Thursday, May 17, 2018

Rupiah Melemah, akankah Indonesia Benar – Benar Kalah?


Oleh : ummu Hanif - Gresik


Pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy megnungkapkan potensi krisis besar yang akan dihadapi Indonesia menyusul nilai kurs rupiah yang sudah mencapai Rp14ribu per US Dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah tersebut merupakan yang terlemah sejak Desember 2015. Menurut dia, jika krisis tahun 1997 yang melanda Indonesia disebabkan oleh faktor moneter, sementara krisis tahun 2008 pemicunya adalah perdagangan, maka krisis yang akan terjadi di tahun 2018 lebih berbahaya. (CNNIndonesia.com, 11/5/2018)


Masih dalam sumber yang sama, pengamat ekonomi politik Salamudin Daeng menyatakan bahwa pemerintah sengaja membiarkan kurs rupiah melemah agar penerimaan negara dari utang dalam bentuk dolar bisa bertambah. Menurut dia, jika rupiah sudah mencapai tingkat Rp14.000 per dolar AS maka pemerintah bisa mendapatkan penerimaan yang lebih besar jika dikonversi ke dalam rupiah dengan target utang yang sama.

Salamudin menjelaskan target utang pemerintah untuk tahun ini masih tetap Rp400-Rp500 triliun dengan asumsi kursnya masih menggunakan kurs lama yakni Rp13.400. Untuk itu, menurut dia, jika kurs sudah mencapai Rp14 ribu dengan target utang yang sama, maka pemerintah bisa mendapatkan tambahan Rp50 Triliun. Belum lagi pajak ekspor-impor, yang tentu saja juga meningkat, karena dikurskan dengan dolar.


Sekilas, memang kondisi ini akan membawa berkah, karena penerimaan APBN dari sektor pajak bertambah. Namun di sisi lain, akan sangat merugikan ketika hutang luar negri sudah jatuh tempo. Selain itu, naiknya kurs dollar akan berakibat naiknya harga kebutuhan. 


Jika kondisi ini dibiarkan, maka makna kesejahteraan yang dicita – citakan hanya akan menjadi angan. Karena semakin rakyat kecil tidak memiliki daya beli. Dampak lanjutannya, angka kemiskinan akan terus bertambah. Memang, pemerintah dalam hal ini Badan Pusat Statistik merilis laporan angka kemiskinan 2007-2017 yang terus menurun secara signifikan, namun standar kemiskinan yang digunakan Pemerintah sangat rendah. Pada tahun 2016 Pemerintah mendefinisikan garis kemiskinan dengan tingkat perdapatan per bulan (per kapita) sebanyak Rp. 354,386 (atau sekitar USD $25), artinya kurang dari USD $1 per hari. Angka ini lebih rendah dari standar Bank Dunia USD $1,25 per hari, atau sekitar Rp. 17.000,- per hari (kurs Rp. 13.600). Sungguh standar kemiskinan Bank Dunia sangatlah rendah, terlebih lagi standar kemiskinan yang digunakan Pemerintah. Maka dapat dikatakan angka kemiskinan yang terus menurun tidak sesuai realitas hidup masyarakat Indonesia di mana harga-harga kebutuhan hidup terus meningkat, dan tak terbeli oleh masyarakat.


Terkait dengan hutang, yang juga akan semakin besar nilainya, jika nilai kurs rupiah melemah, menjadi ancam,an serius tersendiri bagi negeri ini. Peningkatan hutang luar negeri senantiasa berkorelasi negatif dengan kedaulatan Indonesia. Artinya semakin bertambah hutang, semakin tidak berdaulat negeri ini. Pasalnya, setiap perjanjian hutang luar negeri dengan Bank Dunia atau lembaga pendanaan internasional lainnya, senantiasa diikuti dengan syarat pembuatan Undang-undang yang menguntungkan pihak kreditur. Alhasil banyak dihasilkan Undang-undang dan kebijakan yang berbau liberal, seperti UU Liberalisasi Migas, UU Liberalisasi Hutan, privatisasi BUMN, dll.


Jika kita mau untuk terus mengawal negeri ini, harusnya kita semakin peduli. Nyata sistem ekonomi kapitalis telah membawa negeri ini jauh dari makna sejahtera. Sampai kapan kita tidak mau berbenah. Mungkinkah diskursus 2030 Indonesia buabar akan menjadi kenyataan? Saat ini nilai rupiah makin melemah, akankah Indonesia benar – benar akan kalah?



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!