Sunday, May 20, 2018

Ramadhan, Bukan Ketaatan Sesaat


Oleh : Ustadzah Siti Rahmah


Harumnya nuansa ramadhan yang kian terasa, apalagi ketika kita sudah mereguk nikmat ibadah didalamnya. Aura keteduhan dan keberkahan kian merekah seiring dijalankannya kewajiban puasa. Ada bahagia yang menggelora didada, ada nikmat yang menyejukan pandangan, ada ketenangan yang menentramkan jiwa. Pasalnya selama bulan ramadhan ada suasan yang berbeda di tengah - tengah kehidupan kita. 


Selain suasana yang berbeda, nuansa berbeda pum sangat terasa ditengah kehidupan kita, terutama kehidupan remaja. Yang biasa mengumbar aurat di bulan biasa, ketika memasuki bulan ramadhan mulai menutupnya walaupun belum sempurna. Biasa menjadi aktifis pacaran, bahkan pengembannya sehingga kemana - mana selalu berdua nempel kayak perangko, namun ketika masuk bulan ramadhan intensitasnya mulai dikurangi, pertemuanpun berubah bukan lagi di mal, cafe, bioskop tapi di masjid seusai sholat tarawih (ups sama aja).


Taat Berbalut Maksiat


Semua kebiasaan sepertinya berubah ketika di bulan ramadhan, identitas keislaman lebih nampak dibanding biasanya. Namun tidak sedikit perubahan itu hanya sebatas polesan sesaat, bahkan lebih parah justru banyak yang nampak taat, padahal  penuh dengan balut maksiat. Misal, seperti contoh diatas, begitu rajin melaksanakan ibadah puasa bahkan di tambah dengan amalan sunah sebegai penyempurna, sholat tarawih dikerjakan, tadarus dilaksanakan, namun disisi lain ternyata banyak aktifitas keharaman yang masih asyik ditunaikan.


Sejatinya ketaatan dan kemaksiatan adalah dua hal yang berbeda, yang tidak bisa berjalan seiring di waktu yang bersamaan. Ibarat air dengan minyak yang tidak dapat menyatu walaupun dalam tempat yang sama,  Allah sudah menetapkan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, sebagai mana firmanNya:


,قُل لاَّ يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ -١٠٠-


Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu.” (Al-Ma’idah 100)


Itulah sejatinya ketaatan adalah haq dan kemaksiatan adalah kebathilan, mencampuradukan keduanya hanya akan membuat pelakunya mengalami kerusakan kepribadian, atau cacatnya syaksiyah Islamiyah. 


Ketaatan yang Sejati


Melaksanakan ketaatan yang sesungguhnya memang tidak mudah, tapi ketika keimanan sudah menghujam maka menjalankanya akan terasa ringan, namun tetap perjuangan di butuhkan. Seperti halnya menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan awalnya akan terasa berat ketika di bulan biasa tidak pernah melaksanakan puasa, tapi karena keimanan mendorong kita, kita meyakini puasa adalah kewajiban, apalagi di laksanakan oleh semua umat Islam maka menjalankannya pun terasa ringan. 


Hanya saja perlu disadari bagi seorang muslimah kewajiban yang diturunkan itu tidak hanya sebatas sholat, puasa, zakat tapi lebih dari itu masih banyak kewajiban - kewajiban lain yang Allah tetapkan untuk muslimah, seperti kewajiban menutup aurat, kewajiban berdakwah, kewajiban menjauhi zina, bagi seorang anak wajib taat terhadap kedua orangtuanya, bagi istri wajib taat pada suaminya dan lain sebagainya. Bicara kewajiban, manusia tidak bisa memilih dan memilah mana kewajiban yang harus dilaksanakan dan mana kewajiban yang boleh ditinggalkan. Karena ketika statusnya wajib maka semua menjadi keharusan untuk dilaksanakan  dan ada balasan siksa ketika ditinggalkan.


Berbeda ketika kita dihadapkan pada pilihan yang wajib dan sunah atau dengan yang mubah maka yang wajib harus diutamakan. Namun pada kenyataannya kadang manusia lebih mengejar pelaksanaan yang sunah atau bahkan mubah dengan meninggalkan yang wajib. Atau mungkin masih ada manusia yang mencampuradukan antara kewajiban dengan keharaman istilah gaul nya STMJ (sholat terus maksiat jalan). Seperti contoh dibulan ramadhan puasa ramadhan dilaksanakan, menutup aurat yang jelas - jelas wajib masih di tinggalkan atau buka tutup. Sholat tarawih tiap malam, tapi sama gandenganpun jalan terus.


Padahal harusnya bagi seorang muslimah mampu menjadikan bulan ramadhan ini sebagai bulan pembelajaran, pelatihan, perjuangan dan perubahan. Mungpung suasana dan nuansanya tepat untuk melakukan perubahan. Mulailah menata diri kenali hukum syara, taati rabb tidak hanya dalam perkara yang disuka, tapi ketaatan yang sempurna. Ketika di bulan ramadhan kita terbiasa menundukan hawa nafsu, mampu melaksanakan puasa sebagai bentuk ketaatan, maka kita latih diri kita untuk tunduk pada kewajiban - kewajiban yang lainnya, kita latih diri kita supaya bisa melaksanakan ketaatan yang total tidak hanya puasa dan tidak hanya ketaatan sesaat di bulan ramadhan tetapi ketaatan yang sejati sampai mati, semoga.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!