Tuesday, May 8, 2018

Sekulerisasi Biang Depolitisasi Masjid


Oleh: Aji Rafika Noor Adita (Pemerhati Masalah Sosial)


Gerakan Nasional Jutaan Relawan Dukung Jokowi dengan membuat program antipolitisasi masjid. Program itu dilakukan melalui ceramah – ceramah dan pengajian yang digelar para relawan. Huforia menjelang tahun 2019 merupakan tahun politik, yakni Pemilu yang diadakan untuk memilih Presiden atau istilah yang lebih dikenal dengan pesta demokrasi. Pada umumnya pesta demokrasi ini identik dengan kampanye dari masing – masing paslon (Pasangan Calon). Dalam kampanye yang sudah tidak asing lagi ditelinga.  Masyarakat kini kian menjadi ajang membanding – bandingkan atau mengunggul – unggulkan jagoan masing – masing, bahkan ada yang menjelek – jelekan lawan politiknya. Hal ini juga yang menyebabkan kekhawatiran khusus bagi relawan. (Sumber Tempo.co).

“Kami melakukan ceramah soal itu tiap ada pengajian  relawan – relawan”, kata Koordinator Gerakan Sylvester matutina di Sarinah, Jakarta Pusat. Ahad, 22 april 2018. Relawan menggagas program ini untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah. (Tempo.co). padahal telah diketahui bahwa koordinator Gerakan “anti politisasi Masjid” dan relawan pendukung Jokowi ini adalah seorang non muslim. Juga tersangka atau wajib lapor (dibawah pengawasan) polisi. Sylvester Matutina pernah mempolisikan Ketua Dewan Masjid Indonesia  (DMI) Jusuf kalla dan Imam besar FPI Habib Rizieq Shihab ungkap Effendy, sebagai Penulis Senior yang juga aktivis sosial media. (Eramuslim.com).

Pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menanggapi ceramah Ketua majelis kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais yang mrminta pengajian di Masjid disisipi undur politik. Moeldoko mengatakan, sebaiknya masjid digunakan untuk menyampaikan syiar Islam. “harus dipisahkan dimana Masjid itu sebagai tempat syiarnya hal – hal yang bagus, jangan dikotori oleh pemikiran – pemikiran yang menyimpang” katanya diGedung Bina Graha, komplek Istana Presiden, Jakarta, Jum’at(27/4/2018). (Merdeka.com).

Islam tidak bisa dipisahkan dari aktivitas politik, karena arti politik dalam Islam adalah pengatur urusan masyarakat dalam dan luar negeri berdasarkan Syari’at Islam. Berbeda arti dengan Politik dari Teori klasik Aristoteles, yakni Politik adalah usaha yang ditempuh warga Negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Politik adalah (dari bahasa Yunani, Politikos yang berarti dari, untuk atau yang berkaitan dengan warga Negara) adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan khususnya dalam Negara. Dan arti lainnya politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. (Wikipedia).

Dari perbedaan makna politik tersebut, maka kebanyakan masyarakat sekarang beranggap bahwa politik itu kotor, hanya perebutan kekuasaan yang nantinya hanya untuk kepentingan penguasa dan kelompoknya saja, akhirnya rakyat yang menjadi korban. 

Oleh karena itu, harus ada edukasi yang benar kepada masyarakat agar mereka faham akan politik yang benar dalam kacamata Islam bahkan melek politik, dan mau melihat fakta kebobrokan dari sistem Sekuler yang bercokol di Negeri ini, yang memisahkan agama dari politik dan kehidupan Dunia, yang mana diketahui bahwa Sekulerisme dalam sebuah ideology yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau Badan Negara harus berdiri terpisah dari Agama atau Kepercayaan. .

Maka para pemilik modal (Kapitalis) melalui antek – anteknya yang sedang berkuasa di Negeri ini tidak akan diam saja jika zona aman dan hagemoni nya akan terkikis oleh umat melalui Kebangkitan Islam politik yang benar berdasarkan Al Qur’an dan As sunah yang dicontohkan oleh Rasul yang sudah pasti ini berasal sang maha pemilik alam semesta. Hanya Islam lah satu – satunya solusi yang tepat bagi masyarakat Indonesia khususnya dan masyrakat Dunia pada umunya, dengan diterapkannya syari’at Islam secara menyeluruh atau kaffah. 

Atas dasar ini, maka wajib bagi kita untuk merevitalisasi fungsi masjid sebagaimana semestinya, seperti yang Rasulullah contohkan ketika awal mula membangun peradaban Islam yang gemilang, pada saat yang tepat beliau Hijrah, dan membangun masjid di Quba sebelum membangun Masjid Nabawi di Madinnah al munawaroh, yang menjadi pusat seluruh kegiatan pemerintahan, memutuskan perkara, ekonomi, pendidikan, politik, tempat pembinaan para kader Dakwah, bahkan persiapan jihad. Dan menjadi pusat pemerintahan Islam dan Rasulullah sebagai Kepala Negaranya yang bernama Daulah Islam yang berpusat di Madinnah al Munawaroh. Sehingga masjid tidak bisa dipisahkan dari aktivitas politik Islam. Hanya dengan ini, kemuliaan umat akan segera terwujud, yang dengan sendirinya akan mengusir penjajah diatas Negeri ini. Dan Islam sebagai Rahmatan lil’alamin pun akan segera terwujud. (wallahu’alam bi shawab).



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!