Saturday, May 12, 2018

Rupiah Melemah, Rakyat Menjerit


Oleh : dr. Toreni Yurista


Menyedihkan. Nilai rupiah terhadap dolar melemah sangat dalam hingga menembus Rp 14.000,00. Padahal Jokowi berjanji di tahun 2014 lalu bahwa rupiah pasti akan mencapai Rp10.000,00 per dolar.

Janji tinggallah janji. Tatkala janji tak mampu ditempati, berlindunglah si empunya janji dengan berbagai dalih. Mulai dari kelesuan ekonomi dunia sampai dagelan potensi keuntungan ekspor.

Tak elok rasanya beralasan bahwa indikator perekonomian negara-negara lain saat ini jauh lebih buruk dari kita. Jika kondisi negara lain lebih buruk, bukan berarti kita baik-baik saja.

Dalam waktu singkat, harga-harga akan merangkak naik. Harga BBM, yang selama ini menyesuaikan harga minyak dunia, akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya, akan terjadi kenaikan harga BBM berbagai jenis.

Padahal Ramadhan akan tiba dalam hitungan hari. Kenaikan harga bahan pokok diprediksi menjadi berlipat-lipat. Penurunan daya beli masyarakat akan berdampak keras pada perputaran ekonomi.

Resiko lebih besar adalah pembengkakan cicilan hutang yang harus dibayar. Hampir separuh hutang negara ada dalam denominasi mata uang dolar. Dengan begitu, APBN akan semakin terbebani.

Jika sudah demikian, subsidi apalagi yang akan dipangkas? Pajak mana lagi yang akan dinaikkan? Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sekarang saja sudah terlambat cair.

Belum lagi sektor kesehatan yang saat ini sangat membutuhkan kucuran dana APBN. BPJS Kesehatan yang defisit berat sudah sering menunggak pembayaran ke  rumah sakit. Perawatan jadi tak maksimal, obat - obatan banyak yang tak tersedia.

Lucunya, pemerintah bersikap biasa dengan mengatakan nilai ekspor akan lebih besar setelah menguatnya dolar. Apanya yang mau diekspor, Pak?

Bagaimana pun juga komponen bahan baku atau komponen produksi komoditas ekspor masih banyak yang diimpor. Lagi pula, nilai ekspor juga cukup kecil jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Beginilah kalau penguasa tak lagi berpihak pada rakyat. Penderitaan rakyat dianggap seperti dagelan srimulat. Cacing dalam sarden dibilang bergizi. Beras mahal disuruh tawar sendiri. Rupiah melemah dibilang baik-baik saja.

Sungguh, hati ini rindu penguasa seperti Khalifah Umar bin Khattab yang selalu serius mengurus umat. Jangankan manusia, keledai di jalanan pun beliau perhatikan.

 “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.(Umar bin Khattab ra) 

Penulis:

dr. Toreni Yurista


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!