Sunday, May 27, 2018

Pedis tapi tidak pedas (sebuah cerpen)


Oleh: fitry assyahidah

Episode 3


Mereka berdua akhirnya  saat itu sepakat untuk memundurkan diri. Mereka berencana untuk mengungkapkan uneg-unegnya tersebut jika rapat team digelar.


Namun entah kenapa, seiring berjalannya waktu, keinginan itu perlahan-lahan memudar.Tulisan yang di komentari habis-habisan itu mereka revisi dan revisi, bahkan sampai beberapa kali revisi. Mereka kali itu baru tau jika revisi tidak hanya berlaku saat bimbingan proposal skripsi saja, namun juga dalam menulis. 

Walau dengan revisi itu hanya mendapatkan kategori lumayan dimata sang mentor untuk disajikan didepan pembaca.

Dengan berjalannya waktu, mereka akhirnya memahami alasan kenapa harus menulis dan kenapa kak Humairohnya itu sampai segitunya menggembleng mereka agar menghasilkan karya yang bisa mencerahkan pembaca.


"Dek, kakak itu ingin kalian menjadi penulis ideologis yang bisa membersamai umat menyongsong peradaban mulia. Kalian adalah harapan kakak Humairoh, bahkan nama kalian berdua telah berjejer di proposal hidupnya kakak. Kakak tau, ini mungkin berat, tapi kakak yakin, kalian pasti bisa.” Ucap kak Humairoh. Ada air mata yang hampir menetes disana.


“ Kakak itu tau kalian punya segudang potensi. Punya skill yang banyak. Hanya perlu dipoles saja. 

Lantas, apa kalian mau skill kalian tersebut tidak dikontribusikan untuk Islam? Hahh? Jawab kakak dek."

  

Ayu dan Rina terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar dari lisan keduanya. Bak mulut terkunci dan hati tercabuk-cabik, itulah yang dirasakan.


Kata-kata kak Humairoh tersebut sangat menyentuh hati dan kalbu mereka. Ada penyesalan yang menghinggap, ketika mengingat mereka dulu sempat ingin menyerah.


“Menulis adalah salah satu sarana untuk menggugurkan dosa investasi"


Ya. Itulah kalimat yang masih tertanam begitu dalam sampai saat ini dibenak mereka. Kalimat ajib itu pertama kali keluar dari lisan sang kakak mentor dikala rapat team diadakan.


Dengan menulis, akal mereka diajak berpikir bahkan terkadang dipaksa berpikir.


Apalagi ditegah mewabah dan maraknya kemaksiatan yang terjadi, serta diamnya seluruh kaum muslim atas semua itu, sehingga menjadikan menulis bak pahala jariyah(amalan tiada putus) yang kan menangkal dosa investasi yang seolah tiap detiknya terkirim ke buku tabungan amalan buruk kita. Bukan kita yang berbuat, namun tetap mendapat percikan-percikan dosa karena diamnya kita atas kemaksiatan yang terjadi.


Menulis akan membuat penulisnya tetap hidup walau jasad telah ditimbun tanah. Tulisan yang ditorehkan akan tetap mengabadi hingga akhir zaman. Tak habis dimakan rayap atay terhapus oleh air hujan.


Apalagi saat ini sudah berada di penghujung zaman yang semakin canggih. Betapa bebasnya informasi yang berseliweran keluar masuk. Tentu kita harus cermat memanfaatkannya.


Media harusnya dijadikan senjata untuk menangkal tudingan-tudingan negatif terhadap Islam.


Tentu, hal tersebut cukup membuat paradigma Ayu dan Rina berubah haluan.

Dari yang tadinya menulis karena tugas dan desakan dari sang mentor. 

Berubah menjadi menulis hanya dan untuk Allah. Menulis untuk mencerdaskan umat. Menulis untuk memberikan obat penawar mujarab yang bisa menyembuhkan segala kecarutmarutan yang terjadi.

 

Menulis untuk menyampaikan kabar gembira dari Rasul akan kemenangan Islam yang sebentar lagi kan datang.


"Yu, kita harus tetap menulis walau apapun yang terjadi" ucap Rina sambil mengepalkan tangan sejenak setelah rapat itu usai. Ada kobaran semangat dimatanya.


"Iya Rin. Masa kalah sama musuh-musuh Allah yang tak kenal waktu menggencarkan opininya untuk merusak Islam. Kita kagak boleh kalah. Mending dapat kritikan pedas dari kak Humairoh, daripada nanti di akhirat kita digugat sama Allah karena tak memanfaatkan skill kita untuk Islam." Jawab Ayu dengan semangat yang tak kalah membaranya.


