Thursday, May 10, 2018

Senyatanya Cinta


Oleh : Rindoe Arrayah



Bicara   tentang  cinta, seolah  tiada  habis  kata  untuk  mengungkapkannya. Baik  itu  tentang  jatuh  cinta, putus  cinta, cinta  buta, cinta  sejati   dan  cinta – cinta  yang  lainnya. Dari  sekian  banyak  penempatan  cinta  itu  tema  tentang  jatuh  cinta. Sepertinya  masih   menduduki   ranking   pertama. Apa  yang  bilang  tiada  habis  sejuta  kata  untuk   menggambarkan  ketika  sedang  jatuh  cinta . Oh...,  cinta.

Sebagai  manusia  yang  merasa  belum  pantas  untuk  memprediksi  diri  sebagai  hamba  tentunya  haruslah  berhati – hati  manakala  menetapkan  dimanakah  cinta  itu  layak  dijatuhkan. Banyak  diantara  kita  terlena  dengan  menjatuhkan  cinta  kepada  manusia  yang tidak  senyatanya  cinta. Karena  hingga  detik  ini  tidak  aku  temui  senyatanya  cinta  yang  begitu  membara  dan  sempurna  melainkan  rasa  cinta  Baginda. Melelah  hatiku,  mengembun  mataku  jika  kudengar, kubaca, kubayangkan  hingga  kusebut  namamu  duhai  Baginda, ya  Rasulullah . Allahumma  Sholli  ‘alaa  sayyidina  Muhammad.

Dalam  suatu  kisah  dan  riwayatnya :

“Aku  rindu..., aku  rindu...,”kata  Rasulullah  SAW  ketika  sedang  duduk  bersama   para  sahabat. Para  sahabat  bertanya  kepada  Rasulullah  SAW ,”Siapakah  gerangan  yang  Engkau  rindukan  Ya  Rasulullah ?”

“Aku  rindu kepada  saudara – saudaraku,“ jawab  Rasulullah  SAW.

“Bukankah  kami  ini  saudara – saudaramu  ya Rasulullah  ?” Tanya  para  sahabat.

“Kalian  sahabat – sahabatku  dan  aku  mencintai  kalian, namun  aku  sangat  rindu  kepada  saudara – saudaraku, jawab  Rasulullah Sahabat  semakin  penasaran  dan sekali  lagi  bertanya  kepada  Rasulullah  SAW. 

“Ya  Rasulullah … , siapakah  gerangan   mereka  yang  Engkau  panggil  dengan  saudara dan  Engkau  sangat  merindukan  itu ?”

Rasulullah  SAW  menjawawb, “Mereka  adalah  umatku  kelak  yang  mana  belum  pernah  melihat  wajahku, belum  pernah  bertemu  denganku, belum  pernah  berbincang – bincang  denganku, tetapi  mereka  sangat  merindukanku  dengan  tulus, ikhlas  dan  penuh  rasa  hormat  kepadaku, mereka  adalah  orang – orang  yang  melanjutkan  perjuanganku . Dan tidak  jarang  mereka  meneteskan  air  mata  karena  menahan  rindu  yang  sangat  kepadaku.

Aku  rindu  kepada  mereka  dan  aku  ingin  bertemu  dengan  mereka.”

Dalam  suatu  riwayat hadits  juga  dikisahkan  . Ketika  itu  Baginda Nabi  Muhammad  SAW  sedang  duduk  berkumpul  bersama  para  sahabatnya  diantaranya   ada  Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali  dan  yang  lainnya. Lalu  Baginda  bertanya  kepada  para  sahabat, “Wahai  sahabatku  tahukah  kalian  siapakah  hamba  Allah  yang  ajaib  imannya ?”

Para  sahabat  semua  terdiam.

Lalu  kemudian  apa  salah  seorang  sahabat  berkata, “Para  Malaikat  ya  Rasulullah .”

“Bagaimana  para  malaikat   tidak  beriman ? Mereka  dekat  dengan  Allah, tentulah  mereka  beriman. Tetapi  bukan  itu  yang  kumaksud ,” jelas  Rasulullah  SAW.

