Tuesday, May 8, 2018

Penculikan Tumbuh Subur, Emak Susah Tidur


Oleh : dr. Toreni Yurista

Dokter umum, pemerhati masalah sosial


Sob, tahu ‘kan tentang penculikan bayi A di Depok? Baru saja kasus itu kelar, sekarang kita dihebohkan lagi dengan misteri tewasnya bocah GG di Cibinong, Bogor. Itu lho, gadis kecil umur 6 tahun yang ditemukan meninggal di dalam karung. Diduga kuat, kematian GG berhubungan dengan kasus penculikan.   


Penculikan anak memang menjadi trending topic. Apalagi di komunitas emak-emak. Bikin makin kepikiran anak, tidur tak nyenyak, bangun tak enak, walhasil mata jadi sengak. Untung saja para emak ini kepalanya tidak sampai botak.  

Jangan heran kalau si Mamah di rumah suka banget bertanya, “kamu lagi dimana?”. Bukan berarti beliau posesif, Sob. Seandainya bisa dikandangin, pasti Mamah sudah pasang tali kekang biar anaknya ngga hilang.

Si Mamah pantas lebay, kasus penculikan anak memang sudah meningkat tajam. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat sepanjang 2015 sudah ada 87 kasus penculikan dan kehilangan anak.  Dua tahun kemudian, jumlah kasus penculikan dan kehilangan anak naik drastis jadi dua kali lipatnya. 

Lebih gila lagi, anak-anak ini tidak semuanya pulang dengan selamat. Ada yang tewas seperti kasus GG, ada juga yang dipukuli, disodomi, diperkosa, bahkan disekap dan dijadikan budak seks selama bertahun-tahun. Ngeri, ‘kan? 

Penculikan anak sesungguhnya tidak bisa dilihat sebagai kriminalitas biasa. Ini merupakan buah mengkudu, eh, buah pahit hasil dari krisis multidimensi yang bertahun-tahun melanda negeri ini. Nampak sekali dari motif para penculik yang rata-rata adalah alasan ekonomi, penyimpangan seksual, atau pembalasan dendam.  


Kapitalisme Biang Kerok

Sistem ekonomi kapitalistik yang diterapkan di negeri kita sudah sukses membuat kesenjangan antara orang kaya dan miskin makin melebar. Indonesia, nih, Sob, berada di peringkat keempat negara paling timpang di dunia karena 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. 


Dari sini, bisa dipahami, ‘kan Sob, mengapa Mamah sering mangkir memberi uang jajan? Bukan berarti beliau pelit, tapi karena sistem menyebabkan mayoritas anak negeri tidak mampu menikmati hasil kekayaannya sendiri. Bayangkan saja, sisa 49,7 persen kekayaan nasional kudu dibagi 99% penduduk Indonesia, gimana ngga minus?


Beban hidup, sempitnya lapangan pekerjaan, dan seabrek kesulitan yang mendera membuat sebagian orang nekat mengambil jalan pintas. Salah satunya dengan cara menculik anak. Mereka meminta tebusan kepada keluarga atau menjual korban kepada sindikat internasional dengan harapan bisa medapat uang secara instan. 


Kebebasan yang Menghancurkan

Selain kesenjangan ekonomi, kapitalisme juga berhasil menghancurkan moral anak bangsa. Atas nama kebebasan, tercipta kultur masyarakat yang liberal, hedonis dan permisif. Maksudnya, masyarakat jadi serba bebas, suka hal-hal yang keduniawian, tetapi cuek bebek terhadap sekitarnya.   


Contohnya, nih, kalau ada orang dewasa yang tiba-tiba membawa anak-anak masuk kamar, masyarakat kita sekarang cenderung membiarkan. “Bodo amat, yang penting ngga ganggu gua,” begitu katanya. Padahal, Sob, pembiaran ini membuka peluang bagi mereka yang berperilaku menyimpang untuk menyekap dan melakukan kekerasan seksual.