Hingga mereka akhirnya tetap menulis dan terus menulis. Dalam waktu seminggu sekali tulisan ditorehkan, bahkan bisa dua sampai tiga kali. Dan di lempar ke berbagai media untuk dimuat. 


Kata-kata super pedas yang dulu sempat membuat rasa pedis, hingga semangat mereka down dan ciut itu, kemudian dipelintir dan dijadikan tantangan agar bisa lebih baik lagi dalam menulis.  


Tak ada lagi rasa pedis dalam kata-kata super pedas itu. Mereka sudah terbiasa mendengarnya dan menerimanya dengan lapang dada. Terlebih karakter kak Humairohnya yang memang keras dan tegas seperti itu.


Mereka bahkan bangga bisa digembleng bak prajurit yang siap ke medan tempur. Walau bukan fisik yang tersakiti tapi hati.


Setahun dua tahun hingga lima tahunpun berlalu dengan penuh suka cita. Tak ada lagi bawa perasaan disana dan tak ada lagi air mata putus asa.

 

Menulis memiliki sejuta manfaat, yang salah satunya dengan menulis, maka si penulis memaksakan raganya untuk membaca, untuk tau dan untuk paham suatu fakta yang sedang memanas. Menganalisisnya dengan pemikiran mustanir (cemerlang) serta memberikan solusi fundamentalis ke tengah-tengah umat.

Tentu semua itu akan imposible dilakukan. Akan ogah dikerjakan jika bukan karena ada tugas plus ada bayang-bayang wajah kak Humairohnya itu yang selalu datang menghantui tidur panjang mereka dikala tulisan belum usai.

  

Hingga akhirnya karya-karya itu telah ada dimana-mana. Baik koran maupun media elektronik. Coretan-coretan tajam nan mencerahkan yang mereka buat kini telah berhasil mencerahkan banyak pembaca. Tak sedikit yang minta belajar Islam melalui perantara tulisan yang mereka torehkan. Bahkan tulisan mereka nyaris membuat musuh-musuh Allah kalang kabut dan mondar mandir bak cacing kepanasan.


Seminar-seminar kepenulisan telah berhasil mereka selenggarakan. Berbagi suplemen agar makin banyak yang mengopinikan Islam. Bahkan dengan tulisan mereka itu membuat siapa saja termotivasi untuk menulis hal yang sama. Ya, menulis untuk mencerdaskan umat.

Mereka berdua juga telah menerbitkan beberapa buku yang siap dilahap oleh umat.


Tentu sejuta istigfar selalu terlantunkan ketika pujian-pujian mematikan itu menghampiri mereka. Karena sebagai seorang penulis yang terpampang nama dan wajahnya dalam berbagai rubrik opini, membuat mereka sedikit terkenal. Sehingga istigfar adalah satu-satunya cara mereka agar terhindar dari penyakit ria dan merasa lebih baik. Mereka tak ingin amalan mereka bak debu beterbangan dipandang gersang. Hilang tanpa bekas hanya karena pujian dari lisan-lisan pembaca.


Mereka juga menyesal karena dulu sempat berputus asa dalam berproses untuk menjadi penulis yang baik.


"Yu, andai dulu kita berhenti menulis, pasti kita akan menjadi orang-orang yang merugi sekarang." Ucap Rina suatu ketika.


"Iya Rin. Kamu benar. Dan apa yang kita alami dulu pasti dirasakan juga oleh penulis-penulis pemula. Bahkan penulis sekeliber Tere Liye, Apu Indragiry, Kholda Najiah, Hasni Tagili,  ataupun lain-lainnya pasti mengalami hal yang sama ketika awal-awal baru menulis. Menulis itu tak seinstan mie instan yang sering jadi pelarian dikala perut sudah keroncongan. Tentu semuanya harus berproses"ucap Ayu sambil terkekeh-kekeh.


Mereka mengucap syukur dan tak henti mendoakan kebaikan untuk kak mentor yang dulu pertama kali memperkenalkan dunia kepenulisan kepada mereka. Ya, dunia yang kini menjadi rutinitas dan sesuatu yang mereka sukai.


Wajah garang dan kritikan pedas tapi tak pedis itu memang masih terngiang dalam benak mereka hingga saat ini.

Namun bukan lagi dijadikan sebagai sesuatu yang menyakitkan layaknya dulu, tapi telah bertransformasi menjadi sesuatu yang dirindukan sepanjang masa, karena kini antara Rina, Ayu dan kakak koordinatornya, kak Humairoh itu kini telah dipisahkan oleh luasnya samudera.


              *THE END*


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!