Saturday, May 26, 2018

Ramadhan Bulan Al-Quran

 

Oleh : Irianti Aminatun (member Akademi Menulis Kreatif dan Penulis Bela Islam)


Entah karena ketidaktahuan, atau karena bencinya terhadap Islam, ada saja manusia yang memperlakukan al-Qur’an dengan hina di bulan Ramadhan ini. Al Quran dijadikan barang bukti tindak kejahatan teroris. Al Quran disobek-sobek kemudian sobekannya dihamburkan di tengah jalan, sehingga tergilas mobil yang lalu lalang.


Siapapun mereka yang menghinakan Al Quran,  semoga diberi kesempatan bertaubat sebagaimana taubatnya Adolfo Roberto (Ahmad Izzah), yang awalnya sangat membenci al Quran, tapi kemudian bertaubat dan Ahmad Izzah  menjadi ulama besar di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yang sempat disandangnya di masa muda.


Al Quran adalah petunjuk hidup. Al Quran tidak sekedar dibaca dan difahami melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Sakhsiyah jilid 1 menjelaskan  bahwa, Al Quran diturunkan secara bertahap selama rentang waktu kurang lebih 23 tahun.


Hikmah diturunkannya al Quran secara bertahap adalah untuk mengukuhkan hati Rasulullah saw, untuk memudahkan pembacaannya terhadap manusia secara perlahan-lahan, diturunkan sesuai dengan peristiwa yang terjadi dan sebagai jawaban terhadap orang-orang yang bertanya.


Setiap bulan Ramadhan, Rasulullah memaparkan dihadapan  malaikat Jibril, ayat ayat yang sudah diturunkan,   dengan urutan ayat pada masing-masing surah sesuai dengan arahan Malaikat jibril. Hanya saja di bulan Ramadhan terakhir sebelum wafatnya, Rasulullah memaparkan al Quran sebanyak dua kali. (Hadits)


Ini berarti bahwa susunan ayat-ayat yang ada pada setiap surat dan bentuk setiap surat dengan bilangan ayat serta tempatnya adalah bersifat tauqifi dari Allah SWT. Adapun susunan atau urutan surat mengacu pada kesepakatan Para sahabat.


Sudah selayaknya sebagai seorang muslim, kita wajib mempelajari, memahami al Qur’an agar bisa diimplementasikan dalam kancah kehidupan secara nyata. Al Quran adalah wahyu yang merupakan sumber hukum untuk dijadikan pemimpin dan pemandu kehidupan.


Allah SWT berfirman yang artinya “Bulan Ramadhan, di dalamnya diturunkan al Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda/furqon (antara haq dengan bathi)”. (TQS Al Baqarah ayat 185).


Ayat ini menjelaskan bahwa al Quran diturunkan oleh Allah Yang Maha Pengasih sebagai petunjuk bagi manusia yang mengimaninya, merupakan argumentasi-argumentasi yang jelas dan gamblang bagi mereka yang memahaminya. Luput dari kebathilan dan kesesatan. Juga merupakan pembeda antara haq dengan bathil, halal dengan haram (Tafsirul Quranil “Azhim, I, hal. 269).


Bulan Ramadhan Allah SWT bukan sekedar memerintahkan shoum agar bertaqwa (lihat Q.S. Al Baqarah ayat 183) melainkan juga menurunkan al Quran sebagai sumber aturan untuk mencapai taqwa tersebut.


Dengan mengimani dan memahami seluruh kandungan al Quran akan menjadi kekuatan dahsyat dalam diri kaum Muslimin untuk berupaya mengimplementasikan perintah al Quran (Syariat islam) dalam kehidupan. Sebab orang yang bertaqwa akan senantiasa mengikuti apa saja yang diwahyukan Allah SWT dalam al Quran, maupun As Sunnah.


Dulu, dengan al Quran itulah Rasulullah SAW membangkitkan manusia dari kejahiliyahan menjadi umat yang diterangi cahaya Islam. Dengan al-Qur’an itu pulalah, beliau SAW beserta para sahabatnya menyelesaikan persoalan, menerapkan keadilan, dan menunjuki manusia. Dalam bentangan waktu 13 abad umat Islam senantiasa berada pada saat Ramadhan dalam keadaan menerapkan Islam di bawah komando Khilafah. Tak heran kalau Islam saat itu menjadi mercusuar peradaban dunia.


Kini umat Islam tengah berada di bulan Ramadhan.  Namun sejak Inggris menghancurkan Daulah Khilafah 27 Rojab 1342  H lalu, sudah lebih dari 97 kali Ramadhan tiba, kaum muslimin hidup bukan di atas syariat islam. Sampai hari ini umat Islam terkerat-kerat menjadi lebih dari 56 serpihan negara kecil. Ukhuwah Islamiyah hanya membara di dada, tidak terbukti dalam realitas kehidupan. Kaum kafir, termasuk Yahudi terus memporak porandakan kaum muslimin, menimpakan kehinaan, menjajah dalam bentuk imperialisme modern.


Sementara itu para penguasa negeri-negeri islam masih kuat loyalitasnya kepada negara-negara Kafir. Pemikiran, perasaan, dan sistem hidupnya diambil bukan dari Islam. Al Quran diabaikan. Pandangan Montesquieu, J.J. Roussou, Plato, dan lainnya dianggap lebih baik dari ajaran al-Quran. Pada sisi lain, kaum muslimin yang berupaya mendakwahkan Islam kafah untuk diterapkan dalam kancah kehidupan mendapat banyak tantangan. Mulai dari pembubaran ormas yang berjuang untuk menerapkan Islam kafah, pembubaran pengajian, Ulama dan akademisi yang dikriminalisasi sampai larangan untuk berceramah di berbagai tempat. Belum tibakah saatnya kaum Muslimin bersatu untuk memperjuangkan dan menegakkan hukum Islam? Padahal Ramadhan setiap tahun datang.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!