Sunday, May 20, 2018

Mengembalikan Fungsi Mesjid Sebagai Pusat Aktifitas Dan Perjuangan Umat


Oleh: Epi Aryani (Anggota komunitas revowriter Karawang) 


Ketika sudah masuk waktu solat, tentu tempat yang harus dituju oleh seorang muslim adalah masjid, khususnya bagi laki-laki. 


Dalam kondisi perjalanan jauh, bagi muslimah seperti saya, mencari masjid juga menjadi sebuah kebutuhan. Tapi sayangnya, saya mendapati mesjid sering terkunci walaupun dalam waktu-waktu solat. 


Jadi teringat kembali tentang di tutupnya masjid-masjid di area jakarta bagi para peserta aksi Bela Islam. Air dan listriknya mati. Membuat para peserta dari luar kota yang singgah ke masjid menjadi kesulitan walau untuk sekedar berwudhu. Miris.


Kemudian kini muncul wacana yang berkaitan dengan masjid dari para relawan Jokowi yang diwakili oleh Moeldoko. Yaitu peluncuran program antipolitisi masjid, berupa pembatasan konten ceramah yang bermuatan politis. Seperti dilasir dari tempo.co (22/4/2018).


Moeldoko menyatakan bahwa, tidak seharusnya masjid dikotori oleh pemikiran-pemikiran yang menyimpang (liputan6.com) dan anggapan kurang tepatnya jika pengajian disusupi oleh aktifitas politik praktis (detik.com).


Ini menarik, karena ketua gerakan anti politisasi masjidnya sendiri ternyata adalah seorang non muslim (eramuslim.com). Ironis.


Apa sebenarnya tujuan dibalik gerakan antipolitisasi masjid ini?


 Peran Masjid Dalam Islam


Mesjid yang pertamakali dibangun oleh Rasulallah SAW adalah mesjid di daerah Quba, desa kecil yang berdekatan dengan kota Madinah. Mesjid ini dibangun ketika perjalanan hijrah dari Mekah menuju Madinah. Yang sampai saat ini disebut dengan Masjid Quba.


Sesampainya di Madinah, Rosul SAW membangun masjid Nabawi yang kemudian menjadi pusat aktifitas bagi kaum muslimin. Mulai dari pusat ibadah, melakukan pembinaan ke Islaman (fungsi edukasi), menghimpun zakat (fungsi ekonomi), menampung fakir miskin (fungsi sosial), tempat mengobati korban perang (fungsi kesehatan), sampai dengan menyusun strategi peperangan (fungsi politis).


Oleh karena itu, masjid menjadi tempat yang paling dicintai oleh Allah. Nabi SAW bersabda:


"Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya". (HR. Muslim)


Mesjid dan Politik


Politik dalam definisi syar'iy berarti: pengurusan atas urusan umat. Dengan demikian, aktifitas politik tidak bisa dipisahkan dari masjid.


Ketika Umar Bin Khotob menjadi pemimpin bagi kaum muslim (Amirul Mukmin). Sesudah solat fardu dijadikan sebagai waktu untuk berdiskusi atas perkara umat. Mulai dari mengoreksi kebijakan penguasa maupun membahas solusi atas permasalahan umat. Laki-laki dan perempuan memiliki hak berpendapat, sesuai koridor syariat.


Penyadaran kaum muslimin atas agamanya sebagai solusi atas permasalahan kehidupan, pun merupakan aktifitas politik. Mulai dari aktifitas harian sampai dengan memilih pemimpin, Islam punya solusinya. Sehingga kaum muslimin diharapkan kembali kepada syariat islam sebagai landasan berkehidupan.


"Barangsiapa datang ke masjidKU ini tidak lain kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia bagaikan mujahid di jalan Allah. Sedangkan yang datang untuk selain itu maka bagaikan orang yang cuma melihat-lihat harta orang lain" (HR. Ibnu Majah dan Alhaihaqi) 


Ini wajar jika menjadi momok menakutkan bagi para kaum kapitalis sekuler yang tidak menginginkan kembalinya Islam mengatur kehidupan umat. Maka dibuat formulasi yang membatasi kegiatan umat di mesjid hanya sebatas ibadah ritual belaka. Atau konten ceramah yang dibatasi, tidak menyentuh ideologi.


Maka seharusnya kaum muslim tidak terkecoh dan tetap memfungsikan masjid sesuai dengan semestinya, yaitu menjadi pusat aktifitas dan perjuangan Islam dan kaum muslim.


Wallahu a'lam.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!