Thursday, May 31, 2018

MENOREHKAN KEMBALI PERADABAN ISLAM, SEBUAH KENISCAYAAN



Oleh : Laila Thamrin (Praktisi Pendidikan - Revowriter)


Kian hari rasanya kian bertumpuk masalah menghampiri kehidupan ummat. Tak hanya di negeri ini, tapi juga di seluruh negeri-negeri muslim di dunia. 


Di negeri ini, harga kebutuhan pokok terus meroket.  Harga BBM pun terus meningkat. Layanan kesehatan semakin rumit dan mengikat. Pendidikan makin sekuler. Keamanan pun tak menjamin rasa aman. Semua begitu lekat dengan hidup kita sekarang.


Rakyat kebingungan. Mereka butuh kepastian akan kesejahteraan hidupnya. Negara berperan besar untuk melindungi dan menjamin ketentraman pada rakyatnya. Namun sayang, sepertinya harapan rakyat untuk kebaikan hidupnya seolah seperti pungguk merindukan bulan. Bagaimana tidak. Sumber daya alam negeri ini diobral ke negeri lain. Sementara para  pembesar negeri hidup bergelimang harta. Lalu, dengan apa rakyat  disejahterakan?


Ketersediaan bahan pangan, sandang dan papan tentu perlu biaya untuk mengolahnya. Pendidikan, kesehatan dan keamanan juga perlu sarana dan prasarana yang layak. Tak dipungkiri bahwa semuanya perlu dana untuk menyediakannya. Darimana sumber dananya jika negeri ini sudah tak punya apa-apa?

 

Akhirnya negeri ini terlilit utang  yang terus bertambah setiap tahunnya. Tak cukup itu, rakyat yang sudah menderita masih pula dilirik hartanya. Pajak ditarik pada semua strata. Bahkan dana zakat dan haji milik ummat pun diinvestasikan  untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan negeri. Tidakkah ini semakin memperparah derita rakyat.


Semua ini terjadi karena kuatnya cengkraman Kapitalisme di negeri-negeri Islam. Yang menjadikan manfaat sebagai tolak ukur setiap aktivitasnya. Tak ada standar halal-haram dalam kamusnya. Akibatnya, negeri muslim yang kaya raya terus dieksploitasi agar menguntungkan para pemilik modal. Hingga negeri-negeri Islam tergadai dalam kekuasaan korporatokrasi. Dan kaum muslimin pun menjadi kuli di negeri sendiri.


Namun umat Islam semakin cerdas dan menyadari bahwa kehidupannya harus diurusi oleh negara. Ada hak-hak mereka sebagai rakyat yang menjadi kewajiban negara melaksanakannya. Diantaranya, seorang laki-laki sebagai kepala keluarga berhak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menafkahi keluarganya. Dan kewajiban negara menyediakan lapangan kerja yang pas untuk setiap rakyatnya. Rakyat juga berhak menikmati semua sumber daya alam negaranya tanpa perlu membayar. 


Dulu, saat peradaban Islam berjaya semua itu bisa dinikmati rakyat. Negara Khilafah menjadi penyokong kesejahteraan rakyat. Dan Khalifah berjuang keras untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab ra rela setiap malam berkeliling kota untuk memastikan semua rakyatnya terpenuhi haknya. Begitu pun Khalifah Umar bin Abdul Azis ra, membiarkan tubuhnya kurus dan rambutnya memutih karena selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Dan terbukti di masa pemerintahannya tak ditemukan yang berhak menerima zakat. MasyaAllah.


Jadi layak kiranya kita berharap agar syariat Islam segera diterapkan. Karena dengan syariat Islamlah persoalan ekonomi ummat kan terselesaikan. Masalah sosial pun kan terpecahkan. Pendidikan dan kesehatan pun kan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Hingga keamanan hidup pun kan terwujud sebagaimana seharusnya. 


Khilafah kan memberikan ketentraman dan  kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya, baik muslim maupun non muslim. Karena Khilafah akan menjadikan Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw sebagai Undang-undangnya. Dan Khalifah sebagai pemimpinnya kan berjalan di atas itu semua. 


Selama 14 abad peradaban Islam telah membuktikannya. Sepanjang kurun waktu itu, kaum muslimin berada dalam Kekhilafahan Islam dan senantiasa dipimpin oleh seorang Khalifah. Kegemilangan peradaban Islam pun diakui oleh dunia. Dan tinta emas telah menorehkannya tanpa ada yang mampu menolaknya. 


Maka adalah sebuah keniscayaan bagi umat untuk menorehkan kembali sejarah gemilang peradaban Islam. Dalam naungan Khilafah Rasyidah 'ala Minhajjin Nubuwwah. 

Sebagaimana janji Allah Swt dalam firmannya :


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُونَ


"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nur : 55)


15 Ramadan 1439 H

31 Mei 2018



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!