Thursday, May 10, 2018

Pantun Tagar Ganti, Siapa yang Lebih Hebat?


Oleh: Irah Wati Murni, S.Pd (Anggota Komunitas Revowriter 7, Ibu Rumah Tangga)


“Pagi-pagi makan buah duren

Lebih enak makan sayur asem

Lagi viral #gantipresiden

Lebih mulia #gantisistem”



RAMAINYA pemakaian kaos #2019gantipresiden rupanya mengalihkan perhatian Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP), Megawati Soekarnoputri. Ia memberikan sindiran keras kepada orang yang memakai kaos tagar ganti presiden ketika berada dalam sebuah acara di Surabaya, Jawa Timur.

Dilansir Tribunpekanbaru. com (Ahad, 29/4/18), Megawati menilai bahwa orang yang membuat jargon ganti presiden tidak taat peraturan. 

"Lah kan lucu ya? Saya lihat saja, ada namanya kaos terus ditulis presiden ganti, terus saya mikir yang pake baju ini ngerti atau tidak?" kata Megawati.

“Emangnya ganti presiden enak apa?Ada aturannya. Kita ini masyarakat punya aturan atau tidak?,” ujarnya menanyakan kepada para pendengarnya.

Menanggapi pernyataan di atas, lalu muncul pertanyaan. Benarkah ganti presiden bisa membuat masyarakat semakin sejahtera dan berakhlak mulia? Lalu apakah dalam islam memiliki sebuah aturan tentang kepemimpinan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat kilas balik perjalanan kepemimpin di Indonesia.

Presiden Indonesia setidaknya sudah mengalami tujuh periode ganti kepemimpinan. Dari mulai kepemimpinan pertama era Soekarno hingga sekarang Jokowi. Gaya kepemimpinan pun beraneka ragam, dari mulai gaya kepemimpinan tokoh nasionalis (Soekarno), ilmuwan (BJ. Habibie), tokoh ulama ( Gus Dur), kalangan perempuan (Megawati), kalangan militer (Soeharto dan SBY) sampai kalangan masyarakat sederhana (Jokowi) pun pernah memimpin Indonesia. Namun, dari ketujuh tokoh tersebut apakah sudah bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi? Apakah sudah bisa membuat masyarakat Indonesia berakhlak mulia?


Tidak. Semakian lama semakin ke sini permasalahan di negeri ini justru semakin kompleks. Dari mulai kesenjangan soisal yang tidak merata, angka kemiskinan semakin tinggi, tingkat korupsu pejabat sebagai wakil rakyat yang semakin menjadi-jadi, ditambah hutang luar negeri semakin membengkak yang justru akan semakin menjerat Indonesia bertambah parah.


Lantas, sebenarnya apa yang salah dengan kepemimpinan negeri ini? Sosok individual presidennya kah atau apa?

Jika yang menjadi masalah adalah sosok pribadi presidennya, maka seharusnya sosok Soekarno, Soeharto dan SBY yang tegas bisa membawa negeri ini menjadi lebih baik lagi. Jika yang menjadi masalah adalah kepintaran dari pemimpin, maka seharusnya sosok BJ. Habibie bisa membuat masyarakat Indonesia menjadi kreatif, inovatif dan memiliki intelektual yang terdepan. Jika yang menjadi masalah adalah kesholehan sosok pribadi pemimpin, maka seharusnya pemimpin santri seperti Gus Dur bisa membawa masyarakat Indonesia bisa berakhlak mulia. Jika yang menjadi masalah adalah masalah wanita  yang memiliki kepekaan yang tinggi harus jadi pemimpin, maka seharusnya Megawati bisa menyelesaikan berbagai masalah sosial di masyarakat menjadi lebih baik. Jika yang menjadi masalah adalah masalah sosok pemimpin yang harus merakyat dan sederhana harus jadi pemimpin, maka seharusnya Jokowi adalah sosok pemimpin ideal yang bisa merakyat dan sederhana. Namun kenyataannya permasalahan negeri ini tidak sesederhana itu. 

Permasalahan yang terjadi bukan karena sosok presidennya saja. Masalahnya jauh lebih luas dari pada itu. Permasalahan saat ini terjadi karena hanya berfokus pada ganti rezim saja, bukan ganti sistemnya. Pasalnya, jika memang kesalahan terletak pada rezim saja mungkin dari dulu Indonesia sudah menjadi negara maju dan sejahtera.

Hal ini bisa dianalogikan dengan sopir dan mobil. Sopir seperti presiden, sedangkan mobil adalah sistem yang menaungi presiden tersebut. Permasalahan yang bertahun-tahun terjadi di Indonesia ini hanya berfokus pada ganti sopirnya saja, kita lupa dengan kondisi mobil rusak yang ditumpangi sopir tersebut. Begitupun dengan kondisi Indonesia saat ini, ibarat mobil yang sudah rusak mau berapa kali berganti supirpun (meski supir tersebut yang paling mahir ), mobil tersebut tidak akan pernah bisa jalan, sebab yang rusak itu mobilnya bukan hanya sopirnya.


Penguasa atau rezim sejatinya hanyalah menjalankan apa yang telah ada sebelumnya dan menjalankan sistem yang sudah diterapkan. Sistem yang dimaksud disini adalah sistem demokrasi-kapitalis yang diterapkan di Indonesia. Sistem ini bukan berasal dari islam. Sistem ini berasal dari Yunani. Ia bukan dari pencipta manusia, tapi dibuat oleh manusia. Jika tak sempurna, maka wajar saja karena yang membuat bukan pencipta tapi yang dicipta. Karena manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, sementara Allah Maha Sempurna.

Lantas, apakah dalam islam ada aturan dalam kepemimpinan? 

Dalam islam ada suatu sistem yang mengatur seluruh wilayah dan masyarakatnya (baik muslim maupun non muslim) dalam satu kepemimpinan dengan berpegang teguh pada al quran dan hadits.  Sistem tersebut dinamakan sistem islam; khilafah islam. Sementara sosok yang menjadi pemimpin dalam sistem khilafah disebut Khalifah. Sistem ini pertama kali dipimpin oleh Rasulullah sebagai khalifah saat di Madinah. Saking pentingnya ini, kemudian diteruskan oleh khulafaur rasyidin, para pengganti Rasulullah yakni  oleh Khalifah Abu Bakar As Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya diteruskan kembali oleh Kekhilafahaan Bani Umayyah, Abbasiyah, dan terakhir Utsmaniah sebagai kekhilafahaan terakhir umat islam sebelum dibubarkan oleh Mustafa Kemal Atarturk. 

“Ada era kenabian di antara kalian, dengan izin Allah akan tetap ada, kemudian ia akan diangkat oleh Allah, jika Allah berkehendak untuk mengangkatnya. Setelah itu, akan ada era Khilafah yang mengikuti Manhaj Kenabian.” (HR. Ahmad)

Jika kita mengaku sebagai orang beriman yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, seharusnya kita meneladani apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah dan diamalkan oleh para sahabat yakni menerapkan islam dalam bingkai sistem islam yang kaafah. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (QS. Al Mukmin : 78) 

Waallahu’alam. []


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!