Tuesday, May 15, 2018

Miras Lagi..Tewas Lagi..!


Oleh : Tuti Rahmayani, dr 


Duh.. belum genap setahun, korban tewas akibat miras mencapai angka ratusan. Jelas bukan prestasi yang patut dibanggakan ya sobat.. Sedih malah..


Sungguh miris, maraknya miras justru terjadi di negeri yang sebagian besar penduduknya muslim. Semua orang muslim mengetahui keharaman miras jenis apa pun. 

Islam mengistilahkan miras dengan sebutan khamr. 


Di dalam Al Qur'an, keharaman khamr tercantum dalam beberapa ayat. Di antaranya: 

 “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (QS. Al-Baqarah : 219) 


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah : 90).


Penyebutan khamr termasuk dosa besar dan amalan syaitan, menunjukkan bahwa larangan khamr bersifat tegas. Dan para ulama pun tak ada perbedaan tentang keharaman khamr ini. 


Sebagai barang yang haram, maka khamr pun dilarang untuk diperjualbelikan. Hal ini disebutkan dalam hadits:

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132).


Dalam hadits lain disebutkan mengenai terlaknatnya setiap orang yang mendukung dalam tersebarnya miras. Rasulullah saw bersabda:

ِ“Allah melaknat khomr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Ahmad)


Pertanyaannya, sudahkah aturan Islam ini dijadikan pedoman dalam membuat aturan di negeri ini?

Faktanya, berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah lebih cenderung pada pengawasan dan pengendalian peredaran minuman beralkohol, bukan pada pelarangan produksi dan peredarannya di masyarakat. Dengan dalih tidak semua warga Indonesia muslim. Miras pun diklasifikasikan dengan miras legal dan ilegal. Artinya kalau legal, berarti boleh beredar karena sudah berijin dan membayar pajak. Sementara kalau ilegal tidak boleh dan karenanya pasti kena razia. Miras pun boleh dikonsumsi asal sudah cukup umur. Motif bisnis pun juga membuat miras tetap eksis. Dualisme sikap pemerintah pun semakin nampak. Satu sisi mengedukasi bahaya miras, tapi sisi lain tetap membiarkan dan memberikan ijin pabriknya untuk tetap beroperasi. 


Sebenarnya persoalan mendasar dari semakin maraknya peredaran miras jenis apa pun,  termasuk miras oplosan adalah karena hukum yang diterapkan merupakan hasil dari sistem demokrasi sekuler yang mendasarkan kebenaran pada akal manusia dan kepentingan, bukan atas dasar halal haram. Wajar jika hukum yang berlaku kemudian menjadi mandul dalam memberantas tuntas miras. Hal ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah abai terhadap pembangunan mental dan moral bangsa, khususnya generasi muda. Padahal sudah jelas, dampak dari konsumsi miras sangat membahayakan mental dan moral masyarakat. 


Oleh karena itu, solusi terbaik bagi semua persoalan umat adalah penerapan Islam secara kaffah. Mulai dari pembentukan individu yang bertakwa, masyarakat yang peduli, dan juga negara yang membuat kebijakan sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah. 


Wallahu a'lam bishawab


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!