Friday, May 18, 2018

Menindak Kekerasan pada Anak


Oleh: Nor Aliyah, S.Pd


Banyak disaksikan di masyarakat begitu mudahnya orangtua berlaku kasar kepada anak. Misalnya jika anak bersalah atau berkelahi maka orangtua langsung memukul dan menyalahkan anaknya. Apalagi bagi anak yang memang sering membuat ulah. Orang tua jadi sering naik pitam dan melepaskan pukulan atau tendangan.


Selain itu, bila ada perkelahian antar orangtua, anak juga tak luput menjadi korban. Pernah ada orangtua yang tega membacok isteri  dan anaknya sendiri hanya karena tersulut emosi. 


Hal apa saja yang menyangkut kekerasan anak? Pertama, kekerasan orang tua/dewasa menyebabkan cedera fisik terhadap seorang anak. Termasuk dalam kekerasan fisik bila orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan sandang pangan termasuk gizi, pengobatan, tempat tinggal, dan pendidikan dasar bagi anak. Juga bila orang tua/dewasa menelantarkan anaknya dalam jangka waktu yang lama.


Kedua, kekerasan secara psikis yaitu orang tua/dewasa tidak memberikan kasih, dorongan, serta bimbingan pada anak. Tindakan penolakan yang dilakukan orang tua, dengan sering mencari-cari kesalahan dan meremehkan anak ini juga adalah bentuk kekerasan secara psikis.


Ketiga, kekerasan seksual seseorang menggunakan anak untuk mendapatkan kenikmatan atau kepuasan seksual. Tidak terbatas pada hubungan seks saja, melainkan menyentuh tubuh anak secara seksual baik menggunakan atau tidak menggunakan pakaian, membuat atau memberikan tontonan yang berisi aktivitas seksual.


Banyak faktor yang menyebabkan orangtua bertindak kasar bahkan kejam pada anak. Kadang faktor ekonomi yang sulit membuat orangtua baik ayah atau ibu melampiaskannya berupa tindak kekerasan kepada anak. Semua hal itu sangat sering kita kita saksikan di televisi maupun surat kabar.


Para pegiat HAM dan perlindungan anak mungkin memandang maraknya kekerasan yang dilakukan pada anak adalah karena faktor hukum yang belum tegas dalam memberikan sanksi bagi pelaku kekerasan.


Namun benarkah demikian? Jika kita mau mengamati maka kita akan melihat bahwa yang menyebabkan maraknya kasus kekerasan pada anak bukan hanya sekedar sudah adanya hukum yang tegas melindungi bagi anak-anak. Penetapan sanksi yang berat ternyata tidak cukup. Solusi yang diberikan harusnya solusi yang menyeluruh dan komprehensif. 


Kian meningkatnya kasus kekerasan yang menimpa anak membuktikan bahwa negara ini telah gagal dalam melindungi anak. Itulah negara demokrasi kapitalis. Dengan karakter yang melekat pada sistem kapitalis ini, yakni negara sebatas membuat aturan akan meniscayakan munculnya beragam masalah. Negara juga telah bertindak abai dengan menyerahkan perlindungan anak dan masalah sosial lainnya hanya kepada keluarga.


Hal ini karena jauhnya pemahaman tentang agama dari level individu, masyarakat dan bahkan negara. Sistem yang sekuler saat ini menyebabkan nilai-nilai agama yang harusnya dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan. Termasuk dalam pendidikan anak.


Harus kita akui, bahwa Indonesia saat ini mengalami darurat kerapuhan keluarga. Kasus perceraian, kekerasan dalam keluarga, generasi darurat narkoba dan seks bebas, generasi permisif dan konsumtif, kian merajalela. Jauhnya perasaan takwa kepada Allah SWT juga menjadi faktor.


