Thursday, May 24, 2018

Palestina, di bawah Sistem Demokrasi vs Sistem Khilafah


Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd


Derita Palestina tak pernah berhenti. Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan peresmian pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yarusalem. Keputusan Amerika Serikat untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem pada 14 Mei 2018, sekaligus mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel telah menuai kecaman keras dari komunitas internasonal.


Banyak negara menentang langkah itu, menyebutnya sebagai sebuah bentuk pelanggaran atas hukum internasional serta merusak stabilitas dan status quo status Yerusalem, yang menjadi persoalan kunci dalam proses perdamaian Palestina - Israel.


Palestina dan Demokrasi


Pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem memicu kemarahan besar warga Palestina, karena dilihat sebagai dukungan Amerika Serikat terhadap penguasaan  Israel atas seluruh kota Yerusalem, yang bagian timurnya merupakan wilayah mereka dan rencananya akan menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan. Pihak berwenang Palestina menyebutkan bahwa selain puluhan yang tewas masih ada sekitar 2.700 orang yang cedera dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai “pembunuhan massal”.  (bbc.com/15 Mei 2018).


Selama ini tanah Palestina terus menerus direbut sedikit demi sedikit oleh Israel atas bantuan Amerika. Kini Palestina hanya tersisa tepi barat dan Gaza. Tindakan sepihak Trump untuk memindah Ibukota Israel yakni Tel Aviv ke Yerusalem sama saja dengan menghapus Palestina dari peta dunia. Tel aviv bukanlah ibukotanya, apalagi Yerusalem.


Derita Palestina pasca runtuhnya khilafah tak pernah berhenti. Bahkan tragedi kemanusiaan terbesar dan terlama sepanjang sejarah. Serangan demi serangan terus dilakukan. Jumlah warga Palestina yang menjadi martir oleh tembakan tentara Israel terus meningkat.


Itulah kondisi Palestina di bawah sistem demokrasi, nasib Palestina kian hancur. Israel perampas negeri Palestina, malah didaulat sebagai penguasa sah Palestina. Sungguh menyesakkan dada!


Khilafah dan Solusi untuk Palestina

        

Harus disadari oleh kaum muslim, pendudukan tanah Palestina oleh Yahudi tidak pernah terwujud, kecuali setelah khilafah Islam behasil diruntuhkan. Karena itu, masalah Palestina tidak akan pernah selesai selama Israel masih bercokol di bumi Palestina.

            

Seharusnya kaum muslim mengetahui pesan Khalifah Abdul Hamid II (1897), “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku”. Saat berpesan demikian, kedudukan Khilafah dalam kondisi lemah tapi sebagai khalifah, beliau mampu tegas menolak keinginan Yahudi untuk membeli tanah Palestina.

            

Tidak hanya itu, pada tahun 1902 Khalifah Abdul Hamid II juga kemudian mengultimatum Dr. Hertzl dari pihak Yahudi supaya jangan menerusan rencananya. Isi ultimatum beliau, “Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu hak umat Islam.

            Masya Allah! Sungguh luar biasa. Itulah gambaran Palestina di masa kekhilafahan. Seharusnya para pemimpin saat ini memiliki ketegasan seperti Khalifah Abdul Hamid II. Sehingga tanah Palestina tidak mudah dikuasai Israel. 

    

Sekiranya umat Islam sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang akan menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di negeri muslim lainnya. Sehingga masalah Palestina tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.


Sungguh saat ini kita butuh khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khalifah lah yang akan menjadi perisai umat. Yang akan melindungi umat dari kepungan musuh yang haus darah. Umat tanpa Khilafah akan seperti anak anak ayam yang terlepas dari induknya. Terpecah-pecah, kocar-kacir dan tidak memiliki kekuatan. Maka saatnya umat Islam di seluruh dunia bersatu dalam naungan khilafah. Bersatu melawan Israel dan Amerika si penjajah. Si penjarah wilayah.


Khilafah satu-satunya pelindung nyata bagi negeri para nabi, Palestina. Insya Allah akan segera hadir kembali menebar Rahmat bagi semesta.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!