Thursday, May 10, 2018

Rupiah Terus Melemah, Rakyat disuruh Tenang-tenang Saja


Oleh : Silvia Rahma, S.EI ( Muslimah Peduli Negri )


Pasca penolakan gugatan HTI oleh PTUN diketok palu. Hawa panas perjuangan dakwah Islam tak serta merta berhenti atau luntur. Bahkan, prediksi berbagai pihak yang kontra akan dakwah Islam dan menganggap perjuangan dakwah Islam dengan ditolaknya gugatan HTI akan berhenti ini juga terbantahkan. Pasalnya justru hal ini adalah kemenangan bagi perjuangan dakwah Islam. Umat Islam semakin bergelora memperjuangkan ajaran Islam. Khilafah yang merupakan ajaran Islam membawa panas perubahan bagi seluruh permasalahan masyarakat.

Berbagai polemik permasalahan serius sudah menjadi hal yang tak tebantahkan lagi. Mulai dari permasalahan Politik, keamanan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Bak rantai gajah yang susah untuk dilepaskan lagi. Perekonomian salah satunya yang kian hari senakin mencekik masyarakat. Harga berbagai kebutuhaan pokok dan kebutuhan lainnya yang meroket tinggi. Salah satu penyebabnya adalah Nilai tukar rupiah yang terus melemah. Hal ini jelas dipengaruhi oleh kebijakan moneter luar negeri Amerika Serikat yang ingin menaikkan suku bunga acuan. Per Jumat (2/3/2018), nilai tukar rupiah berada di level Rp13.746 terhadap dolar. Semula suku bunga AS pada 2015 ada di kisaran 0-0,25 persen. Saat ini, sudah sampai di kisaran 1,25-1,5 persen. 

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan nilai tukar rupiah bisa terdepresiasi hingga level Rp14.000 terhadap dolar. "Rupiah diprediksi akan terus melemah hingga Maret mendatang. Titik terendah pelemahan rupiah bisa mencapai Rp14.000 per dolar tahun ini. Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak terhadap ; 

1. Aliran modal asing yang keluar dapat semakin tinggi. Saat ini, mencapai Rp 8,6 triliun (year to date/ytd) sejak awal 2018. 

2. Daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

3. Risiko berikutnya adalah beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar. Risiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging) akan naik. 

4. Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Tercatat impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari, karena produksi dalam negeri tak mencukupi konsumsi BBM ( Kompas 06/05/2018).

Itulah berbagai gambaran spekulasi resiko yang jelas akan terjadi. Tentunnya hal tersebut sangat mengkhawatirkan berbagai pihak. Utamanya rakyat yang sangat merasakan dampak pertamanya. Jauh sebelum rupiah terjun bebas rakyat sudah benar-benar merasakan pahitnya efek dari penerapan sistem kapitalisme ini. Yang sangat berpihak kepada kepentingan para kapital. Dengan rupiah yang terus melemah, maka otomatis akan sangat berdampak kepada kesengsaraan rakyat. Bagaimana rakyat bisa tenang-tenang saja?? Benar-benar lepas dari akal sehat manusia jika ada pendapat demikian. Rakyat sudah sedemikian terpuruk dengan berbagai kebijakan pemerintah sebelumnya. Melemahnya rupiah semakin menambah keterpurukan rakyat. MasyaAllah.

Anjloknya rupiah terhadap dolar yang mengganggu kestabilan ekonomi kerap terjadi di negeri ini. Peristiwa serupa juga terjadi di Indonesia dan negara-negara lain, termasuk di negara-negara maju sekalipun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah ini sesungguhnya merupakan salah satu ‘penyakit’ dari sistem ekonomi kapitalisme yang secara inheren rentan menimbulkan krisis.

Ada beberapa faktor fundamental yang menjadi sebab krisis pada sistem ekonomi kapitalisme termasuk krisis mata uang yaitu: penggunaan mata uang kertas (fiat money), sistem finansial yang berbasis riba dan bersifat spekulatif serta liberalisasi perdagangan dan investasi. Hal-hal tersebut tentu saja tidak akan terjadi jika negara ini mengadaposi sistem Islam. Berikut perbedaannya.

