Thursday, May 3, 2018

Peran Pemuda dalam Islam


Oleh : Mulyaningsih, S.Pt


Dunia pendidikan kembali digegerkan lewat berita tawuran yang terjadi antar pelajar. Tak hanya siswa sekolah menengah atas saja yang melakukannya namun siswa Sekolah Dasar-pun turut andil didalamnya. Tawuran tersebut terjadi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Tawuran dilakukan oleh dua kelompok pelajar di Kendal, Jawa Tengah. Mereka menggunakan senjata tajam ketika melakukannya. Peristiwa tersebut terjadi pada malam Kamis, 19 April 2018. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa ada setidaknya seorang pelajar tewas, sementara satu korban yang lain mengalami luka karena terkena sabetan senjata. Pelajar tewas tersebut adalah Wahyu Purnomo pelajar SMK Harapan Mulya, yang ditemukan di pinggir JAlan Arteri Kaliwungu, Kendal. Di tubuh Wahyu siswa kelas 2 SMK tersebut terdapat sejumlah luka sabetan senjata tajam di bagian perut. Tawuran tersebut melibatkan pelajar dari SMK Negeri 10 Semarang, SMK Harpan Mulya, SMK Bhineka dn SMK AYP Patean. (m.liputan6.com)

Sementara itu di Manggarai, sejumlah remaja adu senjata tajam (sajam) dan lempar batu. Tawuran tersebut terjadi Minggu pagi, 22 April 2018. Para pemuda tersebut saling lempar batu dan botol kaca serta membawa celurit dan badik. Dengan adanya tawuran tersebut warga tidak berani melintas di tengah-tengah ayunan sajam, bahkan aparat sekalipun kewalahan dibuatnya (m.liputan6.com). di tempat yang berbeda, pada 20 April 2018, belasan siswa Sekolah Dasar (SD) di Purwakarta, Jawa Barat diamankan polisi. Mereka diamankan karena kedapatan membawa berbagai sajam pada jam sekolah. Para bocah ingusan tersebut diduga hendak melakukan tawuran. Hal tersebut dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Jawa Barat AKBP TRunoyudo Wisnu Andiko. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat 20 April 2018 pukul 10.00 WIB. Mereka diduga hendak melakukan penyerangan ke sekolah lain. Untungnya aksi tersebut dapat dicegah. Warga bersama Babinsa dan Babinkamtibmas berhasil menggagalkan niat mereka. Kemudian, semua siswa SD tadi digiring ke Mapolsek Purwakarta. Petugas memanggil orang tua mereka, pihak sekolah, perangkat desa dan perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta. Mereka diberikan pengarahan dan pembinaaan agar kejadian ini tak terulang kembali.Polisi mengamankan 1 gir motor diikat gesper, 2 golok,  2 gesper, 2 besi tumpul, 4 parang dan 5 celurit. 

Dari kejadian di atas tadi maka patutlah kita merasa marah dan geram terhadap sikap para pelajar zaman now. Mereka sungguh tak punya rasa takut dan malu lagi. Tak adakah keimanan yang melekat pada diri-diri mereka? Sangat jauh berbeda ketika Islam sudah melekat dalam jiwa-jiwa para pelajar (baca: pemuda). Mereka ibarat buku-buku yang berjalan. Banyak karya-karya yang mereka hasilkan di masa mudanya. Dengan keislamannya Itu, mereka seperti mutiara yang memancarkan cahaya kemilaunya nan indah. 

Banyak sekali kisah yang dapat kita ambil hikmahnya dan kita tiru. Rasa ketakutan terhadap Allah SWT menjadi hal yang utama dan pertama. Ditambah juga ketaatan yang sangat luar biasa mengkristal pada diri-diri pemuda Islam. Pada saat itu, generasi pertama yang mau menerima dakwah Rasul mayoritas adalah pemuda. Mereka selalu ada pada garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Islam. Pasukan perang yang ada juga dipenuhi oleh para pemuda. Begitu pula dengan utusan Rasulullah untuk berdakwah adalah pemuda. 

Mush’ab bin ‘Umair, beliau diminta oleh Rasulullah untuk berdakwah ke Madinah. Beliau menjadi duta Islam yang pertama, mau meninggalkan segala kebanggaan dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki. Atas kerja keras Mush’ab serta tak luput dari pertolongan Allah SWT maka dalam tempo kurang dari setahun hampir seluruh penduduk Madinah menyatakan ke-Islamannya dan mau berjuang bersama.

Dari contoh diatas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa posisi seperti itulah yang semestinya harus ada pada pelajar Muslim kita. Mereka adalah pemuda yang mengemban dakwah Islam terpercaya, duta-duta propaganda syariah Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh penduduk bumi jika Islam diterapkan secara kâffah dalam bingkai sebuah negara.

Inilah posisi serta fungsi vital pelajar yang harus kita kembalikan agar sesuai dengan tuntutan Islam. Oleh karena itu harus ada sebuah gerakan penyadaran kepada mereka yang dilakukan oleh semua pihak. Keluarga, masyarakat dan sekolah harus bersinergi satu dengan yang lainnya. Agar terwujud pelajar yang mempunyai keimanan serta akhlak sesuai dengan Islam. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah peran dari partai politik Islam yang berpijak pada mabda’ (ide dan metode) Islam. Sejatinya peran penting pemuda akan teroptimalisasi dalam masyarakat yang menerapkan Islam secara kâffah. 

Negara akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemberdayaan pemuda. Sistem pendidikan, pergaulan, sosial, sistem ekonomi dan politik yang akan diterapkan negara mendukung pemberdayaan potensial para pemuda sebagai penjaga dan pelindung Islam terpercaya. Akal dan hati mereka akan senantiasa ditambatkan pada Islam dan kejayaan umatnya. Wallahu A’lam.[ ]


Mulyaningsih, S.Pt

Ibu Rumah Tangga

Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga

Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK Kalsel)





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!