Saturday, May 12, 2018

Sob, Jadilah Orang Besar!


Oleh nay beiskara

 (Pemerhati Generasi dan Member Revowriter)


Pemuda dahulu hingga sekarang selalu menjadi tumpuan harapan. Pemikirannya yang outstanding, out of the box seringkali menginspirasi perubahan demi perubahan di setiap zaman. Pun dengan kekuatannya, energinya dan semangat nan membara para pemuda menjadi motor penggerak adili setiap bentuk kezhaliman.


Pemuda dengan mimpi-mimpinya yang melangit mampu torehkan tinta emas bagi peradaban manusia. Yang dengan tekad azzamya yang membulat mampu menumbangkan setiap halang rintang di hadapannya. Dengan visi diri yang terhujam mampu menjadikannya orang besar. 


Orang besar tidak selalu orang yang memiliki badan yang besar dan kuat. Namun, belum tentu pula yang berbadan kecil berjiwa kerdil. Mereka orang-orang yang besar terlihat dari kegundahan alias kegalauan mereka akan sesuatu. Orang yang besar seringkali gundah akan hal-hal yang besar. 


Sebagai teladan bisa disebutkan salah satunya adalah sang pembebas baitul maqdis (Palestina) yaitu Sholahuddin al Ayyubi atau bangsa Eropa mengenalnya dengan Saladin dari suku Kurdi. Seorang pemuda yang setara dengan kekuatan seribu orang. Salah satu orang besar yang melengkapi orang-orang besar dalam sejarah peradaban Islam. Kelak di kemudian hari diangkat menjadi wali Mesir. 


Benarlah ungkapan 'orang besar dilihat dari kegundahannya akan sesuatu'. Apa yang menjadi kegundahan Sholahuddin adalah Jerussalem. Bagaimana merebut kota suci Baitul Maqdis, kiblat pertama kaum muslimin dari tangan pasukan salib. Bagaimana membersihkan tanah para nabi tersebut dari segala bentuk kesyirikan dan membumikan kembali syariah di sana. Hal itulah yang kemudian mendorong Sholahuddin memikirkan dan merealisasikan setiap langkah dan strategi tuk menaklukan Jerussalem. Dan akhirnya tercatatlah namanya dengan tinta emas sepanjang sejarah Islam. 


Masih segar pula dalam ingatan akan seorang besar lainnya yang hingga saat ini dikenal sebagai penakluk benteng Konstantin, Sultan Muhammad al Fatih. Di usianya yang masih sangat muda 23 tahun al Fatih mampu membuktikan bisyarah Rasul dan keyakinan gurunya Syeikh Aaq Syamsuddin bahwa ditangannyalah akan ditaklukkan sebuah kota fenomenal pada zamannya. 


“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).


Hadits di atas yang membuat api jihad dalam diri Sultan Al Fatih menggelora. Pemuda ini terdorong untuk melakukan berbagai upaya tuk runtuhkan dinding Konstantin. Dan upayanya pun menuai hasil. Dinding yang selama berabad-abad tiada yang mampu melubangi sedikitpun akhirnya runtuh bersamaan dengan tumbangnya kesombongan penguasanya. 


Kegundahan Sholahuddin adalah Palestina. Kegundahan Sultan Muhammad al Fatih adalah Konstantinopel. Kedua alasan kegundahan tersebut menjadikan mereka orang-orang besar. Orang-orang yang mampu taklukan dinding tebal kemusyrikan dan keangkuhan. Orang-orang yang dengan visinya yang visioner mampu membebaskan negri-negri dan menggabungkannya dalam kekuasaan Islam.


Pertanyaannya adalah apa yang menjadi kegundahanmu saat ini? Apa yang menjadi kegalauanmu sob? 


Jikalau jawabannya masih seputar hal yang sepele semisal, galau karena putus dari pacar, galau karena update status mantan, galau karena ga bisa blanja-blanji, shopping sana shopping sini, galau ga bisa kerjain tugas, baper karena ngejomblo. Stop sampai di sini ya sob. Mulailah berpikir mengenai sesuatu yang lebih besar. Karena hal itulah yang kan menjadikanmu besar.


Pemuda Hebat, Pikirkan Umat


Sob, pemuda yang besar adalah dia yang memikirkan hal-hal yang besar. Bukan lagi hal-hal yang sifatnya remeh temeh bin sepele. So, bila ingin menjadi orang besar, mulailah dari sekarang pikirkan mengenai hal yang besar, pikirkan mengenai ummat. Itulah yang dilakukan oleh Sholahuddin dan Sultan Al Fatih. 


Seorang ahli tafsir pernah menyampaikan bahwa jika ada orang yang mati sedang dia disibukkan dengan memikirkan dirinya sendiri, maka dia mati kerdil. Adapun seseorang yang mati besar ketika dia mati sedang dia dalam kondisi memikirkan ummat ini. Menjadi orang kerdil atau besar kini menjadi pilihan kita ya sob. Seseorang yang selama hidupnya hanya memikirkan dirinya sendiri, sedih karena hal kecil, dia takkan pernah jadi orang besar. Maka mulailah dari sekarang pikirkan kondisi ummat, kondisi kaum muslimin. Itulah yang kan menjadikan aku, kamu, kita, pemuda yang besar.


Wallahua'lam bishshowwab.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!