Saturday, May 19, 2018

Menyusui, Sebaiknya Puasa atau Tidak?


 Pertanyaan: 

Saya ingin bertanya, yang mana yang lebih baik untuk ibu menyusui, ikut berpuasa Ramadhan meski masih menyusui/ tidak berpuasa karena khawatir pada bayi nya jika nanti kekurangan asi saat ibu berpuasa?  Ini ramadhan pertama saya dengan si kecil, jadi khawatir dengan keadaan baby, tapi juga ingin ikut berpuasa.. 


( Bunda Siti Fitriatun - Kencong)


 Jawaban:  Tidak ada perdebatan di kalangan ahli fiqh terkait kebolehan berbuka (tidak berpuasa) bagi wanitahamil dan menyusui. Hal itu adalah rukhsah (keringanan), merupakan bentuk rahmat Allah yang dikaruniakan bagi hambaNya. 


  Dari Anas bin Malik bahwa seseorang dari Abdullah bin Ka’ab saudara Bani Qusyair ia berkata Rasulullah SAW bersabda, 


 Duduklah, aku akan memberitahukan padamu tentang shalat dan puasa. Sesungguhnya Allah telah meletakkan separuh shalat dan puasa orang yang dalam perjalanan, orang menyusui dan orang hamil. Demi Allah Ia telah mengatakan semuanya atau salah satunya… (HR. Abu Daud,[2408], an- Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad) 


 “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.” (HR. An Nasai no. 2275, Ibnu Majah no. 1667, dan Ahmad 4/347)  


Dari Anas bin Malik ra, ia berkata :


  Rasulullah SAW memberikan keringanan kepada wanita hamil yang khawatir akan dirinya untuk berbuka, dan bagi wanita yang menyusui yang mengkhawatirkan anak (yang disusuinya) (HR. Ibnu Majah [1668] dan Ibnu Adi)  


Dari dalil-dalil di atas, para ulama bersepakat tentang bolehnya berbuka bagi wanita hamil dan menyusui, sebagaimana kebolehan yang sama menjadi rukhsah bagi musafir.


 Namun jika kita memperhatikan tiga hadits di atas, hadits pertama dan kedua datang dalam bentuk umum, menyebutkan ‘wanita hamil dan menyusui’. Sedangkan dalam hadits ketiga datang dalam bentuk khusus dengan menyebutkan ‘kehamilan dan aktivitas menyusui yang dikhawatirkan berdampak buruk pada ibu dan bayi’. Maka hadts ketiga menjadi dalil yang mentakhsisi (mengkhususkan) keumuman dalil kebolehan berbuka bagi wanita hamil dan menyusui.  


 Maksudnya begini, wanita hamil atau menyusui, jika ia khawatir dengan berpuasa akan berdampak buruk pada dirinya atau bayinya, maka boleh berbuka. Jika tidak ada kekhawatiran, maka keduanya tidak boleh berbuka dan wajib berpuasa. 


Dalam hal pengganti puasanya, ulama berbeda pendapat apakah cukup mengqadla’ puasanya saja, membayar fidyah saja, ataukah wajib qadla’ sekaligus fidyah? 


 Menurut Imam Syafii dan Imam Ibnu Hanbal, keduanya (wanita hamil dan menyusui) berbuka dan wajib mengqadla puasa jika khawatir akan dirinya saja, atau khawatir akan dirinya dan anaknya. Namun jika yang dikhawatirkan hanya anaknya saja, maka wajib qadla’ sekaligus fidyah, setiap hari satu mud. 


 Ashab Hanafi berpendapat bahwa cukup mengqadla’ saja. Pendapat ini juga diambil oleh Syaikh Mahmud Uwaidlah dengan mendasarkan pendapatnya pada dalil hadits pertama di atas, yang tidak membedakan antara musafir, wanita hamil dan menyusui. 


  Sedangkan pendapat yang menyatakan cukup membayar fidyah saja, ini dilemahkan oleh jumhur ulama. 


 Pendapat mana yang harus kita ikuti? Dalam bertaqlid (mengikuti pendapat ulama), kita wajib bertaqlid dalam satu masalah (persoalan) pada satu pendapat saja. Tidak boleh bertaqlid pada dua pendapat dalam satu masalah yakni mencampur adukkan pendapat seorang ulama dengan ulama lainnya (talfiq). Dalam masalah puasa misalnya, jika persoalan rukun puasa, pembatal puasa dan fiqh lainnya kita bertaqlid pada imam Syafii misalnya, maka dalam hal qadla’ puasa hamil dan menyusui kita wajib bertaqlid pada beliau karena ini masih berada dalam satu masalah. Wallahu a’lam bis shawab. 


(Usth. Wardah Abeedah)


@infomuslimahjember #infomuslimahjember #jember


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!