Thursday, May 3, 2018

Militansi Perjuangan Muslimah dalam Pendidikan


Oleh: Azma Nasira Sy


Menurut KBBI, pengertian militansi ialah ketangguhan dalam berjuang. Militansi sering pula diistilahkan dengan kesungguhan, kerja keras dan mengerahkan segala upaya untuk meraih tujuan yang diinginkan. Dalam konteks militansi meraih tujuan ini, seseorang bisa menjadi rela berpayah-payah, bekerja keras, dan tidak berleha-leha. Bahkan berani menanggung derita agar dapat meraih sesuatu yang diinginkan dan dianggap sebagai kebenaran. 

Muslimah berarti perempuan yang beragama Islam. Maka, militansi perjuangan muslimah artinya ketangguhan perjuangan muslimah atau kesungguhan serta kerja keras perjuangan muslimah dalam meraih ridho Allah Swt. Di dalam Agama Islam, kedudukan perempuan begitu berpengaruh. Perempuan disebut tiang Negara.

Mengapa demikian? Karena di tangan perempuanlah terbentuk generasi hebat, generasi emas, generasi khoiru ummah. Sebab perempuan adalah madrasatul ‘ula bagi anak-anaknya. 

Namun yang terjadi terhadap kaum perempuan diberbagai negeri Islam justru memprihatinkan. Kaum perempuan hari ini hidup dalam keadaan jauh dari gelar “khoiru ummah”. Mereka miskin, tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dan jauh dari kesejahteraan. Tingginya angka perceraian, fenomena single mother dan budaya konsumsi alkohol juga menjangkiti perempuan. Al-wa’ie (April 2016)

Hal ini terjadi karena adanya gerakan kesetaraan gender yang digaungkan oleh kaum Barat. Sehingga mengakibatkan perempuan merasa tidak adil karena hanya berdiam diri di dalam rumah. Mengurus dapur, sumur dan kasur saja. Tidak produktif katanya.

Akhirnya muncul perasaan malu karena tidak bekerja, tidak mnghasilkan materi, dikatakan tidak mandiri, selalu menengadahkan tangan(meminta) kepada suami. Dengan begitu perempuan keluar rumah dan meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Akibatnya, tumbuh di dalam diri mereka keinginan untuk bersaing disegala bidang dengan laki-laki agar dapat dikatakan setara. 

Tatanan di dalam keluarga yang awalnya berjalan harmonis dengan posisi yang jelas dan peran masing-masing dalam keluarga menjadi goyah karena seruan ketidakadilan. Kondisi keluarga yang seperti inilah yang diinginkan oleh Barat terjadi kepada keluarga muslim. Mereka menginginkan rusaknya tatanan keluarga yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya tatanan dalam masyarakat.

Mengapa Barat sangat takut terhadap kebangkitan seorang perempuan? Inilah yang patut kita cari dan temukan jawabannya. Agar kita sebagai perempuan dapat kembali bangun dari ketidaktahuan dan bangkit dari keterpurukan. Serta mengajak seluruh muslimah untuk kembali kepada jati dirinya sebagai perempuan sesuai ajaran Islam. 

Tenyata, Barat sangat mengetahui potensi luar biasa yang ada dalam diri perempuan (muslimah). Kekuatan Eropa telah mengakui bahwa di dalam Masyarakat Islam, perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat dan pendidik generasi masa depan. Hal itu telah dibuktikan secara nyata dalam gerak yang nyata bahwa keberadaan perempuan sangat berpengaruh bagi masyarakat bahkan bagi negara. 

Sebagai contoh yaitu pahlawan wanita yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara. Dia adalah Kartini. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinspirasi dari tindakan beliau. 

Kemudian pahlawan wanita lainnya milik Indonesia adalah Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1990-1969) yang semangat dan tangguh serta bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk terlaksananya Syariah Islam di dalam kehidupan perempuan kala itu. Apa yang beliau lakukan? Beliau mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah Agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia.

Semua itu beliau lakukan dengan tujuan agar perempuan mendapatkan hak pendidikan sesuai dengan fitrahnya. Kiprahnya begitu nyata berpengaruh dalam masyarakat. Bahkan apa yang beliau lakukan diapresiasi oleh Imam Besar Al-Azhar Kairo. Menurut catatan Hamka, Perguruan Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka kuliah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Masyaa Allah.

Keberadaan muslimah memang sangat berpengaruh. Sejak Rasulullah Saw. diutus untuk menyebarluaskan risalah Islam, muslimah generasi awal telah terlibat secara aktif dalam pergerakan dakwah. Mereka bersama kaum muslim melakukan transformasi(perubahan, bentuk) sosial, mengubah masyarakat jahiliyah yang paganistik(tidak beragama) menjadi masyarakat Islam. 

Mereka bahkan secara bersama merasakan pahit getirnya mengemban misi dakwah. Melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik di tengah-tengah masyarakat. Akhirnya atas pertolongan Allah Swt. mereka berhasil membangun masyarakat Islam yang agung di Madinah.

Banyak peran politik yang dilakukan oleh perempuan, seperti Bunda Khadijah r.a, istri Rasulullah Saw. memainkan peran politik yang strategis pada masa awal dakwah beliau. Demikian juga Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, juga Ummu Sulaim tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai Ummun wa Rabbah Albayt. 

Mereka adalah teladan yang nyata muslimah yang militansi dalam perjuangan Islam, menjunjung tinggi Syiar Islam, membela Agama Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam, bershabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati dijamin masuk surga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela Agama-Nya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabiilillaah demi meraih ridho Allah dan jannah-Nya. (Najmah Saiidah, November 2009).   

Militansi merupakan kesadaran untuk senantiasa memberikan yang terbaik sesuai pemahamannya dan juga kemampuannya. Tentunya pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman terhadap ideologi yang mendalam, bersih dan cemerlang. Pemahaman tersebut apabila menyatu dengan militansi yang tinggi akan memberikan hasil yang seringkali di luar dugaan.

Disinilah pentingnya memahami bagaimana mewujudkan militansi ideologi pada diri muslimah sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Ada empat hal yang harus dilakukan sebagai wasilah untuk menjadi muslimah yang militan dan wasilah untuk menerapkan syariah dalam lingkup muslimah secara lebih luas.

Empat hal itu diantaranya: pertama, Pembinaan Tsaqofah Islam dalam bentuk yang utuh dan integral(keseluruhan). Kedua, Pembinaan para kader agar menjadi mufakkirin-siyasiyin. Ketiga, Pembinaan yang mampu memberikan arahan dan keteladanan kepada para kader. Keempat, Pembinaan yang mampu melahirkan kader-kader militan yang senantiasa menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai alat memurnikan ideologi dalam jiwa dan perilaku para pengemban dakwah. 

Demikian upaya yang harus dilakukan oleh muslimah, ibu dan pengurus rumah tangga dalam membangun militansi. Insyaa Allah jika diterapkan akan menghasilkan pejuang-pejuang Islam yang tangguh. Selain itu akan menjadi ibu yang mampu melahirkan serta mendidik generasi khoiru ummah pemimpin masa depan yang tidak diragukan lagi militansinya. Wallahu a’lam.


Pengajar STP Khoiru Ummah Banjarbaru Kalsel



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!