Thursday, May 17, 2018

Ramadhan Sang Tamu Mulia


Oleh: Ruruh Anjar


Jika bertemu dengan tamu luar biasa istimewa, apa yang akan kita lakukan?. Pastinya kita akan mempersiapkan diri dengan optimal, menyambut dengan semaksimal mungkin, dan melayani  dengan senang sepenuh hati.

Begitu pula yang seharusnya kita lakukan terhadap bulan Ramadhan, bulan mulia yang luar biasa istimewa. Di bulan inilah amal manusia dilipatgandakan pahalanya dan diampuni dosa-dosanya. Di bulan ini waktu diturunkannya Alquran yang mulia, sebuah petunjuk hidup yang berasal dari Allah dan terjaga kandungannya.

Oleh sebab itu selayaknyalah kita bergembira, seperti para sahabat yang dilukiskan oleh Ma’la bin Fadhal, “Dulu sahabat Rasulullah berdoa kepada Allah sejak 6 (enam) bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama 6 (enam) bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu.  Di antara doa mereka ialah ‘Ya Allah sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Ya Allah, selamatkan aku ke Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima’”.

Itu maknanya, kita memang menunggu-nunggu kehadiran bulan Ramadhan yang diliputi dengan keagungan dan kemuliaan ini.

Apalagi perintah shaum di bulan Ramadhan hanya ditujukan kepada orang-orang beriman seperti di dalam Alquran Surat Al Baqarah; 183 yang diawali dengan kalimat Yaa ayyuhalladzi na aamanu…(hai orang-orang yang beriman…). Mendengar seruan ini, orang yang merasa dirinya beriman akan tersentak dan tersadar, “Allah sedang menyeruku.. segala perintahMu hamba junjung tinggi”. Orang-orang beriman akan menyambutnya dengan sukacita dan berusaha menaati setiap perintah yang diberikan Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Oleh sebab itu di bulan Ramadhan hendaklah dikencangkan kualitas dan kuantitasnya baik dari segi ibadah maghdoh yang bersifat wajib dan sunnah, hubungan muamalah dengan sesama yang terkait dalam berbagai bidang kehidupan, maupun dari segi perbaikan diri sendiri yang terkait cara berpakaian, makanan/minuman, dan akhlak. Disinilah sesungguhnya Allah sedang memberi kesempatan satu bulan untuk me-recharge keimanan kita demi menghadapi 11 bulan lainnya.

Dengan kesempatan terbatas ini, mari kita mempersiapkan diri dengan bekal ilmu dan menjalani Ramadhan dengan berbagai aktivitas positif dalam kerangka aturan Allah, jangan sampai menyesal.  Hingga seiring waktu saat Ramadhan Sang Tamu Mulia pergi, maka kita akan senantiasa merindu kapan dapat bersua kembali.

Wallahu a’lam bishshowwab










Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!