Saturday, May 12, 2018

Mempertanyakan Makna Islam Moderat


Oleh : Irianti Aminatun (Penulis Bela Islam)

Akhir-akhir ini istilah Islam moderat terus digaungkan. Bahkan   dalam  Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim se Dunia Wasathiyah Islam di  Bogor beberapa waktu lalu Jokowi mengatakan “Katerlibatan ulama menjadi sangat penting karena ulama adalah pewaris nabi dan obor keteladanan bagi umat. Jika ulamanya bersatu padu dalam satu barisan untuk membumikan moderasi islam, maka saya optimis poros wasathiyah Islam dunia akan menjadi arus utama, akan memberikan harapan bagi dunia yang aman, damai, sejahtera dan berkeadilan” .

Apa sebenarnya makna “Islam moderat”, yang kadang disamakan dengan istilah “ummatan wasatha”?

Istilah moderat berasal dari bahasa Latin ‘moderare’ yang artinya “mengurangkan atau mengontrol”

Kamus The American Heritage Dictionary of the English Language mendefinisikan moderat sebagai (1) not excessive or extreme (tidak melampaui/ekstrim) (2) temperate (sederhana) (3) average; mediocre (purata, sederhana) (4) opposed to radical views or measures (berlawanan dengan radikal dari segi pendapat-pendapat atau langkah-langkah).

Tidak sedikit kaum Muslimin yang beranggapan bahwa ide Islam Moderat sejalan dengan Islam. Mereka berpandangan bahwa pemahaman dan praktek Islam yang terlalu ketat bertentangan dengan Islam. Mereka berargumentasi bahwa benda secara empirik memiliki dua kutub yang kontradiktif, dan bagian tengah merupakan titik keseimbangan, keadilan dan keamanan dari dua kutubnya. Ini merupakan posisi paling baik. Ini pula yang dimiliki oleh Islam yang mengajarkan sikap moderat dalam segala hal baik berupa keyakinan, syariat ibadah, akhlak dsb. Lebih dari itu mereka menggunakan sejumlah ayat al-Quran yang dipandang menyerukan jalan tengah. Salah satunya adalah firman Allah SWT yang artinya “Demikianlah kami jadikan kalian ummat yang wasath[an]”.

Sepintas gagasan ‘Islam Moderat’ merupakan gagasan yang seolah-olah positif. Akan tetapi, setelah ditelusuri, kampanye ‘Islam Moderat’ tidak lepas dari peristiwa WTC 11 September 2001, di mana kelompok Muslim dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Akhirnya umat Islam menjadi tertuduh, dan diciptakanlah istilah ‘Islam radikal’ untuk menggiring kaum Muslim agar menerima istilah ‘Islam Moderat’.

Dari berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat, akan kita temukan bahwa yang mereka maksud ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang tidak anti Barat, Islam yang tidak bertentangan dengan sekulerisme Barat. Islam Moderat adalah Islam sekuler, yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat, tidak menentangnya. Kelompok yang disebut ‘Islam Moderat’ ini mereka anggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra Barat. Muslim Moderat dipandang sangat cocok untuk hidup damai dengan seluruh orang di dunia.

 Contoh terkini dari pemahaman Islam moderat adalah apa yang dicanangkan oleh oleh Muhammad bin Salman, putra mahkota yang merangkap menteri pertahanan termuda Arab Saudi , mencanangkan “ Saudi Vision 2030” yang akan merombak kebijakan ekonomi, pendidikan hingga kebudayaan. Di bidang ekonomi Saudi akan melakukan privatisasi aset-aset vital, penerbitan hutang obligasi dengan riba, penjualan aset negara dll. Dibidang kebudayaan, Saudi akan disulap menjadi daerah industri pariwisata dan industri hiburan. 

Di tanah air beberapa waktu lalu digelar KTT Ulama dan Cendekiawan Muslim seluruh dunia juga dalam rangka mempromosikan Islam moderat.  Hal itu tercermin dari pernyataan utusan khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsudin. Beliau mengatakan “ konsultasi tingkat tinggi ini diharapkan dapat mendorong gerakan bersama Islam moderat di dunia sekaligus menyingkirkan wawasan Islam yang bersifat Fundamentalis, ekstrimis dan radikalis yang belakangan menyebabkan krisis peradaban. “Memang tidak ada solusi bagi problematika peradaban dunia kecuali dengan wasathiyah islam. Tidak terjebak pada radikalisme, fundamentalisme dan ekstremisme”.

Ide Islam Moderat pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekulerisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat. Ide ini menyerukan untuk membangun Islam yang bersifat terbuka dan toleran terhadap agama lain dan budaya. Gagasan Islam Moderat mengabaikan sebagian ajaran Islam yang bersifat qath’i seperti  kewajiban berhukum dengan hukum syariah misalnya.

Allah SWT berfirman yang artinya : “ Dan Kami telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu ..........“ (T.Q.S al-Maidah ayat 48).

Ide Islam moderat merupakan pemahaman yang tidak datang dari Islam dan tidak dikenal dalam Islam. Pemahaman ini justru berkembang pasca diruntuhkannya negara Khilafah yang mendapat dukungan Barat. Tujuannya tidak lain agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dieliminasi dari kaum Muslimin dan diganti dengan pemikiran dan budaya Barat. Islam dengan berbagai labelnya seperti ‘Islam Indonesia’, atau ‘Islam Timur Tengah’ sebenarnya sama dengan istilah ‘Islam Radikal’, ‘Islam Militan’, ‘Islam Moderat’ atau yang lain. Pengkotak-kotakan ini sebenarnya murni merupakan strategi barat untuk menghancurkan Islam. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah ‘devide et impera” atau politik pecah belah. Dengan itu penjajahan atas kaum Muslimin dapat tetap langgeng.

Sebagai seorang Muslim tentu tidak pantas untuk terjebak pada istilah ‘Islam moderat’ atau “Islam radikal” sesuai arahan musuh Islam. Islam hanya satu yaitu  agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Sayidina Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

 Aturan Islam ini wajib diterapkan secara menyeluruh agar mendatangkan rahmat  sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah.  Maka dari itu jika kita serius mendambakan kembalinya peradaban islam sebagai solusi krisis peradaban saat ini, sudah merupakan keniscayaan untuk berjuang secara sungguh-sungguh mendirikan kembali negara Khilafah Islamiyah.

Dengan berdirinya khilafah Islamiyah maka peradaban Islam akan dapat tegak sekali lagi memimpin dunia untuk menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Krisis peradaban tak lagi terjadi, sebab ideologi kapitalis penyebab dari krisis peradaban akan musnah dengan tegaknya Peradaban islam.

Wallahu a’lam bi showab.



 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!