Tuesday, May 22, 2018

Saya Merasa Aman


Oleh : Silpianah

Baru-baru ini saya dibikin haru sama sebuah video social experiment "Ada Apa Dengan Cadar?" yang viral di media sosial. Tentu ada alasan kenapa social experiment tersebut dilakukan.


Pasca insiden bom di Surabaya, cadar dan pakaian syar'i dengan kerudung panjang menjadi sesuatu yang ditakuti oleh masyarakat. Lebih parahnya pengguna cadar dinilai sebagai teroris. Padahal pakaian syar'i adalah identitas muslimah. Begitupun cadar ia adalah bagian dari islam.


"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.Al-Ahzab: 59).


Menutup aurat dengan pakaian syar'i adalah perintah Allah. Terlepas dari hukum cadar dimana ada yang mengatakan wajib, sunnah, juga ada yang mengatakan mubah dimana ketiganya mempunyai dalil masing-masing, bukankah cadar membantu kaum lelaki dalam menjaga pandangan?


“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS.An-Nur: 30).


Jika hari ini kita mendapati pelaku teror mengenakan pakaian syar'i dan cadar, apakah muslimah di belahan bumi ini yang mengenakan pakaian syar'i  dan cadar lantas pantas disebut teroris? Adalah tuduhan yang sangat keji apabila kau sebut mereka yang bercadar sebagai teroris.


Kita sama-sama tidak menghendaki adanya teror tersebut. Kita sama-sama memerangi terorisme. Bukan memerangi pakaian ataupun cadar. Untuk itu kita sebagai muslim mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan bahwa islam sebagai agama tidak pernah membenarkan aksi-aksi semacam itu. Islam rahmattan lilalamin.


Sekarang, dihatimu yang paling dalam adakah rasa takut kepada perempuan yang bercadar? Saya tidak mengenakan cadar tetapi saya merasa aman bersama mereka yang bercadar. Difoto ini ada dua teman saya yang mengenakan cadar, saya baik-baik saja dan merasa aman. Justru mereka orang-orang yang sangat baik. Contoh kecilnya begini : ketika saya dalam perjalanan pulang bekerja atau aktifitas lain dengan menggunakan angkot, sementara angkot tersebut hanya beroperasi di jalan utama karena batas waktu angkot untuk memasuki jalan kecil menuju rumah telah habis. Jadi untuk sampai ke rumah harus naik ojek.


Baiknya teman saya yang bercadar tersebut yaitu menawarkan diri untuk menjemput di tempat saya turun dari angkot. Dengan senang hati saya menerima tawaran itu. Bukan tentang tak bayar atau ngirit ongkos, tetapi tentang bagaimana mereka peduli agar tidak terjadi "Khalwat". Islam melarang adanya khalwat. Salah satu contoh khalwat adalah ketika kita menggunakan jasa ojek. Kecuali tukang ojeknya juga sama-sama akhwat, it's ok, no khalwat. Faktanya di lapangan yang menjadi tukang ojek banyaknya ya laki-laki.


Dan mereka yang menawarkan bantuan untuk menjemput temannya dengan tujuan menghindari khalwat, bukankah mereka tengah memperjuangkan syariat? Sudah jelas bukan bahwa mereka yang bercadar tidaklah menakutkan, justru mengingatkan kepada sesuatu yang baik.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!