Wednesday, May 9, 2018

Majelis Ta'lim Asy-Syifa "Ramadhan yang Dinanti, Raih Taqwa yang Hakiki"


Tak kurang dari 60 orang ibu-ibu dan remaja putri mengisi ruang aula Mesjid Al-Minah, Kandangan, HSS. Mereka mengikuti kajian inspiratif bersama MT As-Syifa dengan tema "Ramadhan yang Dinanti, Raih Takwa yang Hakiki," (06/05/2018).


Acara dimulai sekitar pukul 09.00 Wita dengan membaca surah Yasin bersama. Seluruh peserta pun penuh khidmat mengikuti rangkaian acara. Kemudian, acara diteruskan dengan penyampaian materi oleh Ustadzah Ummu Atikah. 


"Pasti harus ada persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Persiapan itu akan lebih optimal dilakukan dan dijalankan dengan terlebih dahulu mengetahui keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan tersebut. Penting kita memaknai Ramadhan. Agar tidak hanya sebagai bulan untuk berpuasa. Ada makna lainnya yang sudah diajarkan oleh Rasulullah, " terang Ustadzah Ummu Atikah, pengasuh MT Asyifa. 


Bulan Ramadhan memiliki banyak makna, bisa dimasukkan ke dalam delapan hal. Yang pertama, Ramadhan adalah bulan puasa. Di mana setiap kaum muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Kesungguhan ibadah puasa ini, terkait dengan perbuatan dan hati, yang pahalanya langsung dibalas oleh Allah SWT. 


Kedua, Ramadhan adalah bulan latihan takwa. Di bulan ini, diserukan bagi orang-orang yang beriman untuk memperbanyak ibadah, khususnya shaum. Setan-setan dibelenggu, dan pintu surga dibuka. Setiap amal kebajikan akan dilipat gandakan, hingga 70 kali lipat. Dengan ketakwaan dan ketaatan yang dilakukan tersebut akan membersihkan hati dan menjauhkan dari perbuatan dosa. 


Ketiga, Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an. Bulan diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. Bagaimana sikap terhadap Al-Qur'an? Haruslah terealisasi dengan memperbanyak membaca, menghafal, mempelajari, mentadaburi, mengamalkan seluruh isinya, dan menyampaikan kandungannya tersebut kepada keluarga, teman dan orang sekitar, terutama selama bulan Ramadhan. 


Keempat, Ramadhan adalah bulan ampunan. Manusia sering lupa, merupakan tempat salah dan khilaf. Maka, bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah, bahwa permulaan Ramadhan merupakan rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah keselamatan dari api neraka. Diampuni dosa yang telah lalu, dan kembali pada kesucian saat idul fitri. 


Kelima, Ramadhan adalah bulan kesabaran. Sabar, tidak berdiam saja namun berikhtiar dalam memperbaiki keadaan. Sabar menjauhkan diri dari bermaksiat. Dan sabar menghadapi ujian dan cobaan dalam ketaatan. Balasan bagi sabar adalah surga. 


Keenam, Ramadhan adalah bulan jihad. Jihad, yakni berperang untuk memuliakan agama Allah SWT. Hingga cahaya Islam bisa diterima oleh seluruh manusia. Rasulullah saw selaku kepala negara, para sahabat, dan para khalifah setelahnya melakukan berbagai ekspedisi. Diantaranya, perang Badar, penaklukan kota Mekkah, perang Tabuk oleh kaum Muslim dengan Romawi, dan lain sebagainya. Semua dilakukan, selama bulan Ramadhan dan berhasil meraih kemenangan. 


Ketujuh, Ramadhan adalah bulan persatuan. Sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali-Imaran ayat 103, "Berpegang teguhlah pada tali agama Allah dan jangan bercerai berai." Banyak ibadah yang bisa menyatukan kaum Muslimin, seperti penentuan awal Ramadhan, ibadah tarawih dan buka puasa bersama. Termasuk kegiatan yang dapat mempersatukan kaum Muslim dengan mendatangi pengajian dan menuntut ilmu lebih giat. 


Kedelapan, Ramadhan adalah bulan dakwah. Ketika Ramadhan sudah tersuasanakan dalam ketaatan untuk mendekat kepada Allah SWT. Momen ini menjadi kesempatan untuk mendakwahkan ajaran Islam secara menyeluruh. Terlebih, dakwah adalah kewajiban dan diperintahkan oleh Alah dan dicontohkan oleh Rasulullah. 


Disesi tanya-jawab di antara para peserta, seorang ibu pun bertanya, "Bagaimana membiasakan ibadah puasa bagi anak-anak yang masih kecil dengan memberikan uang? Kemudian, bagaimana mengingatkan terhadap orang-orang yang sudah dewasa tapi tidak mau berpuasa?"


"Mendisiplinkan anak menjadi kewajiban orang tua. Boleh saja mengajak dan mengajarkan anak berpuasa dengan memberikan hadiah. Namun, kurang bagus bila terus-menerus, sebab anak akan terbiasa dalam beribadah untuk mendapatkan upah. Perlu sambil diberikan penjelasan kepada anak bahwa kita sedang menjalankan ibadah puasa karena Allah, dan nanti Allah SWT yang akan membalasnya di surga," jawab pemateri. 


"Memang banyak kita temui orang yang tidak berpuasa saat ini, padahal mampu dan tidak ada uzur syar'i. Bisa karena faktor tidak tahu, malas, atau godaan sehingga tidak mau puasa. Hal ini karena memang hari ini masih tidak ada hukumannya yang sesuai syariat untuk membuat mereka kembali taat. Sehingga, harus ada orang di sekitarnya yang selalu mengingatkan. Kemudian, bersama-sama masyarakat harus terus menyuarakan keinginan untuk diatur dan dimudahkan dalam beribadah sesuai syariah," pesan Ustadzah Ummu Atikah mengakhiri pembahasan.[NAn]











Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!