Thursday, May 10, 2018

Politikus Peradaban


Oleh : Riyanti (Korwil BMI Community Banten)


Di tengah gersangnya arus pemikiran politik dunia terkhusus bumi pertiwi tercinta. Di tengah hingar bingar tahun politik 2019 dan di tengah carut marutnya masalah yang menimpa Indonesia tak lepas dari campur tangan seorang politikus. Karena mereka yang mewakili suara rakyat, mereka yang sedang berjuang membela dan mengurus hak-hak rakyat, mereka yang memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang menimpa rakyat. Namun apa daya masyarakat kini tak lagi percaya dan merasa phobia. Korupsi, ketidakadilan, kediktatoran menjadi warna yang ditorehkan oleh mereka dalam panggung perpolitikan. Maka wajar jika masyarakat kini enggan berpolitik hingga merasa phobia menganggap politik itu kotor, keji. Karena wajah politik yang ditampilkan memang begitu, itulah politik demokrasi.


Berbeda dengan pandangan Islam, Islam menganggap bahwa politik adalah pemeliharan/mengatur (rakyat) (syaikh Dr. Samith Athif Azzain dalam buku Assiyasatu Ad-Dawliyyah) dalm Mu’jamu Lughatil Fuqaha’ bahwa politik adalah “Pemeliharaan urusan ummat baik dalam maupun di luar negeri sesuai syari’ah Islam”. Dalam konsep politik Islam, Negara adalah alat untuk menerapkan aturan-aturan yang bersumber dari Hukum Syara’ termasuk urusa  pendidikan, ekonomi, hukum  dan lain sebagainya. Islam dan politik ibarat dua mata koin yang tak bisa dipisahkan sebab Islam adalah agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan. 


Rasulullah telah menyeru kepada kita dalam sebuah hadits riwayat Hakim “Siapa saja yang bangun pagi namun tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia buan dari golonganmereka”. Seruan ini menegaskan bahwa berpolitik merupakan aktivitas wajib bagi seorang muslim. Sebagaimana politikus muslim Hasan Al-Bana mengatakan “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi politikus. Maka sebagai seorang Muslim seharusnya kita bersegera melaksanakan seruan ini. Islam tidak mewajibkan seseorang untuk duduk di kursi pemerintahan lalu disebut sebagai politikus namun siapa saja yang menganggap dirinya muslim maka dialah seorang politikus.


Di bahu kita lah terdapat kewajiban untuk mengurusi urusan ummat dan melanjutkan kehidupan Islam. Menjadikan Islam sebagai mainstream perpoltikan, memberikan solusi-solusi nyata sesuai ajaran Islam, berjuang agar Islam menjadi landasan dalam setiap aktivitas kehidupan termasuk bernegara.


 Tidakkah kita lihat para sahabat yang telah dulu mencontohkan bagaimana berpolitik yang baik, Rasulullah sebagai politikus ulung seharusnya menjadi suri tauladan kita dalam berpolitik. Selama 23 tahun Rasulullah membangun peradaban Islam sehingga ajarannya  tersebar luas hampir di seluruh penjuru dunia dan dirasakan hingga 13 abad lamanya. Dunia pun mengakui Rasulullah SAW sebagai pelopor agung peradaban Islam, Gustav Lebon dalam Al-Hayat (terjemahan) mengatakan : “Muhammad meskipun dituduh dengan berbagai tuduhan keji namun ia telah tampil dengan hikmah yang melimpah ruah, bersikap lapang dada, murah hati terhadap ahlu dzimmah, dan telah membebaskan beberapa Negara yang luas sekali dari cengkeraman Romawi dan Persia serta mengangkat warganya di atas semua warga dunia” . Itulah pengakuan seorang Non Muslim ketika melihat bagaimana peradaban yang Rasulullah bangun. 


Kegemilangan tersebut tidak terlepas dari peran para sahabat Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, Abu Bakar Ash Shidiq, Salman Al-Farisi, Zaid bin Tsabit, Mush’ab bin Umair dan lainnya. Mereka adalah para politikus yang tidak mengharap imbalan apapun selain Ridho dari Allah SWT. Mereka yang senantiasa kehidupannya terpaut dengan Syari’at Islam serta memperjuangkannya agar tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Tidak seperti politikus dalam demokrasi yang menjadikan materi dan kekuasaan sebagai tujuan. Jadi wajar kerusakan terjadi di setiap sudut kehidupan ketika aturan Islam tidak diterapkan.


 Maka sekarang saatnya kita sebagai pemuda muslim menjadi pelopor pergerakan, menjadikan dakwah Islam sebagai aktivitas yang menyibukkan. Menjadi politikus peradaban yang berqaidah, qiyadah dan berahlaq Islam. Dan terdepan meraih kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an  surat An-Nur : 55 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh bahwa Dia sunguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa”.


Bergeraklah! Berjuanglah untuk Islam!


Wallahua’lam bishowab




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!