Wednesday, May 9, 2018

Problem Multidimensi Hinggapi Generasi


Oleh: Viki N.  Muswahida


Generasi adalah aset bagi keberlangsungan suatu bangsa. Agar bangsa yang akan dipimpinnya tetap eksis, berkembang,  menjadi bangsa yang mahsyur,  maka dibutuhkan generasi unggul dan militan. Berkepribadian Islam.  Berjiwa pemimpin peradaban. 

.

Namun, kenyataannya roda pendidikan sekular telah merusak pemikiran generasi sekarang. Orientasi hidup generasi hanya menjadi pembebek gaya hidup bebas dan tidak berdaya menepis kerusakan zaman. Generasi yang miskin visi dan misi hidup,  mudah terombang-ambing karena tak memiliki pendirian. 

.

Problem Multidimensi

.

Lihatlah kasus multidimensi yang menimpa kaum pelajar. Mulai dari problem internal hingga eksternal,  seperti miras oplosan,  hamil diluar nikah, pecandu narkoba, aborsi, bunuh diri karena galau ditinggal pacar, korban broken home, beradegan mesum ditempat remang-remang hingga didepan banyak orang, corat-coret seragam saat lulusan, kecanduan game, hedonisme, tawuran antar pelajar, rela jual diri demi gadget baru, pedofilia, budaya curang saat ujian, ngepil PCC, dan lain sebagainya.  Ngeri!. saat generasi penerus adalah sosok yang tak memiliki ketahanan diri, budi pekerti, bahkan nihil dari nilai agama islam dalam pemikiran dan perasaan. 

.

Ditambah lagi, peliknya beban ekonomi keluarga akibat arus kapitalisme yang terus digencarkan oleh sistem kehidupan. Ayah harus bekerja banting tulang menafkahi keluarga. Juga harus menanggung beban biaya pendidikan dan kesehatan kian menjulang yang seharusnya gratis untuk  seluruh umat karena menjadi tanggung jawab negara. Sehingga,  peran ayah untuk mendidik generasi diranah domestik juga terabaikan. Akhirnya, pendidikan anak dibebankan pada ibu. Tak jarang ibu merasa kesulitan dalam mendidik anak,  bahkan karena himpitan ekonomi,  ibu juga harus bekerja meninggalkan buah hati. Walhasil generasi dipasrahkan untuk dididik oleh sistem pendidikan basis apapun. 

.

Sedangkan saat sistem sekularisme sekarang diterapkan, maka sistem pendidikan pun basisnya adalah sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan. Yang tak mampu melahirkan generasi militan, berkepribadian Islam dan berjiwa pemimpin. Sekularisme menjadikan pendidikan sekolah dibedakan menjadi dua,  yakni sekolah umum dan sekolah madrasah. Jika sekolah umum bisa menjadikan anak mahir saintek tapi kering aqidah dan akhlak.  Sedangkan,  sekolah madrasah manjadikan anak memahami ilmu Islam namun kurang memberikan kebangkitan dan anak kalah bersaing dalam bidang saintek. 


Bangga dengan Sistem Islam

.

Sistem  kapitalisme telah memutar kehidupan berporos pada uang,  kebutuhan pokok menjulang,  biaya pendidikan dan kesehatan membumbung, akhirnya nafkah tidak cukup ditopang dengan penghasilan ayah saja.  Akhirnya ibu pun turut andil bekerja menyokong penghasilan ayah. Dalam sistem  Islam kewajiban nafkah oleh ayah adalah sebatas kebutuhan sandang,  pangan dan papan. Sedangkan biaya pendidikan dan kesehatan ditanggung oleh negara. Negara Islam akan  mengelola sumber daya alam di negeri-negeri muslim dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, dll  secara gratis. Demikian pula,  tenaga pendidik akan dibayar dengan mahal karena jasa mendidik generasi hingga berguna bagi agama dan negerinya. 

.

Sekalipun hukum bekerja bagi kaum ibu adalah mubah. Kaum ibu berhak untuk memilih bekerja atau tidak. Namun, pilihan yang mulia dihadapan Allah dan Rasul-Nya adalah menjalankan fungsi utamanya menjadi ummun wa rabbatul bayt. Inilah posisi paling mulia dan istimewa, saat dia bisa menjalankan tugas ranah domestic dengan sebaik-baiknya. Disamping itu, berhasil mendidik anak-anaknya menjadi sosok generasi cahaya. Karena pendidikan utama anak didapat dari keluarga.  Saat pendidikan awal dikeluarga berbasis aqidah sudah kokoh,  maka saat anak berada dilingkungan luar dia dapat membedakan mana  perbuatan yang hak dan batil. Standard perbuatannya adalah halal dan haram. 

.

Kontrol masyarakat juga mempengaruhi perilaku anak.  Jika pemikiran dan perasaan masyarakat standartnya adalah sama,  yaitu Islam. Maka setiap tindak kemaksiatan tidak akan terjadi. Karena masyarakat senantiasa menghidupkan amar ma'ruf nahi munkar kepada sesama. Sehingga, budaya seperti pacaran, pergaulan bebas, hedonisme tidak akan mewabah dikalangan remaja.

.

Negara islam juga memiliki peran menerapkan hukum yang tegas bagi pelaku tindak criminal.  Misalkan pengguna narkoba dan miras dihukum penjara atau dikenai denda (al-Maliki,  Nizham al-uqubat), pengedar dan penjual dikenai sanksi ta'zir sesuai putusan hakim (qadhi). Bagi pezina dikenai sanksi cambuk bagi yang belum menikah dan rajam hingga mati bagi yang sudah menikah.  Karena zina adalah termasuk dari tujuh dosa besar,  maka hukumannya pun juga besar. 

.

Negara menjalankan fungsi memegang kendali media massa dan mengawasi media massa yang dikelola pihak swasta agar konten yang disampaikan tetap dalam koridor syara'. Demikian pula sistem Islam akan menghapus tayangan, film, situs yang tidak mengedukasi dan memperlihatkan aurat wanita yang memancing syahwat dan tindak asusila.

.

Negara akan menerapkan Sistem pendidikan Islam,  dimana pondasi pendidikan generasi adalah aqidah Islam.  Jika aqidah telah kokoh dipupuk sejak dini,  maka dilanjutkan memberi ilmu penunjang seperti geografi,  matematika, dll.  Selain itu,  pengajar yang competent mencetak generasi berkepribadian Islam,  yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Metode pembelajaran yang diterapkan juga metode yang mampu membekas pada pemikiran generasi,  yakni metode talqiyan fikriyan. 

Ketersediaan fasilitas pembelajaran yang canggih untuk  menunjang proses pembelajaran,  membentuk peneliti dan ilmuwan faqih fiddin dan cerdas ilmu saintek. Hal demikian hanya  akan terwujud jika Sistem Islam diterapkan dikehidupan. 




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!