Kondisi ini diperparah dengan paparan pornografi dan pornoaksi yang terus menghantam masyarakat dari berbagai lini. Masih ingat, dulu sempat ada akun Loly & Candy dan VideoGay Kids. Meski sudah diberangus, muncul lagi akun-akun lain yang serupa.


Mirisnya, Sob, pelaku kekerasan seksual tidak pernah diberi sanksi hukum yang memberikan efek jera. Pantas saja Indonesia terkenal sebagai surga para pedofil. Bahkan banyak,loh, Sob, kakek-kakek yang rela datang dari benua seberang, pakai ganti kewarganegaraan segala, demi memuaskan nafsunya menikmati anak-anak Indonesia. 


Iman Kian Terkikis

Paham sekulerisme yang mengharuskan adanya pemisahan agama dari kehidupan memunculkan krisis iman. Dompet menipis, ketakwaan ikut terkikis. Walhasil, perilaku masyarakat muslim, walaupun penampakannya masih bercirikan Islam, semakin hari justru semakin jauh dari nilai-nilai Islam. 


Masyarakat tidak lagi merasa perlu bersikap amanah, apalagi takut dosa dan ancaman neraka. Bagi oknum penculik, melampiaskan dendam dianggap lebih penting daripada menabung pundi-pundi pahala. Masalah murka Allah, sebodo teinglah.


Kasus penculikan berlatar dendam yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan adalah contoh berharga. Pelaku penculikan, ternyata Sob, seorang PNS yang menjabat staf DPRD setempat. Kalau PNS yang jadi panutan masyarakat saja sudah sulit bersikap amanah, apatah lagi orang biasa.


Islam Solusi Hakiki

Dengan semua fakta ini, sudah saatnya, Sob, kita menuntut solusi penanggulangan penculikan anak dalam bingkai yang lebih besar. Pemerintah tidak cukup hanya menghimbau masyarakat, tetapi juga harus mengambil langkah strategis yakni mencabut akar masalah sampai ke sistemnya.  


Sistem alternatif yang ideal adalah sistem Islam. Islam tak hanya mengurusi ketakwaan seseorang, tetapi juga menawarkan konsep pengaturan masyarakat yang komprehensif. Mulai dari mengatur etika pergaulan sampai sistem perekonomian. Dengan penerapan secara kaffah, niscaya Islam akan menyelesaikan masalah penculikan anak secara tuntas.


““Dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan oleh Alloh (Al-Quran) dan jangan menuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Alloh kepadamu”(QS.Al-Maidah: 49)



Biodata Penulis

dr. Toreni Yurista

Dokter umum, pemerhati masalah sosial, tinggal di Bogor 



Bahan Bacaan

https://www.islamkafah.com/solusi-tuntas-kejahatan-seksual/


https://news.detik.com/berita/d-4005845/misteri-pembunuhan-grace-bocah-yang-tewas-dalam-karung

https://daerah.sindonews.com/read/1285317/23/diiming-imingi-jajanan-2-bocah-diculik-pedofil-salah-satunya-diperkosa-1519653713


https://regional.kompas.com/read/2018/01/10/11403211/komplotan-penculik-anak-yang-minta-tebusan-rp-3-miliar-ditangkap-salah


http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/05/02/p82vpg328-rawan-penculikan-kpai-imbau-orang-tua-tingkatkan-pengawasan


http://www.radarbogor.id/2018/02/04/penculikan-anak-meningkat/


http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/02/130212_babysmugglingthousand


https://acehsatu.com/faktor-kegantengan-mempengaruhi-harga-anak-yang-diculik/


https://www.antaranews.com/berita/619395/yohana-yembise-minta-masyarakat-waspadai-penculikan-anak


https://www.merdeka.com/uang/kesenjangan-kaya-miskin-di-indonesia-tumbuh-cepat-dalam-20-tahun.html


http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40593707





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!