Monday, May 14, 2018

Marhaban Ya Ramadhan


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd



Kata "Tarhib" artinya gembira, suka, atau senang. Bergembira hati karena menyongsong bulan Ramadhan. Acara bergembira ini bisa dengan banyak hal yang dilakukan seperti waktu dulu orang-orang mengarak obor keliling kampung sambil bertakbiran. Namun, kini sudah jarang. Bagus kita semarakkan lagi penyambutan Ramadhan dengan mengadakan acara, ceramah atau kajian yang bermakna dan bernilai pahala.


Kenapa kita harus gembira menyambut Ramadhan? Karena banyak keistimewaan dengan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat tamu agung, tentunya kita sambut dengan suka cita. Marhaban ya Ramadhan!


Sebagai cerminan sikap seorang Muslim, sudah seharusnya gembira menyambutnya. Sebagaimana yang Rasulullah saw sampaikan tentang bulan Ramadhan, seperti digambarkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah: 


"Andai tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia akan berharap sepanjang tahun itu Ramadhan terus."


Banyak sekali keutamaan Ramadhan. Di antaranya, jika kita mengetahui keutamaan Ramadhan pasti kita semua mau bulan Ramadhan sepanjang tahun. Kenapa? Karena pahala akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. 


Sabda Rasulullah saw: "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari dan Muslim).


Hanya di bulan Ramadhan amalan sunah senilai amalan wajib, sedangkan yang wajib dibalas dengan tak terhingga. Hanya di bulan ini lho yang ada promo, pahala bisa berlipat hingga 10 sampai 700 kali nilai pahala. Maka makin semangat ya beribadahnya! 


Selama Ramadhan, pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat. Setan-setan semua dibelenggu, sehingga nggak bisa mengganggu manusia untuk melakukan ketaatan. Berasa makin mudah beribadah selama bulan ini, apalagi lingkungan juga mendukung sama-sama ingin berbuat taat. 


Sabda Rasulullah saw, ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)


Kemudian, orang yang berpuasa itu akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama, gembira saat berbuka puasa. Ya, setelah seharian menahan lapar bertemu dengan makanan yang lezat-lezat. Rasanya luar biasa, pengen habisin semua tapi nggak muat perutnya. Kekenyangan. 


Gembira yang kedua yaitu ketika berjumpa dengan Pencipta. Kita juga akan merasakan gembira yang sangat, bisa jadi lebih gembira lagi. Sebab, akan ditunjukkan pahala puasa, yang langsung diberikan oleh Allah SWT. 


Bagaimana cara kita menyambut Ramadhan? Bisa dimulai dengan mengetahui hal-hal yang harus kita persiapkan. Khususnya terkait tsaqofah seputar bulan Ramadhan. 


Kita sudah tahu yang menjadikan sahnya puasa kita ada dua. Pertama, niat. Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan. Niat untuk berpuasa di lakukan di malam hari. Kemudian, menjaga diri dari hal yang membatalkan yaitu kebutuhan perut dan kebutuhan di bawah perut (kemaluan). Batas menahannya mulai habis waktu imsak sampai tenggelam matahari selepas bedug. 


Itu saja? Ternyata ada hal lain yang juga perlu kita perhatikan. Karena Islam agama yang sempurna mengatur urusan manusia. Aturan Islam mengatur hubungan manusia untuk ibadah kepada Allah SWT, seperti tata cara ibadah puasa. 


Selain itu, Islam mengatur juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti makanan, pakaian, akhlak. Bagaimana kita bersikap dengan diri kita selama puasa, seperti akhlak menahan diri dari berkata kotor, berbohong, dan berperilaku tidak baik, yang dapat mengurangi pahala puasa. 


Kemudian, Islam juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain. Biasa disebut sebagai mu'amalah, ini yang paling banyak porsinya. Seperti bagaiman mua'malah kita untuk berjanji, berjual-beli supaya bebas dari riba, melakukan dakwah, memutuskan urusan negara, dan lain-lain. Selama berpuasa kita jangan mengabaikan hal ini juga. Haruslah pula kita lakukan sesuai tuntunan syariah. 


Spiritualitas umat Islam pada bulan Ramadhan memang meningkat. Namun, harus hati-hati jangan sampai sekularisasi Ramadhan terjadi. Menjalankan ketaatan hanya pada sebagian, bahkan memisahkan banyak aturan agama dari kehidupan. 


Seperti apa bentuknya? Yaitu, hanya sibuk memperbanyak ibadah dalam perkara ritual saja. Ketika beribadah ritual (shalat, misalnya) begitu memperhatikan hukum syariah seputar shalat. Namun, di luar itu (ketika berdagang, memutuskan perkara, berpolitik, memerintah dan sebagainya) hukum-hukum syariah tersebut diabaikan, bahkan ditinggalkan. 


Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (TQS. Al-Baqarah: 183).


Ingatlah, bahwa salah satu tujuan puasa adalah mewujudkan ketakwaan. Dan tidak cukup itu hanya bagi diri sendiri saja. Tapi, kita juga ingin teman-teman kita bertakwa. Orang yang disekitar kita, yang kita sayangi bertakwa. Ingin pula masyarakat yang terjaga ketakwaannya. Serta, negara yang bertakwa. 


Agar bisa bertakwa maka mestilah kita semua melakukan yang diperintahkan Allah SWT dan meninggalkan yang dilarang-Nya. Baik individu, keluarga, masyarakat, atau negara, semuanya kudu memakai aturan syariah. Menerapkan seluruh hukum Islam di tengah kehidupan secara kaffah. 


Bagaimana kita bisa tahu semua hukum Islam tersebut? Karena itulah penting bagi kita semua untuk mencari tahu. Mencarinya dengan menuntut ilmu. 


Dari Anas bin Malik ra  bahwa Rasulullah saw bersabda: "Menuntut ilmu wajib hukumnya atas setiap-tiap muslim.” (HR Ibnu Majah).


Hendaknya kita menyambut Ramadhan dengan membekali diri dengan ilmu, baik sebelum, pada saat maupun sesudah Ramadhan. Maka, ayo tingkatkan semangat ngaji Islam di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.


Selain itu, semoga bulan Ramadhan kali ini bagi kita bisa menjadi momentum, saat yang tepat untuk melakukan muhasabah dan perbaikan diri. Agar lebih bermakna yuk kita tolak sekularisasi agama, dan bilang yes pada syariah Islam! Jadikan bulan Ramadhan sebagai saat untuk membangkitkan taraf berfikir umat dan makin memupuk kerinduan akan penerapan syariah Islam.[]


*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Penulis dari Komunitas "Muslimah Banua Menulis." Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.









Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!