Thursday, May 10, 2018

“Propaganda Radikalisme” Senjata untuk Membungkam Peran Politik Mahasiswa


Oleh: Nur Khamidah (Mahasiswa Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya)


Ketua Badan Intelegen Negara menyebut, sekitar 39% mahasiswa terpapar paham radikal, bahkan paham ini dinilai  tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi yang tak hanya menyasar mahasiswa saja. Sejumlah kampus ditenggarai menjadi tempat pembasisan calon-calon pelaku teror baru di kalangan mahasiswa. Sebanyak 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar tingkat SMA setuju dengan jihad untuk menegakkan negara Islam atau Khilafah. Riset ini berbanding lurus dengan survei lembaga ilmu pengetahuan indonesia yang menunjukkan bahwa radikalisme telah merambah dunia mahasiswa. Beberapa teror yang terjadi di Jakarta setelah diselidiki menegaskan bahwa kampus adalah target tempat tumbuh dan berkembangnya paham radikal yang menghasilkan bibit pelaku terorisme baru. Antaranews, 28/04/2018

Statement yang diutarakan Ketua Badan Intelegen Negara sangat menggelikan. Ajaran Islam yang mengajak mahasiswa pada kebaikan, mengajak mahasiswa mengenal kembali jati dirinya sebagai Muslim, mengajak mahasiswa untuk dekat kepada Ilahnya dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya tanpa pilih-pilih, bahkan mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis tentang politik Islam, ternyata dianggap radikalisme. Mereka lebih suka mahasiswa yang sibuk dengan kesenangannya sendiri, sibuk mengikuti tren fashion, sibuk bergaul dengan lawan jenisnya hingga bablas, bahkan sibuk terjerumus dalam pergaulan bebas. 

Berbagai propaganda negatif pun terus digelontorkan untuk memdibidik Islam, kaum Muslim, dan para pengemban dakwahnya khususnya di kalangan mahasiswa. Sebab ditangan mahasiswalah lahir para pemikir kritis. Hal ini tentu tak disukai para penguasa negeri ini yang menjadi antek kafir Barat. Karakter orang-orang kafir Barat dan anteknya dari dulu hingga sampai kapan pun tak akan berubah. Mereka akan terus berupaya memerangi umat Islam yang berpegang teguh pada agamanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam hidupnya dalam naungan Khilafah. Termasuk membungkam mahasiswa yang mulai sadar akan politik Islam.

Politik dalam Islam adalah memelihara dan mengatur urusan masyarakat denagn hukum-hukum Islam dan dipecahkan sesuai syariat Islam. Politik Islam yang mulai banyak dipahami mahasiswa Muslim membuat penguasa di negeri ini kepanasan. Politik Islam mengancam hegemoni sistem sekular kapitalis dan para anteknya di negeri ini, baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Orang-orang kafir Barat dan anteknya menyadari bahwa Islam adalah musuh yang nyata bagi sistem sekular kapitalis. Maka tak ada jalan lain bagi orang-orang kafir Barat untuk membendung kebangkitan Islam. 

Oleh karena itu, penting untuk menyadarkan umat Islam khususnya mahasiswa Muslim bahwa sistem sekular kapitalis yang diterapkan di negeri inilah yang menyebabkan kerusakan. Menerapkan syariat Islam secara Kaffah menjadi kunci untuk menyelamatkan umat dari kehancuran. Para mahasiswa yang berpegang teguh pada agama Allah, tidak boleh gentar dalam menghadapi berbagai propaganda dan ancaman yang menghadang. Mahasiswa harus menumbuhkan keyakinan dalam dirinya bahwa cukuplah Allah menjadi penolong kami dan sebaik-baik pelindung.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!