Faktor pemicu lain seperti lemahnya ekspor Indonesia dan merosotnya harga-harga komoditas. Sehingga penerimaan devisa Indonesia yang berasal dari ekspor menurun sehingga menggerus neraca transaksi perdagangan. Selain itu, ada pula faktor spekulasi di sektor finansial yang kemudian memicu pelarian modal keluar yang antara lain dipengaruhi oleh anjloknya bursa saham. Semua ini berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Pemerintah dan Bank Indonesia memang tak tinggal diam. Sejumlah langkah ditempuh di antaranya: intervensi pasar oleh BI dengan melepas cadangan devisa; rencana bail-out pasar saham oleh BUMN. Menambah utang dengan menarik utang-utang siaga (stand by loan); hingga membuat sejumlah paket kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu juga standar digunakannya  mata uang kertas (fiat money) yang nilai nominalnya tidak ditopang oleh nilai yang bersifat melekat pada uang itu (intrinsic value). uang menjadi berharga lantaran ia dilegalkan oleh stempel pemerintah atau otoritas moneter suatu negara. Dampaknya, jika ekonomi atau politik negara tersebut melemah, mata uangnya ikut melemah. Standar tersebut juga membuat pemerintah lebih mudah untuk menambah pasokan uang yang selanjutnya dapat mendorong kenaikan inflasi.

Dalam Islam, negara wajib mengadopsi standar mata uang emas dan perak. Dengan demikian uang yang beredar baik dalam bentuk emas dan perak, ataupun mata uang kertas dan logam yang ditopang oleh emas dan perak, nilainya ditopang oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, nilai nominalnya ditentukan oleh harga komoditas yang menjadi fisik atau penopangnya (intrinsic value). Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak bebas memproduksi uang yang beredar. Ia hanya dapat menambah jumlah uang subtitusi baik kertas ataupun logam sejalan dengan peningkatan cadangan emas dan perak yang dimiliki negara.

Berbeda fakta yang terjadi sekarang, dalam ekonomi kapitalis untuk memperkuat nilai tukar mata uangnya, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah menaikkan suku bunga. Dengan harapan minat orang untuk berinvestasi di negara tersebut khususnya di sektor finansial meningkat; permintaan mata uang negara itu pun akan meningkat sehingga nilainya menguat. Pada saat yang sama, sektor perbankan pun akan menaikkan suku bunga pinjaman.

Dalam Islam, segala bentuk perekonomian non riil akan dihapuskan.Kegiatan bisnis yang mengandung riba baik oleh institusi maupun perorangan dianggap sebagai kegiatan yang ilegal yang pelakunya diberi sanksi oleh negara. Kebijakan liberalisasi ekonomi diharamkan. Sektor perdagangan luar negeri seluruhnya harus terikat pada hukum syariah dan diawasi oleh negara. Sebagai contoh, tidak semua negara boleh melakukan transaksi perdagangan dengan Negara Islam/Khilafah. Islam melarang hubungan dagang dengan negara-negara yang berstatus kafir harbi fi’l[an], negara yang sedang berkonfrontasi dengan Negara Islam. Barang-barang tertentu yang oleh negara dipandang dapat memperkuat negara-negara kufur dalam memerangi kaum Muslim dilarang untuk diekspor.

Lebih dari itu, Islam mendorong agar negara dapat menjadi negara yang mandiri dan melarang ketergantungan yang dapat mengakibatkan negara-negara kafir menjajah negara tersebut. Oleh karena itu barang dan jasa yang esensial seperti pangan, energi, infrastruktur dan industri berat harus mampu dihasilkan secara mandiri. Kemandirian dan produktivitas yang tinggi akan mendorong Khilafah menjadi negara eksportir barang dan jasa yang bernilai tinggi. Hal ini tentu saja akan memberikan keuntungan berupa peningkatan cadangan devisa yang dapat dipergunakan dalam banyak hal untuk membangunan kekuatan negara.

Selain itu, Islam mengharamkan adanya liberalisasi investasi. Tidak ada lagi Investasi asing. Karena Investasi akan digantikan dengan investasi dalam negri melalui Baitul Mall. Pendapatan dari Zakat akan dipergunakan oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Pendapatan selain zakat, seperti dari kharaj, ghanimah, dan yang lainya akan dipergunakan untuk membiayai administrasi negara. Pengelolaan kepemilikan umum oleh negara juga akan mampu memberikan kontribusi pemasukan yang sangat besar kepada baitul mal. Selanjutnya negara akan memberikan jaminan ekonomi sesuai dengan yang dibutuhkan rakyatnya. Kebutuhan modal, lahan pekerjaan ataupun pelatihan ketrampilan dan sebagainya. Akses permodalan tidak mengenal istilah bunga. Nilai tukar mata uang stabil. Inflasi rendah dan terkendali. Dengan demikian, investasi akan berkembang sehingga ekonomi akan tumbuh dengan pesat, stabil dan merata. Semuanya dapat segera terwujud dengan upaya dakwah mewujudkan perubahan di tengah masyarakat. Bersama seluruh umat Islam menuju kepada penerapan aturan Islam.

Wallahu'alam bi showab.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!