Lalu  para  sahabat  terdiam  kembali.

Tiba  - tiba  salah  seorang  sahabat  kembali  berkata,”ya  Rasulullah   tentulah  para  Nabi  dan  Rasul.”

Nabi  Muhammad  SAW  tersenyum  , lalu  Baginda  berkata, “Bagaimana   para  Nabi  dan Rasul tidak  beriman ? Mereka  adalah  utusan  Allah  dimuka  bumi. Tapi  ada  lagi  yang  lainnya.”  Para  sahabat  terdiam. Bertanya  dalam  diri. Siapa   lagi  yang  ajaib  imannya  itu ?

Hingga  kemudian  salah  seorang  sahabat  berkata, “Ya  Rasulullah,  apakah  kami  sahabatmu ? Apakah  kami  yang  ajaib  imannya  itu  ya  Rasulullah ?”

Bayangkan, Baginda  memandang  para  sahabatnya  satu persatu, Baginda  tersenyum  melihatnya.

Baginda  berkata, “tentulah  kalian  beriman, kalian  dekat  denganku, kalian  membantu  perjuanganku. Bagaimana  mungkin  kalian  tidak  beriman ?”  Tentulah  kalian  beriman. Akan  tetapi  ada  yang  lainnya  yang  kumaksud.

Para  sahabat  terdiam  semua. Mereka   tak  mampu  berkata – kata  lagi.

Tiba – tiba  Rasulullah  SAW  menundukkan  wajahnya. Tak  berapa  lama  Nampak  bulir – bulir  air  mengalir  dari  kedua  matanya. 

Ya…, Rasulullah  menangis.  Hingga  para  sahabat  bertanya, “Mengapa  Engkau  menangis  ya  Rasullullah ?”  Tanpa  disertai  jawaban  kemudian  Rasulullah  mengangkat  wajahnya. Terlihat  semakin  jelas  air  matanya  yang  begitu  deras  membasahi  pipi  hingga  janggutnya.

Lalu  Baginda  berkata, “Wahai sahabatku, tahukah  kalian  siapa  yang  ajaib  imannya itu ? Mereka  adalah  manusia – manusia  yang  lahir  jauh  selepas  wafatku  nanti. Mereka  begitu  mencintai  Allah. Dan  tahukah  kalian  mereka  tidak  pernah  memandangku, mereka  tidak  pernah  melihatku, mereka  tidak  hidup  dekat  denganku  seperti  kalian. Tapi  mereka  begitu  rindu  kepadaku. Dan  saksikanlah  wahai  para  sahabatku  semua, aku  pun  rindu kepada mereka. Mereka  yang  ajaib  imannya. Merekalah  umatku.

Para  sahabat pun  ikut  berurai  air  mata.

Begitulah  kemuliaan  Allah. Bukan  jarak  dan masa  yang  menjadi  ukuran. Bukan  bertemu  wajah  itu  syarat  untuk  membuahkan  cinta  yang  suci. Pengorbanan   dan kesungguhan  untuk  mendambakan  diri  menjadi  kekasih  kepada  kekasih-Nya  di ukur  pada  hati. Dan  terbuktikan  dengan  kesungguhan  beramal  dengan  sunnahnya.

Sudahkah  diri  ini  mencintai  Baginda  Nabi  Muhammad  SAW  dengan  sepenuh  hati ?  Sudah  pantaskah diri  ini  untuk  dirindui  dan  dicintai ?  Sudahkah  kita  senantiasa   berpegang  teguh  pada  risalah  yang  dibawanya   sebagai  bukti   tanda  cinta ?

Buktikan  cinta  kita  dengan  pengorbanan  penuh  kesabaran  dan  keikhlasan. Berjuang  untuk  menerapkan   syariat  Allah  SWT  yang  merupakan   risalah  yang  diemban  oleh  Rasulullah  SAW  harus  kita  jadikan  sebagai  estafet   dalam  perjuangan.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!