Sunday, May 27, 2018

Pedas Tapi Tak Pedis (Sebuah Cerpen)


Oleh: Fithry Assyahidah


Episode#1


Akhwat bermata panda itu masih stay didepan leptop keramatnya yang sudah mulai usang. Di depannya, ada segelas teh hangat yang mulai bertransformasi mendingin karena suhu yang semakin malam semakin dingin.


Sesekali helaan napasnya menerjang keras keluar dari kerongkongan. Ada semacam sesak, sedih dan gundah yang tengah ia coba muntahkan di malam yang semakin larut itu.


Bagaimana tidak, ia sudah begitu muak melihat permasalahan yang menimpa negerinya yang kaya itu. Kebijakan-kebijakan penguasanya yang mencekik, pejabat berdasi yang korupsi, BBM yang naik setiap detiknya secara diam-diam disaat rakyat tertidur dalam keadaan perut keroncongan. Orang miskin terlantar dirumah sakit karena memiliki status pasien BPJS, seorang nenek yang harus mendekam dibalik dinginnya jeruji besi hanya karena mencuri satu buah pepaya karena kelaparan. Belum lagi angka kriminalitas yang kian meninggi, kemiskinan yang kian melambung, utang yang semakin membengkak, kasus aborsi, pemerkosaan, de el el.


Kegusarannya kian menjadi, ketika mendapati kenyataan bahwa orang nomor satu dinegerinya telah mengeluarkan kebijakan yang membuat orang non pribumi datang berkerumun bak semut yang mengerumuni gula yang tertumpah.


Ah, batinnya bergemuruh. Darahnya seolah mendidih menyaksikan semua itu. Seolah semua kasus diatas telah lama menjadi menu basi setiap harinya dilayar kaca. Alisnya mengkerut dan mencoba berfikir bahwa memang ada yang salah dengan negerinya yang terkenal seantero jagad raya sebagai negeri yang kaya ini. 


Ditengah-tengah keheningan dan lamunannnya menyaksikan semua kecarutmarutan yang tersaji di layar handphonenya tersebut, tiba-tiba layarnya menghitam pertanda ada telepon yang masuk. Terlihat nama teman seteamnya yang menelpon. Dengan secepat kilat ia menekan tombol hijau tanda answer.


" Assalamualaikum Rin" 


"Waalaikumsalam Yu".


"Belum tidur ya? Tema tulisan untuk pekan ini ngambil apa?"


" Masih bingung Yu, sudah terlalu banyak masalah dinegeri ini. Maunya di boyong semua". Ucapnya ketus


"Iya sih. Tapi segera dipilihlah tema yang lagi "in" sekarang. Besok deadlinenya loh Rin, apa mau kita kena sindiran halusnya kakak Humairoh?" Kata Ayu dengan nada sedikit mau tertawa.


"Iya Yu. Nantiku fixkan malam ini. Masih ke bayang sindirannya minggu lalu gara-gara telat nyetor tulisan. Kata-katanya itu loh, maha halus tapi menggelegar seolah mengguncang bumi dan seisinya." ucap Rina


"Yaudah. Semangat ya Yu. Jangan terlalu begadang, nanti ngedrop lagi. Yassarallah"


" Iya. Insya Allah bentar lagi tidur kok."


"Oke Rin. Udah dulu ya kalau begitu. Assalamualaikum."


"Iya. Waalaikumsalam. Tapi Besok pulang cepat ya. Biar bisa bantuin nganalisis faktanya. Hehehe.” Ucap Ayu sambil terkekeh-kekeh.

 

" Heheheh, Iya. InsyaAllah"


Itulah rutinitas mereka yang hampir setiap malam.Bahkan seolah cicak didinding telah lama menjadi saksi bisu bahwa mereka berdua adalah orang yang sering lembur sampai penghuni bumi terlelap. Namun mereka bukan melemburkan pekerjaan atau tugas kampus, melainkan tugas dari langit yang memiliki ganjaran investasi yang tak lekang oleh waktu itu.


Keesokan harinya pun telah tiba. Rasa deg-deg itu kian menjadi, ketika mendapati kenyataan bahwa  batas deadline tugas semakin mendekat. Sontak seolah waktu ingin diberhentikan sejenak, agar ada jeda untuk menarik nafas dalam-dalam.


Sebenarnya tulisan yang ia buat sudah selesai. Namun masih ala kadarnya, mengingat ia dan teman seperjuangannya itu belum lama mencemplungkan diri ke dunia kepenulisan.Bahkan tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya bahwa tugas itu akan bertengger di pundak-pundak mereka.


 Rasa dingin bak dikutub utara menghinggapi mereka, ketika menyadari pesan mengguncang dari kakak koordinatornya yang super galak itu sebentar lagi ada. Ada dilema disana. Bak seorang perempuan yang bingung mau menerima khitbahan dari seorang ikhwan atau tidak. Ya, mau stor tugas takut masih banyak yang salah. Tidak stor juga merasa bersalah karena sudah berkomitmen untuk membuat tugas on time.


Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, Ayu maupun Rina yang belajar memahami kakak Humairah, koordinatornya itu memilih secepat kilat mengirim tugasnya sebelum keburu di tanyakan dan deadline habis. Karena masih tertancap dengan kokoh di dalam kepala dua gadis yang bersatus mahasiswa fakultas keguruan itu bagaimana kata-kata pedas namun membuat yang mendengarnya tertampar-tampar itu keluar dari lisan koordinatornya.


"Yu, lets send. Sebentar lagi deadline habis nih" desak Rina


"Bentar. Dikit lagi Rin. Rasa-rasanya masih ada yang kurang. Aku gak yakin dengan tulisan ini." Jawab Ayu dengan sedikit mengeluh.


"Ya gak apa-apa. Aku juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Tapi kan kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Jadi kita hadapi saja apapun nanti komentar dan saran dari kak Humairah" jelasnya dengan sekali hembusan nafas.


"Iya deh. Biar kita tau juga kan salahnya kita dimana" Ungkap Ayu dengan mata berkaca-kaca.


Tak lama berselang, muncullah status "online" dari orang yang namanya tersave dengan sebutan kak Humairoh itu.

Beberapa detik kemudian, ceklis dua itu kini berubah warna jadi hijau. Pertanda bahwa file yang mereka kirim telah dibaca.


Rasa deg-deggan dan dingin seolah berada di kutub utara itu menghampiri dua gadis itu.

Mereka was-was karena melihat status dari sang kakak "sedang mengetik"..


"Gimana dong Yu, ini kak Humairoh bakalan bilang apa ke kita. Huhuhu " desak Rina dengan sedikit merengek bak anak kecil yang minta dibelikan permen.


"Kita hadapi saja Rin. Toh dunia belum akan runtuh kan kalaupun kita dapat kritik super pedas, sepedas ayam glepek mba Tia yang kita sering makan itu. Hehehe" kata Ayu mencoba menghibur kegalauan yang menimpa teman sekamarnya itu.


Tidak lama kemudian, pesan mematikan itu masuk.


*Bersambung*


Mohon krisannya (kritik dan saran) man teman. Krisan yang membangun ya..😊😊


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!