Wednesday, May 16, 2018

Menyambut Ramadhan dengan Ketaatan yang Berkepanjangan


Oleh: Vio Ani Suwarni

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Marhaban Ya Ramadhan. Alhamdulillah bulan yang dinantikan setiap umat Islam di seluruh dunia kini telah tiba. Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selain kebahagiaan yang terpancar di raut wajah kita. Ternyata kebahagiaan tersebut hanya bisa kita rasakan di dalam hati kita. Rasa gembira menghampiri selama satu bulan kita berada di bulan ramadhan.

Memang menyenangkan berada di bulan ramadhan, tapi yang menjadi catatan apakah bisa ketaatan yang kita kerjakan semata-mata mengharapkan ridhanya Allah selama bulan ramadhan ini, bisa konsisten sampai seterusnya? Ini yang menjadi pertanyaan besar, karena penulis mendapati ketaatan ini seakan-akan menjadi agenda tahunan saja. Setelah bulan ramadhan berakhir bisa jadi ketaatan yang dipupuk selama bulan ramadhan sirna begitu saja.

Sebagai seorang muslim, tentu Allah SWT menyukai amalan hambanya yang konsisten dan berkepanjangan. Memang betul di bulan ramadhan ini segala bentuk amalan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Tak heran semuanya berbondong-bondong berpuasa, shalat sunnah tarawih, tadarusan, infaq shodaqoh, tak lupa shalat wajib pun ikut menghiasi amalan ibadah mahdah kaum muslimin. Pakaian pun disesuaikan, semua berbalutkan busana Islami. Tapi yang perlu dipahamkan, pakaian islami dan syar'i (kerudung dan jilbab) untuk perempuan. Tidak hanya dipergunakan ketika bulan ramadhan saja, akan tetapi pakaian ini digunakan muslimah yang sudah balig hingga akhir hayatnya.

Terkait ibadah mahdah, tentu saja kita ingin selalu terjaga amalan ibadah mahdah kita tidak hanya di bulan ramadhan, akan tetapi di bulan-bulan yang lainnya. Tentu saja terjaganya ketaatan ini karena adanya idrakh silabillah (kesadaran yang ada pada diri kita, bahwasannya Allah senantiasa memperhatikan segala bentuk kegiatan kita). Karena merasa senantiasa diperhatikan oleh Allah SWT, maka ketaatanpun akan ada pada diri kita. 

Kenapa ramadhan seakan-akan menjadi agenda tahunan belaka? Seolah-olah belum ada ketaatan yang permanen dalam diri kita? Ternyata jawabannya sangat simple, yakni tidak adanya idrakh silabillah pada diri kita. Sehingga kita dengan mudah mengambil hukum Allah di bulan ramadhan dan mencampakan hukum Allah ketika ramadhan berakhir. Sungguh hal seperti ini tidaklah diinginkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Karena Allah dan Rasulullah menginginkan hamba-hambanya yang taat dan istiqomah di jalan Allah hingga JannahNya. 

Bulan ramadhan hendaknya dijadikan bulan memupuk kesadaran, ketaqwaan dan keistiqomahan. Sehingga ketika bulan ramadhan berakhirpun kita tetap taat kepada Allah SWT. Catatan penting selanjutnya adalah, ketaatan pada Allah tidak hanya di bulan ramadhan saja, akan tetapi di bulan-bulan yang lainnya. Namun, kita tidak menafikkan bahwasannya bulan ramadhan adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah dan terdapat banyak keberkahan di dalamnya.

Wallahu a'lam bishowab



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!