Saturday, May 5, 2018

Mendamba Sistem Pendidikan yang Mencerdaskan


Oleh: R. Nugrahani


Ujian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) telah dilaksanakan. Menyusul kemudian UN untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan yang sederajat pun telah dilaksanakan. Ada hal menarik dalam pelaksanaan UN tersebut. Apa itu? Yaitu adanya beberapa soal soal UN yang menggunakan kemampuan berpikir atau daya nalar tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan bahwa UN harus semakin sulit untuk mengurangi ketertinggalan kita. Keluhan demi keluhan pun beredar di media sosial. Keluahan siswapada umumnya tentang tingkat kesulitan soal. Siswa merasa belum pernah diajari ihwal soal-soal tersebut, terutama matematika. Berbeda dengan try out yang selama ini dipelajari. Bahkan banyak yang bilang, soal dalam UN tidak seperti dalam kisi-kisi yang mereka pelajari.

Mendikbud mencoba meyakinkan bahwa soal UNBK masih sesuai kisi-kisi. Meski begitu, ia mengakui bahwa faktor kesulitan dalam soal UNBK 2018 memang ditambah derajatnya. Peningkatan derajat kesulitan tahun ini baru 10 persen. Artinya di tahun mendatang akan lebih sulit lagi.

Pembelajaran HOTS mulai mengemuka sejalan dengan adanya penyempurnaan perubahan standar proses dan penilaian pada kurikulum 2013. Standar proses diarahkan pada pencapaian kompetensi abad ke-21 yang terdiri dari kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Kompetensi ini bisa tercapai apabila proses pembelajaran dan penilaian mengarah pada terwujudnya keterampilan berpikir tingkat tinggi. Sementara keterampilan berpikir tingkat tinggi, dalam rumusan Anderson dan Krathwohl (2001), merujuk pada dimensi proses berpikir pada level menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi ide. Pada konteks ini, soal HOTS merupakan tuntutan kurikulum agar siswa memperoleh keterampilan berpikir sesuai dengan perkembangan zaman.

Memang pertimbangan adanya soal HOTS bukanlah tanpa alasan. Menurut Muhadjir kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Ini tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA).

PISA diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebagai program untuk mengukur pencapaian pendidikan di seluruh dunia.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi ini melakukan survei tiga tahun sekali. Mereka mengukur kemampuan anak berusia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains.

Tahun 2000 untuk pertama kali Indonesia ikut dalam PISA. Survei terakhir telah dilakukan pada tahun 2015, yang diumumkan pada tahun 2016. Hasilnya, Indonesia masih menunjukkan kualitas pendidikan yang sangat rendah dibanding negara tetangga. Untuk kemampuan literasi membaca, Indonesia berada pada urutan 66 dari 72 negara, dengan skor 397. Matematika di urutan 65 dengan skor 386. Sedang sains di peringkat 64 dengan skor 403.Padahal rata-rata skor internasional adalah 500.Dan Kemendikbud adalah lembaga yang paling bertanggung jawab atas rendahnya mutu pendidikan tersebut.

Memang UNBK kali ini bukan faktor penentu kelulusan siswa. Meningkatkan kualitas pendidikan memang sebuah keharusan. Tapi tidak dengan cara menambah derajat kesulitan pada soal UN semata. Semua pihak pasti paham, peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dilakukan secara instan, tapi melalui proses yang panjang dalam ekosistem belajar mengajar yang baik. Semua variabel dalam sistem pendidikan harus dibenahi secara saksama.

Islam sebagai agama yang memiliki kelengkapan sempurna, secara nyata pun memiliki tujuan pendidikan yang “khas”. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islami (syakhshiyah islamiyah)setiap muslimdan  membekalinya dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut kurikulum Islam memiliki tiga komponen materi pokok yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islam; (2) penguasaan tsaqafah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian dan keterampilan). Hal demikian akan mampu mencetak peserta didik yang menghiasi segenap aktivitasnya dengan akhlak mulia dan memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang benar.

Dengan demikian output yang dihasilkan adalah generasi pejuang, bukan generasi yang cerdas akal saja namun miskin kepribadian; bukan generasi yang mahir dalam IPTEK namun miskin iman. Merekalah generasi pemimpin, pengukir peradaban yang tak mudah surut dalam perjuangan Islam.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!