Pada saat yang sama, agama tidak lagi dijadikan sebagai pondasi kehidupan, sebagai dampak dari Sekularisasi (pemisahan antara agama dan pengatur kehidupan), maka akhirnya solusi yang mereka tempuh adalah solusi instant seperti narkoba, alkohol, dan pergulan bebas. Di lain pihak, sistem ekonomi kapitalis ini melahirkan banyak pengangguran dan orang-orang kepepet. Membuat orang mudah kalap mata dan melampiaskan kemarahan dengan kekerasan.


Berbeda dengan Islam yang menjadikan akidah Islam, Laa Ilaaha illallah Muhammad Rasulullah sebagai asas, wahyu Allah sebagai pijakannya. Islam memiliki aturan yang rinci, sempurna, dan mencakup seluruh aspek kehidupan.


Sistem Islam adalah sistem kehidupan yang unik, dimana negara bertanggungjawab menerapkan aturan-aturan Islam untuk mengatur seluruh urusan umat, dalam bentuk penerapan sistem aturan Islam. Meliputi sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, sistem politik dan pemerintahan, serta sistem sanksi dan uqubat.


Sehingga umat mendapatkan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang hakiki. Ini semua hanya akan bisa dilaksanakan jika aturan Islam diterapkan secara keseluruhan dalam sebuah institusi negara, yaitu Khilafah Islamiyyah, yang menjadikan aqidah dan syariat Islam sebagai pijakannya.


Islam sebagai aturan yang sempurna mengatur sistem sosial yang mampu menjaga dan melindungi keluarga Muslim. Dalam Islam terdapat tata aturan pendidikan anak. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Memang anak harus dididik dengan benar agar bisa berkembang dan menjadi baik. Tentu dengan pendidikan yang tepat.


Dalam Islam, sesungguhnya keluarga adalah pondasi dasar suatu negara. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang, dan orang tua sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga terutama berperan dalam pengembangan watak, kepribadian, dan nilai-nilai agama. 


Setelah itu, sistem pendidikan Islam dan pergaulan masyarakat yang islami akan semakin memperkuat kepribadian anak.


Penerapan sistem Islam akan meminimalkan faktor-faktor yang bisa memicu kasus pelanggaran dan kekerasan terhadap anak. Namun, jika masih ada yang melakukan itu, maka sistem ‘uqubat (sanksi hukum) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat. Caranya adalah dengan pemberian sanksi hukum yang berat, yang bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain berbuat serupa.


Pelaku kekerasan yang menyebabkan kematian anak, tanpa kekerasan seksual, akan dijatuhi hukuman qishash. Pelaku pedofili dalam bentuk sodomi, meski korban tidak sampai meninggal, akan dijatuhi hukuman mati. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:


“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi). ” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi).


Sebagai korban, tentunya anak tidak akan dikenai sanksi. Sebaliknya, ia akan dilindungi dan dijaga kehormatannya.


Jika kekerasan seksual terhadap anak itu dalam bentuk perkosaan, maka pelakunya jika muhshan (sudah menikah), akan dirajam hingga mati; sedangkan jika ghayr muhshan (belum menikah), akan dicambuk seratus kali. Jika pelecehan seksual tidak sampai tingkat itu, maka pelakunya akan dijatuhi sanksi ta’zir, yang bentuk dan kadar sanksinya diserahkan ijtihad Khalifah dan qadhi (hakim).


Pelaksanaan semua sanksi itu dilakukan secara terbuka, dilihat oleh masyarakat dan segera dilaksanakan tanpa penundaan lama. Dengan itu pelaku kekerasan terhadap anak tidak akan bisa mengulangi tindakannya. Anggota masyarakat lainnya juga tercegah dari melakukan tindakan kejahatan serupa.


Penerapan sistem Islam yang menyeluruh ini akan menyelesaikan dan menindak masalah kekerasan terhadap anak secara tuntas. Anak-anak dapat tumbuh dengan aman, menjadi calon-calon pemimpin yang bertakwa, calon-calon pejuang dan calon generasi terbaik.


Firman Allah SWT: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Al Furqon : 74).


*Seorang Pendidik di HSS



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!