Tuesday, May 15, 2018

Potret Buram Pendidikan Berbasis Sekularisme


Oleh : Fitriani S.Pd (Anggota Revowriter)


Corat coret seragam dengan menggunakan cat semprot atau spidol tak pernah alpa di hari kelulusan pekan lalu. Konon kabarnya tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 90-an dan selalu diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan yang tak terbendungi karena telah berhasil melewati masa putih abu-abu dengan baik.


Bukan hanya itu, wujud rasa syukur tersebut juga seringkali diiringi dengan acara joget bersama, hingga aksi konvoi sepeda motorpun tak ketinggalan. Seolah-olah mau menunjukkan pada dunia bahwa itulah mereka yang telah lulus Sekolah Menengah Atas. 

Euforia semacam ini begitu mewarnai lingkungan sekolah yang baru saja mengumunkan pelulusan, baik perkotaan hingga ke pelosok-pelosok negeri.


Satu diantaranya ialah apa yang terjadi kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kabupaten yang  terkenal dengan keindahan terumbu karangnya ini dihebohkan dengan video anak SMA yang melakukan aksi joget erotis di depan tiang bendera sekolahnya saat pelulusan. Nampak dari video tersebut, sejumlah siswa siswi berjoget kegirangan sambil memegang tiang bendera dengan diiringi musik. Baju mereka pun telah dicoret-coret menggunakan spidol dan pylox. Bahkan pakaian mereka sengaja dirobek di bagian tertentu sebagai tanda lulus. (Sultrakini.com, 04/05/2018)


Sebenarnya, jika kita berkaca pada fakta yang terjadi pada tahun lalu, selain aksi curat-coret seragam dan konvoi sepeda motor, euforia kelulusan ini juga diwarnai dengan aksi kebut-kebutan, pesta miras, pesta narkoba, bahkan ada pesta seks, dan lain-lainnya yang mungkin tak terekspos media.


Hal ini tentu menjadi sebuah ironi dan sekaligus tamparan keras terhadap wajah pendidikan di negeri dengan mayoritas kaum muslim didunia ini. Hati seolah tersayat-sayat menyaksikan generasi penerus bangsa dan agen perubah yang terlalu kebablasan dalam mengekspresikan rasa bahagianya itu. 


Ada Apa dengan Pendidikan zaman ini?


Mengekspresikan rasa bahagia dengan berbagai macam gaya tentu menjadi hal yang lumrah-lumrah saja untuk sebagian orang, karena memang negeri ini telah lama menganut asas kebebasan dalam berekspresi, berperilaku dan bertingkah atau yang biasa dikenal dengan istilah liberalisme. Apalagi asas ini ditopang langsung oleh asas sekularisme, yang telah mewabah dalam seluruh lini kehidupan, termaksud di ranah pendidikan. Dari rahim asas inilah sistem pendidikan hari ini dibentuk. Sistem ini tidak mengakui adanya hubungan perintah dan larangan antara Tuhan dan manusia. Tuhan dianggap tidak berhak mengatur bagaimana manusia harus berkiprah dalam aspek politik, ekonomi, budaya, termaksud pendidikan dan aspek kehidupan lainnya. Manusialah yang mengatur semua itu dengan hukum dan undang-undang buatannya sendiri. Tuhan hanya mengatur hubungan khusus yang bersifat personal antara manusia dengan dirinya. Sedangkan dalam kehidupan publik seperti pendidikan, manusialah yang berhak mengaturnya, bukan Tuhan.


Tujuan dari pendidikan sekuler ini juga hanya berorientasi pada nilai dan persiapan kerja saja. Sekolah hanya dipandang sebagai wahana menimba ilmu namun gagal dalam membentuk kepribadian islami. Sehingga konsekuensi dari penerapan pendidikan sekuler ini bak jurang pemisah antara kecerdasan dan ketakwaan individu. Siswa juga saat ini dididik bukan untuk berlomba-lomba menjadi pribadi yang berkarakter, namun dididik untuk mendapatkan nilai tertinggi dengan berbagai macam cara. Sehingga hasil dari didikan sistem ini lahirlah generasi yang mandul karakter dan krisis moralitas serta hedonis, yaitu bebas melakukan apa saja untuk mengekspresikan rasa senangnya tanpa berpikir apakah itu boleh atau tidak, halal atau tidak serta terpuji atau tidak. 


Sistem yang diadopsi oleh negara ini telah berhasil membuat termelencengkannya langkah manusia menuju Ridho Allah jadi mendapat murka Allah. Pendidikan agama Islam juga hanya dipelajari sebatas materi spiritual saja dan memutilasi aspek yang lainnya. Sehingga terciptalah generasi yang tidak sesuai dengan visi dan misi penciptanya. 


Hal tersebut semakin sempurna ketika mendapati kurangnya pembinaan yang didapatkan dalam lingkungan keluarga, yang bisa dilihat dari lalainya orang tua karena tersibuki oleh pekerjaan, untuk secara sungguh-sungguh menanamkan nilai-nilai dasar keislaman secara memadai kepada anaknya. Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam kehidupan keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksanaan pendidikan.


Apalagi lingkungan masyarakat hasil didikan sekularisme ini melahirkan masyarakat yang apatis, cuek dan tak acuh pada norma agama dan apa yang terjadi dilingkungan sekitar. Sehingga timbullah rasa individualitas dengan prinsip tidak boleh mencampuri urusan anak orang lain, dan lain-lainnya. Belum lagi dengan mewabahnya pergaulan bebas; berita yang tersaji dilayar kaca yang cenderung mempropagandakan hal-hal yang negatif, seperti pornografi, kekerasan, kebebasan dan hura-hura, dan lain-lain. 


Pendidikan Islam, Pendidikan Terbaik


Secara fitrah, segala sesuatu yang berasal dari sang Pencipta itu pasti selalu yang terbaik. Karena Dia yang paling tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk kita. Begitu pula sistem pendidikan Islam yang lahir dari aturan- aturan sang Kholiq, yang tentu saja  paling tahu kebutuhan kita. Sistem pendidikan berbasis Islam ini memiliki tujuan untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam, serta membekali mereka dengan berbagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan. Sehingga mereka generasi penerus bangsa, tidak hanya diarahkan untuk mampu menguasai saintek saja, namun juga menguasai ilmu agama.


Adapun kurikulum yang digunakan ialah berasaskan aqidah Islam, bukan untuk sekedar mendapatkan nilai tinggi dan hanya sebatas persiapan kerja belaka. Paradigma pendidikan yang berasas akidah Islam harus berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan yang ada, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Sementara output dari pendidikan itu tercermin dari keseimbangan pada pembentukan kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah), penguasaan tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan). Peran orang tua sebagai fondasi utama kepribadian anak juga akan dijalankan secara optimal, karena orang tua tidak akan tersibuki lagi dengan karier dan materi, karena negara telah memfasilitasinya. Peran masyarakat sebagai elemen penyangga tegaknya sistem juga akan terlaksana dengan baik.


Sehingga tentu saja dari sistem pendidikan Islam tersebut akan melahirkan generasi yang menjadikan standar perbuatannya adalah hukum syara, bukan kebebasan ala sekularisme liberalisme. Mereka akan mengekspresikan rasa bahagianya dengan berusaha untuk semakin mendekatkan diri pada Allah bukan melakukan aksi kebablasan yang bertentangan dengan perintah Allah dan malah mengundang murka-Nya.


Sayangnya, semua itu hanya akan terwujud jika sistem sekularisme kapitalis hari ini diganti dengan sistem Islam, sehingga dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, termaksud dalam pendidikan. Wallahu A’lam Bissawab


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!