Tuesday, May 8, 2018

Lisan Setajam Pedang



Oleh : Linda Wijayanti 


Matahari suam-suam kuku. Burung bersijingkat di dahan girang bersiulan. Di sudut rumah Mak Siti, tungku telah penuh dengan bara api sedari orang-orang masih tenggelam di pulau kapuk. Di atasnya, panci menghitam. Nasi pun siap disantap dalam hitungan menit. Sedangkan urapan, ikan asin dan telur telah memamerkan diri di meja makan.


Di luar, Mak Siti tengah berkutat dengan wajan dan perlengkapan masak lainnya. Memastikan tak ada yang terlewatkan dari usapan spons di tangannya. Tiba-tiba, aliran air beringsut surut. Saat Mak Siti mengucurkan air di atas perlengkapan masaknya.


"Ada apa ini? Kok tidak mengalir? Habiskah? Masya Allah," cerocos Mak Siti memeriksa selang air.


"Kebiasaan. Jam segini air kering. Pasti kerjaannya si Sri. Sejak dia di sini, rasanya air susah ngalir ke tempatku." Secepat kilat, langkah kaki Mak Siti telah sampai di sumber air. Banyak selang-selang tertancap. Namun tak satupun air yang mengisi tenggorokan selang Mak Siti. Kebetulan si Sri, tetangga baru Mak Siti tengah menimbang-nimbang selang air.


"Wah, bener to dugaanku. Pasti ini ulah kamu, Sri. Tak rasakan kok kamu tambah keterlaluan, yo." 


"Ada apa to, Mak? Dateng kok sambil bersungut-sungut gitu," Sri menimpali dengan wajah datar. 


"Kamu itu, lho. Ga tau apa aku lagi nyuci. Malah selang airku kamu cabut." 


"Sek, Mak. Bentar. Kalau kemarin dan lusa memang saya yang nyabut. Butuh air banyak karena saya kan berdagang. Tapi kali ini bukan saya, Mak. Saya baru saja datang." 


Mak Siti terlanjur menekuk muka. Raut muka masam tak terelakkan disuguhkan kepada Sri yang ada di hadapan. 


"Ah, aku tidak percaya. Kamu itu gitu kok orangnya. Ga mau berbagi. Kemarin-kemarin saja selangku kamu cabut hingga aku kelabakan. Macam orang berdasi saja kamu, Sri. Main cabut-cabut tanpa permisi. Sudah, jangan mengelak," desak Mak Siti naik pitam. Mencabut selang si Sri.


"Beneran, Mak. Bukan saya," tukas Sri menengadahkan mata memelas.


"Ada apa ini. Kok telingaku jadi gatal denger suara berisik kalian," potong Mbah Jasmi menimpali. 


"Ini, Mbah. Si Sri berulah lagi. Kemarin dan kemarin lusa. Juga sekarang nyabut selang saya," tandas Mak Siti.


"Bukan saya, Mbah," ujar Sri. 


"Hmm, udah to. Kalian salaman. Ga baik kayak gini. Kan kalian tetanggaan. Musti berbagi. Jaga lisan jangan saling menyakiti," ujar Mbah Jasmi menasehati.


Mak Siti dan Sri diam seribu bahasa. Saling melemparkan lara pada mata. 


"Sudah. Tetanggaan itu yang rukun, to. Jangan sampai tetangga kita sakit karena tingkah dan omongan kita," ucap Mbah Jasmi ringan. Sri dan Mak Siti saling memasang kuda-kuda. 

"Sudah. Baikan. Wong aku kok yang nyabut selangnya tadi. Lagi tak buat ngisi kolahku. Udah salaman. Kayak anak PAUD yang berebut mainan saja," tandas Mbah Jasmi senyum-senyum. 


Mak Siti dan Sri saling pandang. Menahan ledakan tawa di dada. Mata yang saling melempar luka berubah hangat. Pipi tersungging. Tangan pun saling bertangkupan.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!