Wednesday, May 9, 2018

Pelaminan yang Dirindukan Berujung Kematian



Oleh: Siti Rahmah



Kabar duka kembali menyelimuti jagat raya, pasalnya pemberitaan pembunuhan seakan tak pernah usai. Atraksi pembunuhan - pembunuhan sadis yang di lakukan kerap kali mewarnai pemberitaan. Berita pembunuhan yang di lakukan secara biasa seolah sudah tidak menjadi cara ampuh bagi para pembunuh. Cara sadispun akhirnya di tempuh untuk menghilangkan nyawa orang.  Melayangnya nyawa manusia di jaman  sekarang seolah menjadi hal biasa dan menjadi pemandangan biasa pula, betapa murahnya nyawa seorang manusia bahkan lebih murah dari pada harga bianatang sembelihan.


Penomena pembunuhan yang diberitakan akhir - akhir ini berkisah antara sepasang kekasih, yang terlibat percekcokan hingga pecah pertengkaran dan berakhir dengan pembunuhan. Misal saja kisah Stefanus (25 tahun) yang membunuh calon Istrinya Laura (41) sesaat setelah melakukan pemotretan prewedding. Korban ditusuk sebanyak empat kali di bagian perut dan punggung," kata Kapolsek Tambora, Kompol Iver Son Manossoh. Tribunnews.com


Pembunuhan itu berlangsung di rumah LR di Jalan Alaydrus, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat. Pada hari kamis tanggal 3 Mei 2018, setelah membunuh Laura, Stefanus lalu membuang dan membakar jenazah Laura di Pantai Karang Serang, Tangerang. Tribunnews.com 8/5/2018



*Nafsu Bertahta Cinta Tersandra*


Akhirnya terbongkarlah motif di balik pembunuhan Laura, yang di lakukan oleh calon suaminya Stefanus. Pada mulanya mereka berencana akan melangsungkan pernikahannya pada bulan Agustis 2018. Namun perjalanan persiapan yang mereka rancang acapkali di warnai dengan percekcokan, adapun yang menjadi latar belakang terjadinya perselisihan itu adalah ketika mereka membahas biaya pernikahan. Setiap cekcok laura kerap menyinggung biaya pernikahan sebsar Rp 250 juta. "Kadang-kadang, dia mengungkit masalah pernikahan. Biaya pernikahan Rp 250 juta kurang lebih ditanggung pihak perempuan semuanya," ujar Ivertson saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (6/5/2018).


Stefanus acapkali memendam perasaan kesal dengan ucapan Laura sampai akhirnya kemarahannya itu naik pitam, nafsunya memuncak sampai akhirnya melakukan tindakan sadis dibluar nalarnya. Begitulah nafsu ketika sekali di ikuti maka dia akan ngelunjak sampai akhirnya menginjak harga diri pemiliknya, begitulah penuturan ulama terkemuka. 


Sepertinya seperti itu juga yang dialami Stefanus, rasa cinta yang sudah lama dia rawat untuk kekasihnya, sampai hendak melanjutkan kisahnya ke jenjang pernikahan sebagai bentuk keseriusan dengan apa yang mereka jalani, namun cinta tetiba kandas karena emosi sesaat. Hubungan asmara yang sudah mereka bangun selama 9 bulan berakhir, namun akhir yang menyakitkan. Pasalnya kisah mereka bukan berakhir di pelaminan seperti yang mereka impikan, tapi kematian tragislah yang menjadi ujung dari kisah cinta mereka.



*Pembunuhan Menyakitkan*


Pembunuhan dalam setiap kisahnya selalu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang di tinggalkan, begitupun bagi orang - orang yang yang mencintainya. Tapi kisah menjadi tambah dramatis dan menyakitkan jika yang melakukannya adalah orang yang mengaku mencintainya.  Orang yang harusnya menjaga dan menjadi pelindung malah justru menjadi algojo yang menakutkan. 


Seandainya setiap peristiwa di jadikan pelajaran oleh manusia, mungkin kisah Laura dan Stefanus ini bisa diambil pelajarannya bagi pasangan muslim. Pelajaran betapa hubungan yang dibangun tanpa aturan yang benar hanya akan berakhir dengan menyakitkan. Oleh itu Islam memberitahukan tuntunan pernikahan bagi pasangan muslim. Yang paling utama dalam sebuah pernikahan itu bukan perayaannya tapi kekhidmatannya saat akad terucap, adapun untuk perayaan, resepsi atau walimatul ursy itu memang dianjurkan tapi bukan berarti menjadi kewajiban sampai harus habis - habisan dalam perayaannya. Yang penting dalam walimatul ursy adalah i'lan nya bahwa kedua pasangan sudah diikat dalam akad yang sah. Sehingga yang di harapkan tidak terjadi fitnah dan kesalahpahaman di tengah masyarakat.


Namun sayang kehidupan saat ini sepertinya tak ada bedanya ketika bicara pernikahan muslim dan non muslim, yang membedakan hanya seremonial, tapi tujuan pernikahan mewah tetap menjadi acuan. Bahkan tidak sedikit pasangan muslimpun mengalami hal yang sama dengan stefanus, gagal nikah hanya karena masalah biaya pernikahan. Sungguh ironi memang, karena bagi seorang muslim harusnya aturan Islam menjadi acuan sehingga mampu menunjukan jati dirinya dan yang menjadi pembeda dengan umat - umat lain.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!