di Indonesia yang akan mempersempit eksistensi para Tenaga Kerja Dalam negeri  sehingga semakin sulit ber"Buruh" peluang di negeri sendiri. Akhirnya banyak warga negara Indonesia yang menjadi tenaga kerja di luar negeri dan ini pun menyisakan banyak masalah yang tidak kalah peliknya karena kurangnya perlindungan dan pengawasan dari negara terhadap para tenaga kerja Indonesia di luar negeri. 



Di Indonesia sendiri  buruh dalam Industri terkukung sistem Kapitalis yang sudah mendarah daging yaitu sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi terhadap industri pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Bisa dibayangkan imbasnya buat para buruh dan pekerjanya mereka akan dimanfaatkan tenaga dan pikirannya secara menyeluruh dengan upah yang minim untuk kepentingan Industri dan pengusaha. Sudah terlihat jelas siapa yang paling diuntungkan di sistem ini yaitu segelintir orang yang bermodal besar dan mempunyai kewenangan mengatur pasar usaha di Indonesia. Sedangkan buruh atau pekerja hanya diposisikan sebagai orang yang dianggap tidak mempunyai peran yang aktif dalam kemajuan sebuah perusahaan atau pasar Industri. Padahal dalam sebuah usaha terdapat hubungan mutualisme yaitu hubungan yang saling terkait dan menguntungkan antara satu sama lain.



Melihat permasalahan ketenagakerjaan diatas, tentu saja membutuhkan pemecahan yang baik dan sistematis, karena permasalahan tenaga kerja bukan lagi permasalahan individu yang bisa diselesaikan dengan pendekatan personal, tetapi merupakan persoalan sosial, yang akhirnya membutuhkan penyelesaian yang mendasar dan menyeluruh. Persoalan  yang sangat erat hubungannya dengan fungsi dan tanggung jawab negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya harus diselesaikan melalui kebijakan dan pelaksanaan oleh negara bukan diselesaikan oleh pekerja/buruh dan pengusaha. Sedangkan masalah hubungan kerja dapat diselesaikan oleh pekerja/buruh dan pengusaha. Menghadapi permasalahan yang ada maka pemerintah tidak cukup dengan hanya merevisi perundang-undangan, melainkan mesti mengacu kepada akar permasalahan ketenagakerjaan itu sendiri yaitu perlakuan memanusiakan para pekerja dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya. Dan ang terpenting adalah pemerintah tidak boleh melepaskan fungsinya untuk melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya buruh/pekerja khususnya.



Sedangkan Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, sangat memperhatikan hak asasi manusia, sekalipun dia seorang budak. Para sahabat yang pernah membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik budak maupun orang merdeka, semua merasa puas dengan sikap baik yang beliau berikan. Inilah potret ideal yang bisa dijadikan contoh muamalah antara majikan dengan pembantunya, antara pimpinan dengan pekerjanya. Ada beberapa hadis yang menunjukkan penghargaan Islam terhadap hak masyarakat pekerja. Sebagian besar hadis itu konteksnya adalah berbicara tentang budak. Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa jika budak saja diperlakukan sangat indah oleh Islam, tentu pembantu dan buruh yang bukan budak, posisinya jauh lebih terhormat.


Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah berfirman:

“Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).” (HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442)


Dalam hadist diatas terlihat jelas bagaimana beratnya seorang majikan atau pengusaha yang tidak memberikan hak pekerjanya secara proposional, ini membuktikan bahwa Islam sangat memanusiakan manusia. 

Betapa indahnya adab yang diajarkan dalam Islam ketika bermuamalah dengan pembantu/pekerja. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang kurang memahami esensi ini, sehingga mereka justru menutupi keindahan ajaran agamanya sendiri.














 


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!