Wednesday, May 16, 2018

Rukyat atau Hilal, Patokan Untuk Memulai Puasa Ramadhan?


PertanyaanUstadzah, tak lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Biasanya dalam penentuan awal Ramadhan atau Syawal ada berbeda pendapat. Antara hisab dan rukyat. Mana yg harus kita ikuti? 


 Jawab:  Waalaikumssalam Wr.Wb.


 Sebagian besar ulama, termasuk imam empat madzhab bersepakat bahwa penentuan Ramadhan atau Syawal harus berdasarkan rukyatul hilal (melihat hilal). 


   Ini berdasar hadits dari Rasulullah SAW,


  عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم الشهر فعدوا ثلاثين. رواه البخاري ومسلم والنسائي. وفي لفظ: عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين. 


 Dari Abu Hurairah RA berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila bulan terhalang mendung atas kalian, maka hitunglah tigapuluh". (HR Bukhari, Muslim dan Nasai.)


 Dan dalam lafadz lain. Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda:


 "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka perkirakanlah tigapuluh".


     وعن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوما. رواه مسلم وابن ماجه. 


 Dan dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kalian telah melihat hilal, maka berpuasalah. Dan apabila kalian telah melihat hilal, maka berbukalah. Lalu apabila kalian terhalang mendung, maka berpuasalah tigapuluh hari". 


Maka menurut kami, pendapat ini lebih kuat. Menurut jumhur ulama, ketika hilal yang terlihat di suatu wilayah atau negeri, maka seluruh dunia wajib berpuasa.

  Dalam kita Miizanul Kubra disebutkan,


   أنه يلزم حكمه البلد القريب دون البعيد. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح، بالنسبة إلى العارف بالحساب. [مييزان الكبرى لعبد الوهاب الشعرانى، الجزء الثاني، ص: 17-18]. 


Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'iy dan Imam Ahmad) telah sepakat bahwa ketika bulan sabit telah terlihat di belahan dunia yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja ashhab Syafi'iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat (penduduk) negeri yang dekat, bukan (penduduk negeri) yang jauh.  

Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan (dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan), kecuali menurut pendapat Ibnu Syuraih, bagi orang yang mengerti hisab.   Dan hadis-hadis lain yang senada.


     وروي عن جماعة من الأنصار قالوا غم علينا هلال شوال، فأصبحنا صياما، فجاء ركب من آخر النهار، فشهدوا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم أنهم رأوا الهلال بالأمس، فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفطروا من يومهم، وأن يخرجوا لعيدهم من الغد. رواه الخمسة إلا الترمذي.  


Dan telah diriwayatkan dari Jama'ah Anshar bahwa mereka telah berkata: "Hilal bulan Sawal telah tertutup mendung atas kami, lalu pagi harinya kami berpuasa, lalu pada sore harinya datang kafilah, lalu mereka bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemaren, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka berbuka pada hari itu juga, dan agar keluar untuk shalat 'idul fitri pada pagi harinya". 


 Dalam kita Miizanul Kubra disebutkan,   أنه يلزم حكمه البلد القريب دون البعيد. واتفقوا على أنه لااعتبار بمعرفة الحساب والمنازل، إلا فى وجه عن ابن شريح، بالنسبة إلى العارف بالحساب. [مييزان الكبرى لعبد الوهاب الشعرانى، الجزء الثاني، ص: 17-18].


Empat Imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'iy dan Imam Ahmad) telah sepakat bahwa ketika bulan sabit telah terlihat di belahan dunia yang jauh, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Hanya saja ashhab Syafi'iy telah mentashih bahwa hukum tersebut hanya mengikat (penduduk) negeri yang dekat, bukan (penduduk negeri) yang jauh.  Dan mereka telah sepakat bahwasanya pengetahuan hisab dan posisi bintang itu tidak diperhitungkan (dalam menentukan awal dan akhir Ramadlan), kecuali menurut pendapat Ibnu Syuraih, bagi orang yang mengerti hisab.


  Pendapat serupa juga disebutkan Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh As-Sunnahnya,


  عليه وسلم: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته … وهو خطاب عام لجميع الأمة، فمن رآه منهم، في أي مكان، كان ذلك رؤية لهم جميعا [فقه السنة للسيد سابق، ص: 367-369]. 


Jumhur (mayoritas ulama mujtahid) berpendapat bahwasanya perbedaan mathla' itu tidak diperhitungkan. Kapan saja penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit, maka wajib puasa atas semua penduduk dunia, karena Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihat bulan sabit, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya…..".


 Seruan Nabi itu ditujukan kepada semua umat Islam. Maka siapa saja di antara mereka telah melihat bulan sabit di tempat manapun, maka hal itu menjadi rukyat bagi mereka semua. 


 Maka jika merujuk pendapat para ulama di atas, ketika di Makkah (yang berselisih waktu 4 jam dengan Indonesia) telah tampak hilal dengan disaksikan oleh saksi yang adil, maka di Indonesia dan seluruh dunia wajib berpuasa. Allahu a’lam bis shawab.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!